
Bima baru saja turun dari mobilnya, tak lupa dia meminta pak Naryo menurunkan oleh-oleh pemberian mama Puspa dan mama Melati untuk Lily dan Ratih.
"Mass!!" Baru saja Bima masuk ke dalam rumah, Lily sedikit berlari menyongsong kedatangannya dan memeluk sang suami. Bima terlihat khawatir karena Lily seakan tidak memikirkan keadaannya yang tengah mengandung.
"Jangan lari-lari. Kamu itu lagi hamil!" Bima mengingatkan. Lily semakin membenamkan wajahnya di dada Bima. Kedua tangannya melingkar sempurna di pinggang Bima.
Bima merasa heran dengan sikap Lily yang tidak biasanya.
"Aku kangen mas!" ucap Lily lirih. Bima tersenyum senang.
"Aku juga kangen kamu, sayang!" ucap Bima mengecup kepala Lily beberapa kali.
"Kamu sudah makan siang?" Lily menggelengkan kepalanya.
"Gak ada kamu, makan jadi gak enak!" ucap Lily menengadahkan kepalanya menatap wajah Bima. Nada suaranya terdengar sangat manja, tapi Bima suka.
"Jangan di biasakan! Ingat ada anak kita yang harus kamu jaga."
"Iya. Aku mau makan kalau kamu suapin!" ucap Lily dengan nada di buat manja. Bima semakin gemas melihat istrinya.
Bima menangkupkan kedua tangannya pada pipi Lily, dan menarik wajah Lily lebih dekat lagi. Lily menutup kedua matanya saat tau apa yang akan di lakukan Bima.
"Permisi pak." suara seseorang membuat Bima dan lily menolehkan kepalanya. Pak Naryo sedang berdiri di belakang mereka dengan koper dan tas tangan yang di jinjingnya.
Bima dan Lily seketika menjauhkan diri mereka masing-masing. Wajah mereka merah karena malu.
__ADS_1
Lupa, kalau ini masih di luar! ujar Bima dalam hati. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iya pak Nar, silahkan kalau mau ke belakang." ucap Lily lalu memberi jalan pada sang sopir.
Bima dan Lily saling pandang lalu tersenyum. Akhirnya mereka malanjutkan acara kangennya di meja makan.
Bima mendudukan Lily di atas pangkuannya dan menyuapi Lily dengan perlahan.
"Mas, aku malu kalau yang lain lihat." Ucap Lily menundukan wajahnya.
"Biarkan saja! Lagian mereka juga ngerti kok kemauan yang lagi ngidam kan aneh-aneh!" ucap Bima cuek. Bima kembali menyuapi Lily. Lily makan dengan lahap. Mereka saling menyuapi satu sama lain.
"Yumna mana?"
"Tidur."
"Cuma 'OH'?" kening Bima mengkerut.
"Trus apa?"
"Enggak!" Lily menggelengkan kepalanya lalu memeluk leher Bima dengan erat hingga Bima tidak bisa bernafas.
"Yang...aku... tercekik!" ucap Bima. Lily segera melepaskan pelukannya. Bima meraup udara banyak-banyak.
"Maaf. Maaf. Habisnya aku kangen! Selama ini kan kita gak pernah jauh." ucap Lily manja. Bima tersenyum, menarik tengkuk Lily dan m*l*m*t bibir seksi istrinya. Lily membalas cuma Bima tak kalah panasnya.
__ADS_1
"Mbak ada telf..." Santi terkejut melihat kelakuan majikannya. Bima dan Lily juga tidak kalah terkejutnya, mereka langsung melepaskan pagutan bibir mereka.
"Santi! A-ada apa?" Tanya Lily kikuk bangun dari pangkuan Bima.
"Saya gak lihat kok! Suer gak lihat!" ucap santi yang sudah menutup matanya dengan kedua tangannya.
Bima terlihat kesal, lagi-lagi ada yang mengganggu. Tadi pak Naryo dan sekarang Santi!
"Santi!!!" Bima menggeram memanggil Santi yang terus mengoceh tidak karuan.
"Maaf pak, Saya gak lihat apa-apa. Maaf. Maaf."
Gak lihat tapi minta maaf. Dasar! batin Bima kesal.
"Ini ada telfon dari nyonya." Santi menyerahkan hp milik Lily yang tadi tertinggal di ruang tv pada Lily. Satu tangannya masih menutupi wajahnya.
"Saya cuma mau ngasih ini aja, kalau mau di lanjut silahkan. Saya gak akan ganggu." ucap Santi lalu dengan cepat keluar dari area dapur.
"Tuh kan! Aku bilang juga apa! Ada orang kan?!" geram Lily kesal sambil mencubit paha Bima dengan keras.
"Awww. Sakit yang!" Bima mengelus pahanya yang terasa panas.
"Rasakan! Gak mau denger sih kalau di bilangin!" Lily beranjak pergi meninggalkan Bima.
"Yang, ayo kita lanjutkan di kamar!" teriak Bima yang masih duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Gak mau! Mau telfon mama!" Lily balas teriak sambil terus berjalan ke sofa depan tv.
Bima mengacak rambutnya frustasi.