
"Kamu baik-baik aja kan, Na?" suara Bima mulai terdengar khawatir dari luar. Dena membuka kran air di wastafel, ia mencuci wajahnya lalu mengelapnya wajahnya dengan menggunakan tisu.
"Udah ini mas, lagi cuci tangan!" seru Dena.
***
Dena Abigail Usman.
Suara ketukan di pintu membuat aku menguatkan diriku. Ku coba untuk berdiri walau dengan menopang tubuhku pada kran air. Rasanya sakit sekali. Tapi kalau aku tidak keluar dari sini, Mas Bima pasti khawatir.
Mas Bima sudah memanggilku beberapa kali, suaranya terdengar khawatir.
"Udah ini mas, lagi cuci tangan!" seruku sambil membuka kran air di wastafel. Aku mencuci wajahku dan dengan cepat mengelapnya dengan tisu. Membubuhkan bedak tipis dan sedikit perona merah di wajahku, lalu selanjutnya lipstik dengan warna yang sama seperti sebelumnya, aku tidak mau wajah pucat ku membuat Mas Bima khawatir.
"Kamu lama banget!" protesnya saat aku membuka pintu kamar mandi. Aku hanya menampilkan cengiran khasku seperti biasanya walaupun dengan susah payah aku menahan rasa sakit ku ini.
__ADS_1
"Hehe. Nunggu lama ya?" tanyaku sambil keluar dari dalam sana dan menutup pintunya perlahan.
"Aku kira kamu pingsan tadi!" kekehnya.
Aku mengikuti Mas Bima ke ruang tamu, duduk disana berdua sedangkan Lily masih di kamar.
"Lily tidur, mas?"
Mas Bima hanya mengangkat kedua bahunya. Aku melotot, bagaimana dia bisa setenang itu saat Lily sakit?
"Mas, aku udah bikin bubur buat Lily, dan aku juga udah masak buat kamu makan malam. Mas jagain Lily malam ini ya. Kasihan dia gak ada temennya di rumah!" kataku yang sebenarnya adalah perintah untuknya. Mas Bima semakin mengerutkan keningnya. Bibirnya sudah akan bergerak lalu terdiam karena aku dengan cepat kembali berbicara.
"Aku gak bisa nemenin Lily, karena aku harus membuat desain baju pengantin buat mbak Yana."
"Yana?" Mas Bima terlihat berfikir, seolah mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Itu, pemilik cafe n resto Sunshine." aku menjelaskan.
Mas Bima menganggukan kepalanya, keningnya sudah tidak berkerut lagi.
"Bisa kan, mas? Na minta tolong ya!" pintaku lagi. Sekarang mas Bima terdiam. Bibirnya mengerucut tanda protes, tapi tidak berani berbicara.
Mas Bima meraih tanganku, lalu menarik tubuhku dan memposisikan aku untuk duduk di pangkuannya. Aku hanya menurut, membiarkan dia menyimpan kepalanya di pundak kiriku. Kedua tangannya ia lingkarkan di pinggangku. Sebenarnya aku sudah tidak tahan, aku harus pergi sekarang juga jika tidak mau ketahuan!
"Mas, aku harus segera pergi ketemu mbak Yana. Aku udah di tunggu, mas!" ucap ku. Mas Bima tetap bergeming di tempatnya, malah semakin manja melesakan kepalanya di leherku, dan menghirup aroma tubuhku.
Aku memegang kepala mas Bima dan membingkainya dengan kedua telapak tanganku, hingga kepala mas Bima tegak sejajar dengan tubuhnya. Lalu menurunkan bingkaian tanganku ke rahangnya yang tegas. Ku pandangi wajahnya yang tampan bak model luar negeri. Dia tersenyum. Di matanya terpancar sinar kesedihan seperti enggan aku tinggalkan. Tapi aku harus!
Ku cium keningnya, lalu kedua matanya, hidungnya yang mancung, kedua pipinya, dan berakhir di bibirnya. Lama. Hingga aku Merasakan sesuatu di bawahku mengeras. Oh Iya aku lupa kalau aku sudah membangunkannya tadi pagi dan ini yang kedua kalinya tanpa ada niatku untuk mempertanggungjawabkan! 😅
"Nakal kamu! Kamu gak mau tanggungjawab, hem?" Aku menggeleng. Dan berdiri sebelum Mas Bima akan mulai melabuhkan bibirnya di bibirku. Aku tersenyum melihat wajahnya yang kesal. Wajah yang akan sangat aku rindukan bahkan setelah aku...
__ADS_1
Aku pergi tanpa pamit pada Lily, karena ku lihat Lily sedang tidur di atas ranjangnya. Aku tidak mau mengganggu istirahatnya.