
Kata-kata yang sudah mereka siapkan dari rumah buyar seketika. Bima dan Lily sudah tidak tahu lagi apa yang harus mereka katakan karena melihat antusias Dena yang sangat besar.
"Ah ya kalian mau bicarakan apa? Apa kamu udah setuju buat tinggal sama kami?" Tanya Dena pada Lily.
"Ah? Tinggal sama mbak Dena?" Lily bingung.
"Loh, emang mas Bima gak bilang?" Lily menggelengkan kepalanya.
"Gimana sih mas. Kenapa kamu gak bilang sama Lily?" tatapan Dena beralih tajam pada suaminya.
"Lupa." ucap Bima sambil menundukan pandangannya.
"Kamu mau kan Ly?" tanya Dena.
"Lily fikir-fikir dulu deh mbak." Dena merasa kecewa dia kira pertemuan ini akan membahas soal setujunya Lily dengan permintaannya.
"Terus kalian mau bicarakan apa?"
"Ehm... anu... Lily dan mas Bima mau..."
__ADS_1
"Kami akan mengikuti program kehamilan Lily!" potong Bima yang membuat mata Lily membelalak. Dan Dena yang tersenyum senang. Mata Lily melotot pada Bima seakan protes dengan apa yang dia katakan.
"Beneran? Syukur kalau begitu. Mudah-mudahan kita akan segera punya anak ya, Ly!" seru Dena bahagia, memegang tangan Lily. Sedangkan Lily salah tingkah.
"Ah i-iya mbak." Lily mencoba tersenyum.
Mobil terus berjalan. Bima dan Lily sama terdiam sesekali menanggapi Dena yang sedari tadi terus bicara. Dia terlanjur bahagia karena Bima dan Lily akan mengikuti program kehamilan. Program yang selama ini tidak bisa membuahkan hasil untuk dirinya dan Bima.
Lily merasa bingung. Apa yang harus dia lakukan? Bertahan sampai waktunya tiba. Bisakah? Diantara mereka? Dengan memendam cinta yang hanya ia rasakan sendirian?
Sepanjang perjalanan Lily berfikir hingga akhirnya ia tertidur pada sandaran kursi.
Bima mengantar Dena terlebih dahulu ke rumah, karena jarak ke rumah Lily lebih jauh.
"Aku akan suruh bibik buat beresin kamar di atas." Dena langsung keluar sebelum Bima ingin bicara. Kenapa Bima tidak pernah bisa menolak Dena?
Bima berjalan menaiki tangga sambil menggendong Lily ala bridal. Dena membantu membukakan pintu kamar. Lily di baringkan di atas kasur big size. Tidak lupa Dena menaikan selimut hingga menutupi leher Lily. Dia tersenyum senang.
Bima dan Dena kembali ke kamar mereka di bawah.
__ADS_1
"Aku seneng kalau kalian mau ikut program mas. Waah gak sabar rasanya." ucap Dena sambil memposisikan kedua tangannya di depan perutnya seolah menimang bayi lucu di sana. Bima hanya menatap Dena dengan tatapan nanar.
Bagaimana ini? monolog Bima dalam hati.
Dena duduk di atas ranjang di samping Bima, menatap sang suami yang sedang terdiam.
"Mas mau anak laki-laki atau perempuan?" tanya Dena sambil memiringkan kepalanya ke kanan.
"Laki-laki atau perempuan sama aja kan?" Dena tersenyum mengangguk senang. Bima mengerlingkan pandangannya pada sang istri. Lalu menyambar tubuh Dena hingga terjatuh tepat di bawah tubuhnya.
"Ayo kita buat anak kembar!" ucap Bima, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri. Mereka saling berbagi kasih.
***
Lily terbangun dari tidurnya dan mengerjapkan mata, merasa asing dengan sekelilingnya. Lalu tertegun saat melihat sebuah foto besar yang tergantung di dinding kamar. Foto Bima saat mengenakan setelan jas hitam, dan Dena yang mengenakan gaun pengantin putih, tidak lupa di tagannya sebuket bunga mawar berwarna putih dan pink. Senyum bahagia terulas di bibir masing-masing.
'Apa ini kamar mas Bima dan mbak Dena?' batin Lily. Lily kembali merebahkan dirinya. Fikirannya kembali pada saat mereka makan malam tadi. Itu berarti dia tidak akan mudah melepaskan diri dari bayang-bayang Bima dan Dena. Bahkan sekarang fikirannya pun sedang menerka apa yang sedang mereka lakukan. Ah dan ranjang ini... ranjang yang menjadi saksi kehangatan cinta mereka.
Mata Lily mulai berair. Lily mengeratkan genggaman tangannya pada selimut tebal. Pastilah selimut ini pernah menutupi tubuh polos mereka. Dan bantal ini, juga menjadi alas mereka saat memadu kasih.
__ADS_1
Bodoh! Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Dan bodohnya karena janji masa lalu dia terjebak sekarang. Terjebak di kehidupan dua insan yang saling mencintai satu sama lain. Lily bodoh. Mereka hanya mau anak Ly! Sesudah anak itu lahir, bagaimana nasib kamu!!!
Jam menunjukkan angka tiga. Lily belum juga bisa tertidur. Matanya sembab karena air mata yang terus mengalir keluar tanpa bisa ia tahan.