Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 89


__ADS_3

"Siapa dia?"


Gadis itu menoleh ke arahku.


Dia tetap diam. Ya ampun, biasanya dia sangat cerewet, tapi kenapa sekarang dia seperti orang bisu?


"Ya sudah. Sore nanti aku akan antar kamu pulang!" ucapku pasrah, aku sudah tidak butuh jawaban lagi. Malas! Aku berdiri dan hendak melangkah.


"Dia pacar aku." ucapnya membuat aku menghentikan langkahku. Aku kembali duduk di tempatku tadi.


"Kenapa dia pukul kamu. Apa dia kecewa karena kamu suka php-in orang huhh?" Dia menatap ku tidak mengerti.


"Ya seperti saat itu. Kamu datang, lalu menghilang, lalu datang lagi dan bilang sayang sama aku."


Dia menunduk. Joe menatapku tidak percaya. Seolah dari tatapan matanya dia protes dengan ucapanku barusan.


Gadis itu terisak, air matanya mengucur deras membasahi rok sekolah berwarna abu-abu dengan pendek sebatas lutut.


"Dia marah." lirihnya. Ya tentu saja marah kalau di php-in lah!!


"Dia marah karena aku gak mau di ajak tidur."

__ADS_1


What??!!


Aku dan Joe sama terkejutnya. Kami saling berpandangan lalu pandangan kami alihkan pada gadis ini. Dia masih menunduk. Aku mengeratkan kepalan tanganku. Entah kenapa rasanya aku marah sekali!


Malam datang menghampiri. Joe sudah pulang sejak sore tadi, dia tidak bisa menginap karena ada pekerjaan di bengkel miliknya.


Aku mengambil bahan makanan di kulkas, dan segera memotong sayuran serta bawang, dan sedikit cabai. Masih ada sedikit udang sisa semalam. Ku putuskan untuk memasak pasta dengan udang di bumbui saus padang di atasnya. Umm sepertinya yummy!


"Mas masak apa?" suara seorang gadis membuatku menoleh. Dia tersenyum menatapku dari balik meja pantry lalu mendekat ke arahku.


"Lapar?" tanyaku. Dia mengangguk. Ini sudah jam sembilan malam. Tadi dia tidur sangat lelap sampai-sampai aku tidak tega untuk membangunkan dia.


"Wanginya enak." pujinya. Aku tersenyum.


"Aku mau lihat!" matanya penuh minat menatap wajan penggorengan di depan kami.


Makanan sudah siap. Kami makan berdua. Dia makan dengan lahap. Pastilah lapar kerena sedari tadi dia terus menangis.


Makanan di piringnya sudah habis. Aku menambahkan pasta milikku ke dalam piringnya. Tentunya di bagian lain yang belum aku sentuh. Dia tersenyum lalu hanya dalam waktu kurang dari lima menit makanan di piringnya kembali habis, bersih tidak bersisa.


"Enak." ucapnya. "Sama seperti buatan nenek."

__ADS_1


Nenek. Aku jadi kangen nenek. Sudah lama aku gak pulang ke rumah nenek. Terakhir mungkin ada dua tahun yang lalu. Karena suatu sebab aku tidak ingin pulang!


"Kangen nenek juga ya mas?" aku menoleh ke arah lain, tidak ingin membuat dia tahu jawabannya dari sorot mataku yang mulai berair.


"Pulang mas. Nenek juga kangen mas Rian!"


Aku bingung kenapa dia bisa membicarakan hal itu?


Dia berjalan ke arah sofa dengan tertatih, lalu kembali ke meja pantry, dan menyerahkan secarik kertas untukku. Tulisan tangannya sangat aku kenal. Nenek!


Aku menatapnya bingung.


"Nenek kita sama mas!" ucapnya yang membuat aku terkejut dan tertegun tanpa bisa bicara lagi.


"Nenek kangen mas Rian!" ucapnya lagi lalu pergi dari hadapanku.


Aku membuka amplop putih itu dan menemukan beberapa foto disana. Nenek yang menggendongku saat aku masih bayi. Lalu fotoku saat aku SD, dan lihat, aku kira nenek membuang foto ini! Foto saat aku menggantung di dahan pohon mangga miliknya yang membuat bajuku robek.


Aku tersenyum. Lalu mulai membaca kata demi kata di selembar surat itu hingga selesai. Dan di balik surat itu aku juga melihat ada satu lembar foto satu keluarga lengkap tanpa aku di dalamnya. Senyum mereka yang bahagia. Wanita yang sangat aku kenal, dan seorang pria tampan di sampingnya lalu gadis cilik dengan gaun cantik sedang memegang boneka yang sama cantiknya.


Mataku mulai berair tapi aku sudah berjanji tidak akan menangis untuk mereka.

__ADS_1


Siapa gadis itu?


__ADS_2