
Semenjak itu hubungan Lily dan Bima semakin membaik. Lily dan Bima sama-sama merasakan bahagia. Mereka memutuskan untuk tidak menunda pernikahan mereka lagi.
Terhitung dua bulan lagi mereka akan melaksanakan pernikahan. Semakin cepat semakin baik bukan? Hanya saja bagi Bima, dua bulan terasa lama. Tentu saja waktu dua bulan itu mereka harus mempersiapkan segalanya. Dekor, gaun pengantin, undangan dan sebagainya.
Bima semakin giat dalam bekerja, dia tidak mau lagi perusahaannya down seperti dulu.
Lily pergi ke kantor Bima. Mama menyuruhnya untuk mengantarkan makanan. Sopir yang mengantar Lily hingga sampai dengan selamat.
Lily berjalan menuju lift, beberapa orang saling berbisik. Lily sudah sampai di lantai dimana ruangan Bima berada. Mama Ratih sebelumnya yang memberi tahu.
"Lily?" Lily menoleh saat merasa namanya di panggil. Yeni berlari dengan cepat dan memeluk Lily lalu kembali menjauhkan dirinya. Meraba bahu dan lengan Lily, lalu beralih ke pipi. Seperti tidak percaya dengan orang yang berada di depannya.
"Ini beneran kamu, Lily?" air mata Yeni sudah tidak terbendung lagi. Empat tahun lebih tidak bertemu dengan Lily.
"Siapa ya?" tanya Lily hati-hati.
"Ah ya aku lupa. Kata pak Bima kamu lupa ingatan ya?! Jelas kamu gak inget aku. Aku Yeni, sahabat kamu." Lily mencoba mengingat tapi alhasil kepalanya yang sakit. Yeni khawatir saat Lily memegangi kepalanya.
"Maaf Ly, bukan maksud aku mau bikin kamu sakit. Aku cuma senang lihat kamu lagi."
"Gak pa-pa. Aku memang gak terlalu ingat semuanya. Maaf."
"Kamu mau ketemu pak Bima?" tanya Yeni melihat kotak bekal makan siang di tangan Lily. Lily mengangguk.
"Aku antar. Ayo!" ucap Yeni senang dan menggamit tangan Lily menuju ruangan Bima.
Di dalam ruangan.
Bima sedang sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang terlihat menumpuk di atas mejanya. Suara ketukan pintu terdengar.
"Masuk." ucap Bima tanpa menolehkan pandangannya dari berkas-berkas miliknya.
Suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Ada apa?" Bima belum juga menoleh.
__ADS_1
"Makan siang." Bima menoleh saat mendengar suara yang lain. Tadi ia kira sekretarisnya yang datang.
"Sibuk banget ya sampai gak lihat aku datang!" ucap Lily sambil duduk di depan Bima. Kotak bekal makanan ia simpan di atas meja.
"Aku kira kamu sekretaris aku. Ternyata mantan sekretaris! hehe." ucap Bima sambil mengelus punggung tangan Lily.
Lily cemberut mendengar penuturan Bima.
"Sini." Bima menarik tangan Lily untuk mendekat. Lily menurut. Bima menepuk pahanya. Lily menggelengkan kepalanya. Tapi bukan Bima namanya kalau tidak bisa memaksa Lily. Bima menarik paksa Lily duduk di atas pangkuannya dan memeluk Lily erat.
"Aww..." pekik Lily saat Bima langsung memeluknya dengan erat.
"Bima lepaskan!"
"Enggak. Aku kangen kamu." ucap Bima melabuhkan dagunya di pundak kiri Lily.
"Iya boleh kangen tapi gak boleh kayak gini." Lily berontak.
"Sebentar aja. Aku kangen udah berapa hari gak ketemu!" Bima semakin erat memeluk Lily.
"Salah kamu sendiri gak pulang ke rumah mama."
"Ih emang aku makanan?"
"Emang iya kalau kita udah nikah nanti kamu kan jadi makanan aku sehari-hari! hehe."
"Gak mau!"
"Kenapa gak mau?"
"Yaa karena aku bukan makanan!" protes Lily membuat Bima terkekeh. Wajah Lily terasa panas saat Bima terus menggodanya.
Lily melingkarkan tangannya ke leher Bima.
"Tadi aku ketemu sama Yeni."
__ADS_1
"Oh ya?" Lily mengangguk.
"Aku jadi merasa bersalah gak bisa inget dia." sorot mata Lily jadi sendu.
"Yeni juga ngerti kok. Jangan sedih ya!" hibur Bima.
"Ayo makan!" ucap Bima lalu mengangkat tubuh Lily ala bridal ke arah sofa membuat Lily terkejut dengan perlakuan Bima.
Selesai makan Lily tidak langsung beranjak pulang. Mama Ratih membawa Yumna bermain ke rumah sahabatnya dan akan pulang sore nanti. Tidak ada teman di rumah, paling hanya beberapa asisten yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Kalau kamu ngantuk tidur di kamar aja." tunjuk Bima pada sebuah pintu.
"Enggak. Aku mau disini dulu sebentar lagi aku juga pulang." Ucap Lily, dia sedang menikmati pemandangan dari jendela kantor Bima. Di luar sangat panas tapi aktifitas tidak berhenti begitu saja. Kendaraan masih banyak yang berlalu lalang, sangat kecil terlihat di bawah sana.
Liky terkejut saat tiba-tiba merasakan tangan Bima melingkar di depan perutnya. Bima menyingkirkan rambut dari pundak Lily dan melabuhkan dagunya disana. Mencium leher jenjang Lily dan mencecapnya perlahan, leher yang sedari dulu selalu membuatnya tergoda.
Bima terbuai akan keindahan Lily sampai dia tidak mendengar saat Lily memanggil namanya. Bima sudah terkungkung oleh geloranya. Bima membalikan Lily dengan paksa dan seketika mel*mat bibir Lily dengan kasar.
Lily mencoba berontak, memukul dada Bima dengan kencang dan mendorongnya, tapi pria itu tetap tidak melepaskan Lily. Bima menahan tengkuk Lily, malah semakin memperdalam pagutan bibirnya pada Lily. Satu tangannya merengkuh pinggang Lily semakin mendekatkan tubuhnya. Lily berhenti memberontak, percuma!
Bima mengalungkan kedua tangan Lily di lehernya. Lily pun membalas ciuman Bima yang semakin lama semakin melembut. Mereka saling bertukar saliva dan saling mengabsen isi dalam mulut lawan. Saling berbelit lidah, dengan perasaan membuncah di dalam hati masing-masing.
Tidak hanya puas disana, Bima mengangkat Lily ala bridal dan membawa Lily ke dalam kamar yang berada di ruangan itu. Membaringkan Lily disana tanpa melepas pagutan bibir mereka.
Bima sudah hilang kendali. Satu tangannya menelusup ke dalam baju Lily dan mendapati aset milik Lily yang begitu pas di tangannya. Tidak besar dan tidak kecil. Lily menggelinjang nikmat menerima perlakuan Bima.
Bima menyesap bibir Lily dengan rakus, ********** tanpa ampun!mengajak bermain lidah Lily dengan lincahnya hingga terdengar suara seperti decakan dari mulut keduanya. Bisa Lily rasakan milik Bima yang mengeras di pahanya.
Tangan Bima masih berada di dalam baju Lily sedangkan satu tangannya lagi menopang tubuhnya agar tidak menindih Lily yang tepat berada di bawahnya.
Bima melepas pagutan bibirnya lalu ambruk di samping Lily dengan peluh yang bercucuran di keningnya.
"Maaf Una. Aku minta maaf." ucap Bima menyesal. Bima membantu merapikan baju Lily dan mengusap rambut Lily ke belakang.
"Maafkan aku." mata Bima merah dan terlihat menitikan air matanya.
__ADS_1
"Jangan lakukan lagi Bima! Tunggu sampai tiba waktunya." ucap Lily lalu mengusap pipi Bima yang basah. Bima mengambil tangan Lily dan mengecupnya beberapa kali.
"Benar kata mama, sebaiknya memang kita tidak bertemu dulu. Ini bahaya!"Lily mengangguk dengan senyuman.