Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 192


__ADS_3

Lily Aruna.


Entah berapa lama, aku disini. Hanya memandang ruang kosong hampa dan gelap. Berjalan sejauh apapun aku tidak pernah menemukan ujung atau tembok yang membatasi. Tidak ada apapun disini. Melihat ke atas pun sama. Gelap. Jika mungkin langit tentu akan ada bintang kan? tapi disini tidak! Sebenarnya aku ada dimana? Tidak ada siang ataupun malam, hanya gelap dan pekat sejauh mata memandang. Aku lebih senang di tempat ku yang kemarin dengan luasnya padang rumput hijau dengan angin yang menerpa kulitku.


Mas Azka, kenapa kamu menjatuhkan aku ke tempat seperti ini? Aku takut!


Aku hanya diam duduk meringkuk dengan memeluk lututku sendiri, wajah aku labuhkan di antara lututku. Sampai kapan aku disini?


Tidak! Jika ini di dalam ruangan, aku harus menemukan pintu! Jika ini di dalam pekatnya malam, aku harus menemukan cahaya! tekadku.


Aku kembali berdiri lalu melangkahkan kakiku, entah kemana, yang penting aku berusaha kan?


Entah sudah seberapa jauh aku melangkah, terdengar suara seseorang yang sudah lama tidak aku dengar. Tapi siapa?


Una, bangun! lalu ku dengar lagi dia seperti memohon! Kali ini dengan di iringi isak tangis. Selebar aku membuka mata tapi aku tidak melihat siapa pun padahal aku yakin suara itu dekat, sangat dekat. Ah sial! tolong siapapun nyalakan lampunya, disini gelap!


Suara itu terus menemani langkah ku, dia bilang dia rindu padaku, bahkan sejak dulu. Selalu mencariku selama ini, aku berteriak padanya menanyakan dia siapa, tapi tidak ada jawaban. Apa suaraku tidak terdengar olehnya? Aku berteriak lagi, tetap dia dengan ceritanya. Ah sudahlah mungkin dia tuli!


Lalu suara itu menghilang lagi. Begitu seterusnya hinga berulang kali.


Selama beberapa saat dia selalu menemani langkahku dengan ceritanya. Dan aku mulai terbiasa dengan suaranya yang merdu. Kadang dia tertawa, kadang dia menangis, menceritakan sebuah kisah perjalanan kehidupan seseorang. Mungkin hidupnya, entahlah.


Kadang aku protes dan bosan. Ceritakan aku tentang kisah anak kecil itu lagi. Siapa namanya? Una dan Bimbim? Ya ceritakan saja tentang mereka, aku tidak mau mendengar cerita sedih tentang seseorang yang di tigakan! Tapi memang dia tuli sepertinya dia tidak pernah mendengarkanku, hingga terus menceritakan hal yang sama.

__ADS_1


Hidup dengan cinta segitiga. Eh bukan! Empat dengan gadis cilik! Aneh!


Haha dia bodoh, mana ada yang mencintai tiga orang wanita sekaligus? Hanya salah satu dari mereka yang akan menempati hatinya kan, dan yang lain hanya pelampiasan! Aku yakin itu!


Kalau saja ada matahari dan bulan tentu aku tahu sudah berapa lama aku berjalan. Sialnya dua benda penting itu tidak pernah muncul!


Suara itu datang lagi, kali ini dia menceritakan soal anak kecil. Apa dia kenal dengan Yumna? Ah anakku, dimana dia sekarang? Aku ingin mencari dia, Yumna pasti menangis karena mungkin sudah lama aku tinggal!


Yumna mama akan cari jalan untuk pulang, nak!


Lily pov end.


***


"Kamu inget gak, Na. Waktu kamu nakutin-nakutin mas Bimbim dulu? Sumpah mas Bimbim sangat ketakutan malam itu." Dan Bima tidak hentinya bercerita, sesekali dia mengusap air matanya.


Ratih dan Adi kemarin sempat datang, tapi mereka hanya satu malam menginap, bukannya mereka tega melihat Lily terbaring dengan kondisi itu, tapi selama Bima menungguinya, perusaahaan tetap harus ada yang pegang kan? Dan tadi pagi mereka kembali lagi karena harus mengurusi beberapa pekerjaan yang Bima tinggalkan. Sore ini katanya Roman, Yoga, dan Celia akan datang bersamaan untuk melihat keadaan Lily.


Empat hari lagi, hari pernikahan Bima dengan Celia. Bima berharap waktu bisa berhenti dan membuatnya bisa berlama-lama dengan Lily! Dia bahkan ingin melihat Lily bangun dari tidur panjangnya untuk segera meminta maaf dari Lily, setidaknya jika Lily tidak memaafkan Bima akan merasa lega karena sudah meminta maaf.


*


Roman dan Yoga menatap sedih pada sosok Lily, mereka tersenyum kala mengingat kedekatan yang pernah mereka buat di masa lalu. Bagaimana keduanya, bertiga dengan Adit selalu menggoda Lily dan membuat gadis itu bersemu merah pipinya.

__ADS_1


Sedangkan Celia menatap Lily dengan pandangan yang tidak seorang pun tahu apa maksud arti dari pandangan itu. Ia tidak suka melihat Bima selalu memegang tangan Lily dengan sangat erat. Berbicara lemah lembut, kadang tertawa dan kadang mengusap air matanya. Hati Celia panas di buatnya!


"Elo harus terima gimana pun juga di hati Bima masih ada nama Lily." ucap Adit mengagetkan Celia yang hanya melihat dari jendela kaca di luar. Adit bersandar pada dinding dengan kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celana.


"Elo tahu kan selama ini Bima cari Lily kayak gimana?"


"Gue gak peduli!" ucap Celia, geram. Mood nya benar-benar buruk sedari tadi, dan Adit membuatnya lebih buruk lagi. Celia mengizinkan Bima untuk datang supaya Bima lega saat nanti mereka menikah, tapi Celia harus susah payah menahan dirinya untuk tidak menyeret calon suaminya itu pergi dari sana.


Celia berjalan menjauh dari depan ruangan Lily, Adit hanya menghela nafas melihat tunangan dari sahabatnya itu pergi dengan menahan amarah.


*


Nila baru saja turun dari taksi. Bajunya basah terkena derasnya hujan yang mengguyur Surabaya petang itu. Sudah dua hari ini dia tidak menjenguk Lily, Nila ingin tau perkembangan terbaru dari sahabatnya itu.


Nila berjalan dengan tergesa, di tangannya dia membawa buah jeruk kesukaan Lily. Ya meskipun Nila belum tahu kapan Lily akan bangun tapi ia tidak peduli. Bisa saja sewaktu-waktu Lily bangun kan?!


Nila berusaha meraih hpnya dari dalam tas, sedari tadi ia merasakan getaran dari dalam tasnya, sepertinya ada sebuah panggilan karena sedari tadi getaran itu tidak juga mau diam.


Karena tidak memperhatikan jalan, Nila menubruk seseorang hingga buah jeruk yang di bawanya terjatuh bersamaan dengan dirinya. Nila meringis kesakitan saat pantatnya mencium lantai. Buah jeruk itu menggelinding saling berpencar ke segala arah.


"Maaf! Saya tidak sengaja." ucap Nila sambil bangkit dan berjongkok untuk mengambil beberapa buah jeruk di dekat kakinya, tanpa melihat kepada orang yang di tubruknya tadi.


"Nila?!" Nila menoleh saat merasa namanya disebutkan oleh orang yang baru saja di tabraknya. Matanya membulat saat Nila melihat pria yang setengah membungkuk dan mengulurkan tangan padanya.

__ADS_1


__ADS_2