
Bima sedang berada di kantor. Pekerjaannya sangat menumpuk. Bima memijit pelipisnya yang terasa pusing, sudah beberapa hari ini dia kurang tidur akibat ulah istrinya. Terlihat jelas lingkaran hitam di bawah mata Bima.
Pintu terbuka. Adit masuk dengan membawa sebuah file di tangannya, dia mendekat ke arah Bima.
"Hei brother!" Adit mengacungkan tangannya di udara dan di sambut oleh Bima. Lalu Adit duduk di kursi di depan Bima.
"Dari mana aja lo dua hari gak ngantor?" Adit menahan tawa, sebenarnya dia tahu dengan sangat kemana Bima dua hari ini.
"Di rumah!" ucap Bima singkat lalu kembali pada pekerjaannya.
"Elo gak tidur semalam?" tanya Adit sambil menunjuk wajahnya sendiri, yang di maksud adalah mata panda milik Bima.
"Tidur, sebentar!"
"Gimana keadaan Lily? Dia ngidam apa?" tanya Adit penasaran. "Hebat lo baru aja kemarin tu si Syifa brojol udah tokcer lagi. Jadi penasaran gue pengen kayak gitu apa rahasianya?" Bima hanya mendengus kesal tidak menjawab. Adit tertawa membuat Bima semakin kesal.
"Gue bingung sama ngidamnya Lily sekarang."
"Bingung apa?" tanya Adit.
"Dia kayak gak ada capeknya, sampai gue di kurung dua hari di kamar!"
"Hahaha. Gue udah tahu!" Bima semakin kesal karena Adit semakin keras tertawanya.
"Nikmatin aja. Bukannya waktu hamil Syifa, elo banyak puasa! Sekarang elo harusnya bersyukur bisa dapet jatah banyak-banyak!" ucap Adit.
"Ya emang bener, tapi gue capek dan lecet!"
__ADS_1
"Buahaahaaa." Adit tertawa semakin keras.
"Apanya yang lecet?"
"Belut gue. Lily gak kira-kira kalau goyang...ups." Bima keceplosan. Dia menutup rapat mulutnya. Harusnya dia tidak membicarakan perihal ranjang dengan siapapun termasuk dengan Adit.
Adit semakin keras tertawa. Tidak menyangka seorang Bima Satria bisa tunduk dengan seorang perempuan.
"Gak nyangka gue, elo bisa juga kalah!"
"Elo juga sama! Ingat waktu ke Palembang?" Adit terdiam, bibirnya mengerucut. Iya dia juga sama! Tidak bisa menolak dengan keinginan Celia saat mengidam, dan juga hal lainnya yang tidak masuk akal.
Sekarang gantian Bima yang tertawa melihat wajah kesal Adit.
"Ini file yang elo minta, perusahaan XX minta kerjasama juga dengan perusahaan kita."
"Makan siang yuk. Gue udah chat yang lain juga."
Bima melihat jam di tangannya. Sudah mendekati waktunya makan siang.
"Oke!" Baru saja mereka berdiri pintu terbuka, Lily datang dengan membawa kotak bekal makan siang.
"Oh tidak!" lirih Bima.
"Adit tolongin gue!" Bisik Bima pada Adit, Adit menatap Bima lalu seketika tersenyum saat tahu apa maksud Bima.
"Eh mas Adit juga ada!" Lily tersenyum saat melihat kakak sepupunya.
__ADS_1
"Iya, Ly. Mas Adit udah nganterin file buat Bima."
Lily mendekat pada Bima.
Pasti bukan cuma makan siang ini! Bima menggaruk tengkuknya.
"Kamu ada janji makan siang sama Adit?" tanya Lily.
"Iya sih..."
"Oohh jadi kamu gak mau makan siang sama aku? Aku udah capek-capek bikinin makanan, kamu gak mau?" Lily dengan nada marah.
"Bukan gitu yang. Adit cuma nawarin kerjasama aja, dan tadi nawarin makan siang bareng, tapi kalau kamu udah datang bawa makanan tentu aku akan makan makanan kamu."
Adit terkekeh geli melihat Bima.
"Ya udah kalau gitu, mas Adit pamit duluan ya. Udah di tunggu sama yang lainnya. Bye Ly. Bye Bimaaa..." Adit melambaikan tagannya sambil berjalan mundur. Bima terlihat kesal melihat Adit dengan wajah jahilnya.
Lily duduk di atas sofa dan mulai membuka kotak bekal yang di bawanya.
"Sini mas!" Lily menepuk tempat di sampingnya. Bima menurut.
"Makan dulu supaya ada tenaga saat kita tempur nanti!"
Glekk!!
Bima benar-benar di buat kewalahan dengan kehamilan Lily kali ini. Di mulai dari ngidam Lily yang terlalu, dan juga adegan dewasa yang selalu membuat dia lelah. Bayangkan kalau dalam satu hari Bima bisa mandi empat sampai lima kali, bahkan lebih!
__ADS_1