Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 95


__ADS_3

"Bukan, anu.. Anak saya di kampung masuk rumah sakit. Semalam istri saya telfon katanya si bungsu kena demam berdarah. Kalau boleh saya mau izin pulang dua hari."


"Iya tentu aja. Gak pa-pa kalau pak Dani mau pulang."


"Makasih ya, mbak. Nanti saya telfon pak Bima buat kirim satu satpamnya buat gantiin saya." ucapnya.


"Gak usah pak."


"Tapi..."


"Kan ada satpam kompleks juga, gak jauh dari sini. Pak Dani gak usah khawatir. Nanti tinggalin aja nomor telfon satpam kompleks di atas meja makan." Senyum Lily yang di balas anggukan oleh pak Dani.


"Makasih mbak. Makasih banyak." ucap Pak Dani sekali lagi.


"Pak Dani pulang pakai apa?"


"Kereta mbak. Saya akan pesan online nanti."


"Oh, ya sudah. Bapak jangan khawatir. Bapak cuti aja sampai anak bapak sembuh."


"Tapi..."


"Dua hari gak cukup pak, cuma capek di jalan. Bapak tenang aja. Lily gak akan potong gaji bapak." Lily tersenyum. Pak Dani mengucapkan terimakasih banyak pada Lily.

__ADS_1


Lily masuk ke dalam rumah, mengecek keperluannya untuk ia bawa hari ini ke kantor.


Pak Dani mengetuk pintu rumah. "Mbak, ojol nya sudah datang!" seru pak Dani dari luar.


"Iya pak, tolong suruh tunggu sebentar!" seru Lily. Lily segera memakai sepatunya dan mengambil tas, serta berkas di tangannya yang sudah ia persiapkan. Kemudian keluar rumah.


"Pak Dani." panggil Lily saat melihat Pak Dani membukakan gerbang untuknya.


"Ini sedikit buat pak Dani." ucap Lily seraya menyodorkan amplop putih pada pria di hadapannya.


"Apa ini mbak?" tanya satpam itu bingung.


"Ini sedikit buat bantu bapak." ucap Lily.


"Jangan nolak pak. Gak banyak tapi semoga bisa membantu bapak dan keluarga." Lily memasukan amplop tersebut ke dalam saku baju Pak Dani.


Mata pak Dani berkaca-kaca, terharu karena mendapatkan perhatian dari majikannya.


"Trimakasih mbak." Lily tersenyum.


"Sama-sama. Jangan lupa nanti di kunci semuanya ya pak, tolong di cek lagi. Lily juga udah bawa kunci cadangan." ucap Lily sembari menepuk tas yang di bawanya. Pak Dani mengangguk lalu membukakan gerbang untuk Lily.


***

__ADS_1


Sore menjelang Lily dan Bima sedang berada di suatu restoran ternama sedang menunggu seseorang. Berkas di atas meja kembali di lihat oleh Bima, memastikan semua yang di persiapkan sempurna.


Sepuluh menit kemudian orang yang di tunggu datang. Mereka saling menjabat tangan kemudian duduk. Kini ada empat orang yang duduk di ruangan VVIP itu. Bima dan Lily sedangkan di depannya Mr, Hendrik dan sang asisten. Tanpa banyak basa-basi mereka langsung membicarakan perihal bisnis yang akan mereka jalin kerjasama.


Bima terdiam. Wajahnya menahan amarah. Kedua orang tadi sudah tidak ada lagi di depannya, hanya meninggalkan dia dan Lily yang sama terdiam.


'Sial!! Kenapa mr. Hendrik bisa menolak kerjasama denganku?!' Bima kembali membuka berkas di tangannya. Tidak ada yang salah dengan berkas itu. Apakah dia tidak layak? Tapi kenapa? Bima sangat kecewa karena sudah lama sekali dia mengincar kerjasama dengan perusahaan itu.


"Aaargghhh!!!" Bima berteriak kesal. Berkas di tangannya berhamburan ke lantai. Membuat Lily terkejut karena baru kali ini melihat sang bos marah. Nafas Bima menderu jelas terdengar. Dadanya naik turun menahan emosi. Matanya merah, rahangnya mengeras dengan gigi bergemeletuk.


"Apa yang SALAH!!" teriak Bima frustasi membuat Lily ketakutan.


"BRENGSEKK!!!" Lily menutup telinga saat Bima menggebrak meja dengan keras, lalu beralih ke tembok di belakangnya. Tanpa rasa sakit Bima meninju tembok yang tidak bersalah itu berkali-kali, menumpahkan rasa kesal yang menaunginya sedari tadi. Jantung Lily berdetak kencang karena takut, dia berdiri di dekat pintu masih dengan menutupi kedua telinganya. Mata Lily berkaca-kaca seketika.


Bima tersadar saat melihat Lily yang ketakutan karena sikapnya. Dia duduk dengan lemas di atas kursi.


"Kamu bisa pulang sendiri kan?" Tidak ada jawaban. Bima menatap Lily yang masih menatapnya dengan pandangan kosong.


Lily tersadar saat Bima ternyata sudah ada di depannya. Berkas yang tadi berserakan di lantai sudah Bima ambil semua.


"Kamu bisa pulang sendiri?" Lily mengangguk lalu mengambil berkas yang sudah di sodorkan Bima. Kertas-kertas itu sudah kusut karena Bima meremas dan menghamburkannya tadi.


Bima dan Lily keluar dari restoran itu bersama, Bima menunggu hingga Lily mendapatkan taksi. Setelah taksi itu pergi barulah Bima masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya ke suatu tempat.

__ADS_1


__ADS_2