Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 198


__ADS_3

Note: terkesan seperti sinetron tapi maaf sinetron juga terinspirasi dari dunia nyata, yang gak suka boleh di skip.


_______


Hari ini Bima kembali ke rumah sakit. Yumna berada di rumah kediaman Azka. Karena Mama Puspa bersama Adit berangkat ke Jakarta tadi malam dengan penerbangan terakhir.


Suara notif berbunyi nyaring Bima membuka hpnya dan melihat foto indah disana. Adit dengan jas pernikahan berwarna putih dan Celia dengan gaun putih yang cantik.


Di dalam foto itu terlihat dengan jelas Adit dan Celia tersenyum bahagia. Tidak pernah Bima melihat Celia tersenyum selebar itu. Lalu di foto selanjutnya, Roman dan Nila, yang berfoto bersama kedua mempelai. Bima sangat bahagia kedua sahabatnya sudah menemukan cinta mereka. Ya semua akan berakhir bahagia bukan?


"Una, kamu gak mau bangun? Lihat Adit menikah hari ini! Roman juga sudah menemukan cintanya, Nila sahabat kamu, ternyata mereka dulu pacaran sebelum Nila menikah dengan mantan suaminya. Kamu tahu gak, Adit dan Roman punya cerita lucu soal perjalanan cinta mereka. Katanya nanti kalau mereka ada waktu mereka akan datang buat cerita. Mereka sudah bahagia dengan pasangan masing-masing. Lalu kapan kita akan bahagia?" Bima mengusap lembut punggung tangan Lily.


"Kalau nanti kamu sadar, kamu ikut ke Jakarta ya, mau kan? Kamu juga Yumna. Aku akan berusaha bahagiakan kalian. Aku janji. Mama dan papa juga kangen sama kamu sama Yumna. Mereka bahagia saat ketemu Yumna. Kamu mau kan?"


"Enggak boleh!" Suara seseorang yang baru saja masuk mengagetkan Bima. Bima menoleh ke arah asal suara itu. Melati dengan Yumna di dalam gendongannya.


"Lily dan Yumna gak boleh ikut sama kamu! Mereka sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Dia masih berstatus istri Azka!"


"Maaf tante. Tapi Azka juga sudah gak ada." Bima berdiri dari duduknya. Yumna mengulurkan tangan pada Bima meminta di gendong, tapi Melati menjauhkan Yumna dari Bima yang akan menyambut Yumna. Mata Yumna seketika berkaca-kaca.


"Gak ada yang boleh bawa mereka pergi, mereka anak dan cucuku!" mata Melati menyorot penuh kemarahan.


"Meskipun Azka sudah gak ada tapi Lily tetap istri Azka!" cerca Melati tidak suka. Hadi baru saja datang, dia bingung melihat istrinya yang biasanya lembut tatapannya kini berubah. Dan Yumna yang mulai terisak memanggil papanya.


"Ma ada apa ini?" tanya Hadi mendekat pada Melati.


"Dia mau bawa Lily dan Yumna pergi pa. Mereka gak boleh pergi. Mereka anak dan cucuku!" Melati berlalu meninggalkan suaminya. Niatnya ingin menjenguk Lily, tapi malah mendengar Bima yang akan membawa menantu dan cucunya. Melati sangat sayang pada keduanya.


Bima dan Hadi menatap kepergian Melati bersama Yumna yang menangis.


"Saya tahu apa yang kamu rasakan. Tapi semua ini, lebih baik serahkan keputusannya pada Lily setelah dia sadar! Saya akan bujuk istri saya." Hadi menepuk pundak Bima lalu pergi dari sana. Bima menatap kepergian Hadi hingga menghilang di balik pintu.


Kenapa semua jadi rumit?


Bima kembali ke kursinya.


Please Una, cepat bangun. Ijinin aku bahagiakan kalian.


***


Adit dan Celia menunda acara bulan madu mereka, Celia tidak keberatan karena Adit juga masih khawatir dengan keadaan Lily, meskipun sekarang Bima sudah menjaga Lily.


Tadinya Bima ingin memindahkan Lily ke Jakarta agar memudahkan dirinya untuk menjaga Lily. Tapi benar apa yang di katakan Melati, status Lily sekarang masih menjadi istri Azka meski Azka sudah meninggal.


Bima masih menunggui Lily dia tertidur karena lelah semalaman menjaga Lily. Bima terbangun saat merasakan jari tangan Lily bergerak di dalam genggamannya.

__ADS_1


Bima mengangkat kepalanya, dia terkejut dan bahagia karena ternyata Lily membuka matanya. Segera Bima menekan tombol di dekat ranjang Lily, dan tak berapa lama dokter datang dengan beberapa perawat. Bima keluar sesuai permintaan dokter.


Bima harap-harap cemas dengan keadaan Lily, semoga saja itu pertanda baik. Bima sampai lupa, dia harus menelfon Adit.


Setengah jam kemudian Adit datang dengan Celia. Mama Puspa di belakangnya. Lalu di susul dengan orangtua Azka kemudian. Yumna di titipkan dengan pengasuh di rumah Melati. Mereka menunggu di luar ruang rawat Lily dengan perasaan berdebar.


"Istri elo kenapa?" tanya Bima saat melihat Celia yang sedari tadi cemberut dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Dadanya naik turun dengan cepat.


Adit menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Dia marah!"


"Pengantin baru udah marahan aja!" cerca Bima.


"Gara-gara elo!"


"Kok gue?!" tanya Bima bingung


"Iya. Hehe.. tadi waktu elo telfon, kita lagi baru mau mulai. Gagal deh. gue udah puasa dari malam pertama, karena Celia kedatangan tamu!" muka Adit berubah merah, malu, sedangkan Celia mencubit lengan Adit, tidak seharusnya Adit bicara hal yang pribadi meskipun dengan sahabatnya.


"Sorry. Gue gak tahu." Bima merasa bersalah dia saking senangnya dan lupa kalau Adit masih dalam masa pengantin baru.


Dokter keluar dari dalam ruangan. Semua yang ada disana berdiri menyongsong dokter itu.


"Dokter gimana keadaan Lily?"


"Lily sudah sadar." Semua orang bersorak gembira.


"Boleh, tapi yang bertemu Lily harap bergantian. Yang lain tunggu di sofa." Semua orang segera masuk ke dalam termasuk dokter.


Bima dan Adit berjalan lebih dulu ke hadapan Lily. Lily duduk dengan bersandarkan bantal, matanya mengerjap-ngerjap. Tak ada lagi selang oksigen dan sebagainya. Hanya meninggalkan infusan di tangan Lily.


"Lily. Akhirnya kamu sadar?!" Adit memegang tangan Lily. Senyum mengembang di bibir Adit dan Bima.


"Lily, aku senang kamu sadar!" Kini Bima yang bicara. Lily tidak merespon hanya memandang Adit dan Bima bergantian, lalu mengalihkan kembali pandangannya pada sekelompok orang di ruangan itu.


"Lily... Lily...!" panggil Adit, Lily tidak menjawab hanya memegangi kepalanya dengan kedua tangan lalu histeris, membuat semua yang ada di sana bingung.


"Tolong semua, keluar dulu."


Semua orang menurut keluar dari ruangan Lily.


Bima dan Adit bergantian melihat Lily dari jendela. Mereka khawatir begitu juga dengan semua yang ada disana.


"Kenapa sama Lily?"


"Gue gak tahu." jawab Adit. "Semoga aja Lily baik-baik aja.

__ADS_1


Dokter keluar dari ruangan Lily, kembali dia di serbu oleh semua orang yang ada disana.


"Dokter, gimana Lily?"


"Kenapa dia teriak tadi?"


"Apa Lily baik-baik saja?"


Dokter jadi bingung dengan pertanyaan yang memberondongi dirinya. Dokter menghela nafas sekali lagi sebelum menceritakan kondisi Lily.


"Lily mengalami amnesia. Dia tidak mengingat kalian semua!"


Melati tergolek pingsan, sedangkan mama Puspa terduduk lemas di bangku panjang, di bantu oleh Celia yang mengurut punggung mertuanya. Adit terdiam di tempatnya, sedangkan Bima meraih kerah dokter itu dan menyudutkannya ke tembok.


"Apa yang dokter bilang? Gak mungkin dokter! Lily gak mungkin melupakan KAMI!!" teriak Bima di akhir kalimat. Dokter itu bersikap biasa saja karena nyatanya tidak hanya kali ini saja dirinya di sudutkan seperti ini oleh keluarga pasien.


"Bima!" Adit menarik tangan Bima dari kerah dokter itu, dan meminta untuk Bima lepaskan.


"Kecelakaan Lily sangat parah hingga harus di operasi di kepalanya, dan itu juga alasan yang membuat Lily mengalami amnesia."


Lutut Bima lemas, ia terduduk di lantai dan melabuhkan kepalanya di antara lututnya. Menangis dengan keadaan Lily sekarang. Semua semakin sulit baginya.


"Memori nya perlahan akan kembali, tapi saya mohon jangan di paksakan. Lily bisa lebih histeris daripada tadi dan itu akan sangat bahaya. Nanti akan saya jelaskan lebih detailnya." ujar dokter.


"Oke, makasih dokter." ucap Adit lalu mempersilahkan saat dokter itu pamit padanya.


"Dit!!"


"Elo masuk deh temui Lily. Gue urus nyokap dulu." titah Adit. Bima mengangguk.


Bima duduk di samping Lily yang sekarang sudah tenang.


"Hai." sapa Bima. Lily menatap orang asing yang ada di dekatnya. "Gimana keadaan kamu?" Lily terdiam.


"Ah ya, kata dokter kamu lupa ingatan, kamu gak ingat kami semua tapi kami akan bantu kamu buat ingat pelan-pelan." kali ini Lily mengangguk.


Lily merasa ada kesamaan dengan suara yang selama ini selalu menemani dirinya saat dia berada di bawah alam sadarnya.


"Kamu, suara yang itu kan?" Bima mengernyit tidak mengerti.


"Suara?"


"Aku seperti dengar suara selama ini, mirip sekali sama suara kamu."


"Oh ya?" Bima tersenyum kecut karena Lily benar-benar tidak mengingat dirinya. Lalu bagaimana dengan Yumna? Yumna pasti akan sangat sedih kalau mamanya tidak mengingat dirinya.

__ADS_1


"Memangnya kamu siapa?" tanya Lily.


"Aku Bima." Bima mengulurkan tangannya. "Anggap saja kita baru berkenalan untuk pertama kali." Hati Bima sakit saat mengatakan hal itu. Dia ingin sekali menarik tangan Lily dan membawa Lily ke dalam pelukannya.


__ADS_2