
Masih tentang Rian!
Rian mendongak saat melihat seseorang mengulurkan sapu tangan ke arahnya. Wajah itu tersenyum, manis sekali. Gadis dengan rambut sebatas bahu berperawakan mungil pas dengan tinggi dan bobot tubuhnya. Dengan seragam setelan baby sitter sepertinya.
"Jangan nangis, mas. Boleh sedih tapi jangan berlarut." ujarnya dengan aksen Sunda yang sangat kentara. Lalu kembali menggerakan tangannya agar Rian mau menyambut sapu tangan darinya.
Rian mengambil sapu tangan itu dan mengelap sisa air mata dari wajahnya.
"Maaf sapu tangannya jadi kotor. Nanti akan ku cuci dan ku kembalikan." tapi gadis itu menggeleng. Seakan bilang tidak masalah. Setelah meminta ijin dia duduk di samping Rian, sambil memperhatikan anak asuhnya yang bermain bola tidak jauh dari sana.
Hening. Keduanya larut dalam fikiran masing-masing. Sesekali anak asuhnya berlari ke arahnya untuk sekedar pelukan atau ciuman lalu kembali lagi ke tempatnya bermain. Semua tidak luput dari perhatian Rian dan merasa terhibur dengan adegan di hadapannya.
__ADS_1
Harusnya Rian tidak lari saat ini. Dia butuh teman bukannya menyendiri di temani sepi. Ah ya, dasar bodoh! Nenek! Tentu nenek juga rapuh melihat nasib kedua cucunya. Di usianya yang renta ini dia lebih kuat dari semuanya.
"Aku harus pergi trimakasih sapu tangannya lain kali akan ku kembalikan." Lalu Rian bergegas pergi dari sana, menuju ke arah mobilnya. Kemudian ia ingat sesuatu dan berbalik lagi ke tempat semula. Gadis itu dan anak asuhnya tidak ada lagi disana. Bagaimana Rian akan mengembalikan benda miliknya? Dasar bodoh, kenapa tadi tidak tanya?!
***
Ana dan Jonathan duduk berdampingan, di depannya duduk sang ibu yang terlihat sudah lelah dengan kehidupan, namun ternyata hatinya lebih kuat dari kedua orang di hadapannya.
"Ini salahku, mas! Maaf aku sudah menyembunyikan kebenaran soal Adrian. Aku takut, aku marah sama diri aku sendiri. Aku gak tahan saat itu. Wajahnya sangat...bahkan semakin mirip dengan lelaki ******** itu." Ana menangis tergugu. Rahasia yang ia simpan puluhan tahun terkuak sudah.
"Aku gak jujur sama kamu mas. Harusnya aku bilang yang sebenarnya."
__ADS_1
Hening. Tidak ada yang berbicara, bahkan cicak pun yang biasanya berisik enggan mengganggu mereka.
"Aku terima keputusan kamu, jika saat itu aku takut kehilangan kamu, maka saat ini yang aku takutkan adalah kehilangan dia. Aku menyesal. Dan aku terima keputusan kamu karena kebohonganku!" Tidak ada isakan hanya air mata yang tak henti keluar dari mata bulat wanita itu.
Jonathan meraih tubuh rapuh sang istri ke dalam pelukannya, lalu mengelus punggung sang istri dan memberinya ketenangan disana.
"Tidak masalah. Anakmu, anak aku juga." Ana semakin terisak dalam dekapan sang suami. Tidak menyangka kalau sang suami akan menerima Rian dalam kehidupannya.
Rian seorang anak yang lahir karena rasa cinta yang membutakan dirinya. Percaya dengan omong kosong pria brengsek yang kemudian meninggalkannya di saat benih itu tumbuh subur di dalam rahimnya. Ana sadar. Semua itu kesalahannya, bukan kesalahan Rian. Tapi selama ini dia malah menghukum anak yang tidak bersalah.
Pantas saja jika tuhan menghukum dirinya dengan mengambil anaknya yang lain. Mungkin agar dia sadar jika bukan hanya Dena anaknya, tapi Adrian pun juga darah dagingnya!
__ADS_1