
Bima dan Lily sedang berada di perjalanan ke rumah orangtua Bima. Mereka baru saja pulang dari luar negeri. Perusahaan yang kini semakin berkembang pesat di luar negeri membuat kedua orangtua Bima lebih banyak menghabiskan waktu mereka disana.
Tidak ada yang spesial dari pertemuan itu, hanya saja satu yang mencubit perasaan Lily, seakan de javu tapi Lily tidak mengerti apa yang ada di dalam fikirannya.
Pelukan sang mama dan kasih sayang sang papa mertua membuatnya rindu akan sosok kedua orangtua nya. Dan dua sosok lainnya, tapi Lily tidak mengerti yang mana. Mencoba mengingat tapi entahlah, malah terasa membingungkan. Tapi Lily tidak mau ambil pusing. Lily menikmati kasih sayang keduanya.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Bima setelah beberapa saat mereka melaju untuk pulang ke rumah. Bima sedari tadi memperhatikan Lily yang terkadang mengusap sesuatu di ujung matanya. Lily menggeleng perlahan, pandangannya ia lemparkan keluar jendela mobil memperhatikan pepohonan yang tertinggal jauh di belakang sana.
"Kamu punya masalah sama Adit?"
"Bukan. Lily cuma kangen ibu sama bapak." Bima mengangguk mengerti, lalu diam membiarkan Lily dengan kesibukannya.
"Bertemu sama mama dan papa, Lily jadi inget ibu dan bapak." ucap Lily akhirnya.
"Kangen?"
"He'em."
"Kalau kamu mau ke makam ibu sama bapak aku juga gak akan ngelarang kok." Lalu hening lagi hingga mobil masuk ke dalam pelataran rumah Lily.
Bima menyadari perubahan Lily yang sedikit mendung. Pastilah sekarang hatinya sedang merasa sedih karena rindu yang teramat sangat, bertahun-tahun tidak merasakan kasih sayang orangtua dan hidup sendirian. Lihat lah cara jalannya saja, lesu, seperti tubuh tanpa tulang. Lunglai.
"Ly!" Ly menoleh sebelum naik ke lantai atas. Mata Lily sudah berair, membuat Bima tidak tahan melihat kesedihan di matanya. Bima mengambil Lily ke dalam pelukannya hingga akhirnya tangis Lily benar-benar tumpah di sana membasahi kaos yang di pakai Bima. Bima mengelus rambut Lily dengan perlahan.
Lily menangis tergugu di dalam dekapan sang suami. Ia hanya ingin menumpahkan rasa rindunya. Berharap tangis ini akan melegakan hatinya.
__ADS_1
Bima hanya memandang iba pada gadis di dalam pelukannya.
"Mas bisa lepasin Lily? Lily sesek, mas Bima peluknya terlalu kencang!" Bima segera melepas pelukannya saat sadar Lily yang sudah memukuli lengannya.
Bibir Lily mengerucut sebal dengan nafas yang memburu, meraup nafas dalam-dalam ke dalam paru-paru nya.
"Kamu itu mau nenangin Lily atau mau buat Lily mati sih?" protes Lily membuat Bima tersenyum melihat perubahan mood Lily yang cepat berubah.
"Hehe. Maaf."
"Ya udah Lily mau tidur." Bima mengangguk lalu mereka berpisah ke tempat yang berbeda.
***
Hari ini Lily pulang bersama Yeni, Yeni akan menginap di rumah Lily mungkin dua atau tiga malam karena tiba-tiba saja Yayan harus membantu cabang perusahaan yang ada di luar kota. Pengiriman barang yang macet dari cabang membuat tenaga beberapa orang dari pusat di butuhkan disana, termasuk pekerja gudang seperti Yayan dan tiga temannya.
Beruntung malam ini Bima tidak akan pulang kesini karena minggu ini waktunya Bima bersama Dena.
"Wah besar juga rumahnya. Lumayan lah daripada kontrakan yang kemarin!" Ucap Yeni setelah masuk ke dalam rumah Lily. Tidak hentinya berdecak kagum melihat interior rumah itu. Menurutnya pas tidak terlalu besar dan tidak kecil. Mungkin suatu saat jika punya rezeki Yeni akan meniru tata letak rumah ini untuk rumahnya nanti.
"Tetep aja rumah orang. Bukan rumah sendiri." ucap Lily yang mengatakan bahwa rumah ini milik kerabatnya yang sekarang tinggal di luar kota dan menitipkan rumah ini pada Lily.
"Mau langsung ke kamar?" tanya Lily sambil memberikan minuman jus pada Yeni yang tengah duduk mengurut satu kakinya.
"Nanti lah. Pegel nih kaki." Lily melihat kaki Yeni yang agak membengkak. "Ibu hamil mah ya gini, cepet capek, kaki bengkak, tapi rasanya seneng aja." curhat Yeni tanpa Lily minta. Tanpa sadar Lily mengelus perutnya sendiri, lalu tersenyum geli.
__ADS_1
"Kamu sama mas Adit gimana?"
"Umm biasa aja."
"Mas Adit udah nembak?"
"Kasih tau gak ya..." goda Lily dengan seringaian membuat Yeni mendengus sebal lalu mengambil minuman jus dingin dan meneguknya perlahan.
"Lily mandi dulu deh, lengket badan." ucap Lily. Yeni mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya.
"Nanti aku nyusul deh."
"Oke." ucap Lily kemudian berlari ke atas.
Yeni masih sibuk dengan ponselnya, berkirim pesan pada sang suami tercinta. Menyatakan bahwa sekarang dia sudah berada di rumah Lily.
Tak berapa lama Lily kembali turun sudah berganti baju dengan piyama.
"Ya elah kayak yang mau langsung tidur aja." Lily hanya tersenyum menanggapi protes Yeni.
"Emang mau tidur kan bukan ke mall!" sarkas Lily.
"Kenapa tidur di atas? Itu ada kamar!" tunjuk Yeni ke arah kamar Bima.
"Itu.. em..anu..kamar khusus. Kalau anak yang punya rumah dateng." jawab Lily dengan dada berdebar, Yeni hanya manggut-manggut.
__ADS_1
"Kamar mandi dimana? Pengen pipis nih!" Yeni beranjak bangun dari duduknya, terlihat sedikit kesusahan karena perutnya yang sudah membulat sempurna.
"Yuk sekalian Lily mau masak buat makan malam nanti." Yeni mengikuti Lily dari belakang.