
Malam ini aku memutuskan untuk tidur di rumah sakit menemani Dena. Mas Rian aku suruh untuk pulang karena sudah dua malam ini dia menemani Dena disini. Gurat wajah lelahnya menjadi penanda bahwa pria itu memang menjaga istriku dengan baik. Kakak yang baik!
Dan selama ini ternyata dia lah yang selalu merawat dan menemani Dena di rumah sakit, sedangkan aku, suaminya, tidur dengan nyenyak di rumah keduaku, rumah Lily. Suami macam apa aku ini! Alasan Dena keluar kota selama ini adalah berkunjung untuk menginap di hotel kesakitan ini!
Dena sudah lebih baik, meskipun selang infus dan oksigen masih terpasang di tubuhnya, tapi dia lebih segar sekarang. Aku menyuapinya dengan perasaan haru.
Kanker yang pernah hinggap pada dirinya ternyata kini kembali lagi. Operasi yang pernah di jalaninya dulu ternyata hanya bisa memperpanjang masa hidupnya. Hingga akhirnya Dena menyadari kesakitannya dua tahun yang lalu. Dan semuanya sudah terlambat, itu yang Dena katakan.
Aku terdiam mendengarkan cerita Dena. Tidak ada sedikitpun air mata yang keluar, bahkan dengan penuh senyuman Dena menceritakannya. Lihatlah betapa kuatnya istriku ini.
"Mas janji gak boleh nangis lagi, oke?!" Aku mengangguk dan berjanji meskipun rasanya berat. "Aku aja bisa kuat, kenapa mas gak bisa?"
"Jadi alasan kamu nikahin aku sama Lily apa karena ini?" Dena tertunduk, lalu kemudian menatap mataku dan mengelus pipiku lembut. Tersenyum lagi.
"Iya, selain itu aku juga ingin anak mas. Aku gak tahu kapan aku akan punya anak buat kamu. Aku gak tahu apa sebelum aku tiada aku bisa memberi kamu keturunan."
Sakit rasanya mendengar keinginan Dena. Aku benar-benar menghianati keinginannya!
"Semoga saja sebelum aku tiada kamu punya kabar bahagia meski aku gak akan pernah bisa melihat bayi kalian!" perkataan Dena sangat menohok diriku. Aku bukan suami yang baik!
"Gak Na, kamu pasti sembuh sayang!" ku elus pipi tirusnya. "Aku janji akan carikan dokter terbaik. Kita akan punya anak yang banyak."
"Mas janji ya akan jaga Lily..."
"Kamu bilang gitu seakan kamu akan ninggalin aku. Tega kamu Na?!" aku setengah berseru. Mataku benar-benar panas sekarang! Ku dongakan kepalaku ke atas agar air mata ini tidak jatuh kembali. Seakan Ddna sudah menyerah dengan penyakitnya ini.
Dena mengelus tanganku lembut mencoba memberikan ketenangan disana.
"Gimana kalau aku ingat lagi sama dia? Kamu tahukan kalau gak ada kamu aku bisa gila karena dia?" aku mencari alasan yang sebenarnya memang itulah yang aku takutkan.
"Kamu kekuatan aku sampai aku bisa sejauh ini, Na."
"Kalau begitu kamu harus cari dia, mas." ucapannya memotong kata-kata ku.
"Jangan pedulikan bagaimana keadaannya saat ini, apakah dia sudah bersama orang lain atau bahkan dia sudah lupa sama mas Bima. Mas hanya pastikan dia bagaimana sekarang. Mas hanya harus melihat dia, dan coba bicara sama dia kan? Cuma dia yang bisa buat mas sembuh dari bayang-bayangnya." Aku masih terdiam.
"Na yakin mas akan tenang kalau sudah ketemu sama dia. Dia gak akan ganggu lagi!" Ucapan Dena sangat meyakinkan seakan dia cenayang yang tahu akan segalanya.
"Aku gak mungkin ninggalin kamu."
__ADS_1
"Ada mas Rian, dan Lily."
"Lily sudah tahu?" Dena mengangguk. Kenapa Lily juga merahasiakannya dariku?
"Aku meminta Lily merahasiakannya dari Mas Bima. Maaf!"
Aku menyugar rambutku rasanya dunia tidak adil padaku. Semua orang menutupinya. Kenapa?
"Kamu harus secepatnya cari dia mas. Aku janji aku akan tunggu kabar baik dari mas saat kembali kesini."
***
Empat malam sudah aku tidur di rumah sakit. Dena marah karena akhirnya aku memberitahu keluarganya maupun keluargaku. Semua orang larut dalam kesedihan. Tapi ku rasa ini lebih baik daripada dia harus merasakan kesakitannya sendirian.
Berat sekali saat-saat yang aku lalui sekarang.
Malam ini aku pulang ke rumah Lily, paksaan dari Dena. Dena bilang kasihan Lily juga butuh perhatian. Padahal Dena kan yang harus ku perhatikan lebih sekarang, mengingat dia butuh banyak orang yang menyemangati!
Lily sedang berada di dapur, entah sedang apa, tapi dari suaranya dia terdengar seperti merintih kesakitan. Duduk di depan meja makan dengan sebuah kotak, seperti kotak P3K.
Terlihat dia sedang mengokeskan sesuatu pada siku lengan kirinya lalu meniupi nya perlahan.
"Jatuh mas. Aww. Sakit." ringisnya saat aku mengusap luka lecet itu. Kedua siku dan lutut Lily lecet. Aku membersihkanya dengan hati-hati.
Baru aku sadar kalau Lily ternyata masih pakai baju kerja, apa dia baru saja pulang? sedangkan jam kantor berakhir pada tiga jam yang lalu. Kemeja putihnya terdapat bercak kotoran seperti tanah basah. Tapi hari ini dia gak pakai motor kan? bagaimana bisa celaka?
Selesai dengan kedua tangan dan kakinya.
"Kenapa bisa jatuh?"
"Hehe, Lily gak se..."
"Hei, kenapa muka kamu?" baru aku sadari kalau mukanya juga lebam, seperti dia baru saja di tampar atau di pukul di bagian wajah.
"Itu anu..em.."
"Kamu di pukul orang?" Lily hanya menunduk lalu sedetik kemudian dia mengangkatnya lagi dan tersenyum. Ih anak ini aku khawatir tapi dia malah cengengesan, dasar!! aku berdiri dan mengambil lap bersih dan beberapa butir es batu dari dalam kulkas.
"Um tadi... Lily bantuin orang tapi malah gini." ucapnya.
__ADS_1
"Bantuin apa yang bikin kamu lebam gini?"
"Aww pelan-pelan dong mas, sakit ih! "serunya saat aku menempelkan kompresan es batu ke pipinya. Pelan padahal, dasar cengeng! Lalu ku gerakan tanganku lebih pelan lagi.
Lily bercerita bagaimana kronologi sampai dia mendapatkan luka seperti ini. Intinya dia membantu menolong seseorang wanita yang sedang di rampok. Dasar Lily, harusnya dia minta bantuan orang lain kan bukannya bertindak sendirian!
"Gimana kalau kamu celaka huhh!" aku sedikit membentaknya, tapi yang di bentak hanya nyengir persis seperti kuda.
"Kamu bisa kan minta tolong sama orang lain? Gimana kalau dia bawa senjata tajam?" aku sedikit emosi jadinya tidak sengaja menekan kompres di pipi Lily dengan sedikit kencang membuat gadis itu kembali memekik.
"Lily panik tadi mas, jadi gak kepikiran kalau minta bantuan orang!"
"Sini ah, Mas Bima mah bukannya bikin sakit Lily reda malah tambah sakit." ucapnya lalu merebut kompresan dari tanganku.
"Maaf." sesalku. "Tapi kamu gak ada yang sakit kan?"
"Ya ini yang sakit!" tunjuknya pada siku dan lututnya.
"Maksudnya yang lain? Dia gak celakain kamu kan?" Lily menggelengkan kepalanya.
"Tapi uang cash sama hp Lily dia bawa."
"Ya sudah, yang penting kamu selamat."
"Gimana keadaan mbak Dena?" tanya Lily kemudian.
"Masih belum ada perkembangan berarti. Dena menolak untuk berobat ke luar negeri." lalu kami terdiam. Lily masih menempelkan kompresan di pipinya tapi pandangannya menerawang ke tembok, seperti bisa melihat sesuatu yang ada di balik tembok itu.
Aku mengambil kain yang menempel di pipi Lily, sudah lumayan tidak terlihat bengkak seperti tadi. Lily terkejut saat aku mengelus pipinya yang pasti masih terasa sakit. Tiba-tiba saja wajahnya memerah.
"Ya, sudah sana mandi terus tidur. Sudah makan belum?" Lily menggelengkan kepala. Wajahnya bingung seakan heran karena aku menanyakan hal itu? Ya wajar lah seingatku memang aku tidak pernah bertanya soal makan padanya.
"Aku buatkan mie instan ya?" Lily tersadar entah dari mana lalu mengangguk dengan senyum merekah. Aku bangkit dan menuju pantry.
"Mas!"
"Ya?" Aku membalikan setengah badanku.
"Pake telur, ya!" pintanya.
__ADS_1
"Spesial?" dia mengangguk. "OK!" seruku dengan membulatkan telunjuk dan jempolku.