Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 170


__ADS_3

Harusnya hari ini Adit pulang ke Jakarta, mengingat sudah seminggu ini dia berada disana.


"Beneran gak pa-pa?" tanya Lily saat Adit bersikeras mengantarnya lagi ke kantor.


"Biarin aja, ada papa juga disana. Lagian mas Adit juga masih kangen mama, sama kamu juga." Adit menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah dengan cepat beberapa kali.


"Ih awas aja kalau mau genit-genitan, sana cari calon istri!" Lily mendengus kesal karena dengan adanya Adit dia jadi merasa terkekang, tidak boleh ini, tidak boleh itu, kemanapun Lily pergi harus dalam pengawalan Adit.


"Mas Adit kan tadinya punya calon istri, tapi gak jadi!" ucapnya kesal lalu kembali fokus mengemudi dan membelokan mobil ke pelataran kantor Lily.


Lagi, Adit membukakan pintu untuk Lily. Lily menyambut tangan Adit yang terulur untuk membantunya.


"Ah ya, besok mas Adit mau pulang. Mas Adit akan kasih kamu satu permintaan, siapa tahu kamu atau baby pengen sesuatu?" Ucap Adit setelah menutup pintu. Lily menyimpan satu telunjuknya di depan dagunya seraya berfikir.


"Oke! Lily pengen sedari dulu tapi nggak kesampean!"


"Apa?"


"Rahasia!" ucap Lily sambil memiringkan kepalanya dengan senyum yang mencurigakan.


Jangan sampai yang aneh.


Jangan sampai yang aneh! batin Adit berdoa.


"Ya udah, Lily masuk dulu ya. Makasih udah anterin Lily mas."


"Eit tunggu dong." tahan Adit pada tangan Lily.


"Belum pamit sama baby." Adit mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah perut Lily.


"Hai baby, jangan nakal oke. Jangan buat mama kamu kesakitan. Awas kalau kamu bikin mama repot, om akan cium kamu seribu kali!" seakan mengerti dengan yang di bicarakan Adit, sang jabang bayi menendang pelan tangan Adit yang mengelus perut Lily.

__ADS_1


Adit menegakan kembali tubuhnya.


"Oke, sayang. Selamat bekerja." ucap Adit lalu mengacak rambut Lily seperti biasanya, dan sebelum kena semprot Lily dia sudah beranjak pergi.


Lily merengut sambil merapikan rambutnya, lalu membalas lambaian tangan Adit dari dalam mobil sebelum kakak sepupunya itu pergi. Kemudian Lily berjalan ke dalam gedung perkantoran, tanpa ia sadari ada seseorang yang mengepalkan tangannya melihat interaksi dia dengan Adit barusan.


*


Sore menjelang. Waktunya Lily pulang, dan Adit dengan tepat waktu menjemput Lily.


"Kita mampir ke suatu tempat dulu ya." ucap Lily.


"Kemana?"


"Udah, nanti Lily tunjukin jalannya."


"Oke!" Tanpa bertanya lagi Adit menurut saat Lily menunjuk ke arah mana harus berbelok.


*


Lily tersenyum dan mengangguk, sementara sang mama menutupi mulutnya yang hampir saja menyemburkan tawa.


"Yang benar aja, Ly!" protes Adit, sekarang dia tahu dan menyesal karena telah menawarkan diri.


"Loh kan katanya tadi mau nurutin semua yang Lily minta. Ayo mas!" rengek Lily. "Udah untung juga gak Lily bawa keluar! Tadinya malah Lily mau ajak mas Adit main di taman pake baju itu." Mata Adit membelalak, ia hendak mengajukan protes.


Puspa, sang mama akhirnya tidak bisa menahan tawanya, meledak, hingga membuat Adit tambah cemberut.


"Udah sana, turutin! Belajar, nanti kalau kamu punya istri yang lagi hamil."


Adit akhirnya mengalah, masuk ke dalam kamarnya, hampir dua puluh menit untuk bersiap-siap. Tersenyum geli dengan penampilannya sendiri, wajahnya sudah tertutup cat yang ia buat semirip mungkin dengan badut yang tersenyum lebar. Dan jangan lupakan hidung bulat berwarna merah.

__ADS_1


"Ya Tuhan, tolong buat Adit lebih ganteng seratus kali lipat setelah ini." ucap Adit sambil terus menatap dirinya di cermin.


Adit keluar dengan membawa selimut untuk menutupi dirinya, malu sudah pasti! Tapi demi Lily dan keponakan tersayangnya.


"Ayo mas, buka dong!" seru Lily, yang tak sabar ingin melihat penampilan Adit. Begitu juga dengan sang mama yang terus meneriakan namanya.


Lily dan Puspa tergelak melihat penampilan Adit yang akan memulai show-nya. Sedangkan Adit terus merengut, dan bersiap saat Lily memutarkan video Blackpink dengan lagu Du Du Du untuk memandu dirinya menari.


Lagu di mulai, dan Adit sudah meliukan badannya mencoba semirip mungkin dengan video di depannya. Sialnya, Lily merekam dirinya yang sedang menari.


"Dasar si Bima, dia yang buat, gue yang repot!" dengus Adit dalam hati.


Lily dan sang mama terus tergelak sesekali mengusap air matanya saat sebuah gerakan malah terlihat seperti anak ayam yang mengepakan sayapnya.


"Dasar! Kalau aja bukan karena ngidam yang gak keturutan, Adit mah ogah! Dasar Bima! Gue harus buat perhitungan karena permintaan anak elo!" batin Adit menjerit. Ia sangat malu, tapi juga bahagia ketika melihat Lily tertawa sangat lepas sambil mengelus perutnya.


"Udah, udah." seru Lily tidak tahan, rasanya kalau Adit meneruskan ia bisa saja mengompol disana.


"Belum selesai kan? Tanggung!" ucap Adit masih meliukan tangannya ke atas, pinggulnya bergoyang ke kanan lalu ke kiri. Yeee malah Adit yang keenakan nari dia!


Raut muka Adit yang lucu membuat Lily semakin tidak tahan, ingin tertawa keras tapi desakan di bawah perutnya sudah tidak bisa ia tahan. "Udah, aduh Lily pengen pipis." Ucap Lily lalu dengan cepat mematikan video dan sedikit berlari ke arah kamar mandi, tidak menghiraukan ucapan mama Puspa yang berteriak khawatir.


Lily kembali ke sofa, di wajahnya masih terdapat senyum geli yang tidak bisa ia hentikan. Sedangkan mama Puspa sedang menyiapkan makanan di dapur sesaat setelah tadi Lily pergi ke kamar mandi.


"Udah deh! Harga diri mas Adit, ya ampun!" Adit menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa saat melihat tingkahnya di dalam video. Menggelikan. Menjijikan.


"Awas aja kalau di masukin ke medsos!" ancam Adit.


"Emang Lily mau posting kok!" Lily merebut hpnya dari tangan Adit, lalu dengan cepat menggerakkan ibu jarinya. Terlambat sudah! Adit tidak bisa berbuat apa-apa lagi!


"Tenang aja, orang lain juga gak akan kenalin mas Adit kok. Lagipula medsos Lily juga gak ada foto pribadi Lily." Lily memperlihatkan semua foto yang ada di medsos nya. Meskipun begitu Adit tetap saja akan merasa malu, apalagi kalau video itu menjadi viral nantinya.

__ADS_1


"Makasih mas Adit udah mau nurutin maunya Lily. Maunya baby." lirih Lily kemudian. Adit menyadari kalau nada suara Lily berubah. Lily menunduk dengan mata yang berkaca-kaca sambil melihat kembali video yang tadi ia rekam, sambil mengelus perutnya. Adit tidak berbicara, hanya merangkul pundak Lily dan mengusapnya pelan. Ia bisa menebak isi dalam fikiran Lily, bukan dia yang seharusnya ada dalam video itu.


__ADS_2