
Selesai makan malam, Bima bersama keluarga berada di ruang keluarga. Ini adalah malam terakhir Yumna karena besok Yumna akan berangkat ke Singapura.
Mereka mengobrol ringan dan saling melempar canda, sesekali Syifa berteriak karena kedua adiknya yang tidak mau diam. Selalu ada saja kelakuan mereka yang membuat Syifa kesal.
Bima dan Lily sampai pusing melihat mereka.
"Mas kenapa aku ngerasa kalau Syifa yang jadi anak bungsu ya?" lirih Lily di antara suara debat Syifa dan si kembar. Bima hanya tertawa kecil mendengarnya.
Lily menatap ke empat anaknya.
Yumna yang mandiri dan berfikiran dewasa. Syifa yang manja dan penakut. Dan duo rusuh... ya begitulah mereka! Sebelum ada teriakan dari sang ibu maka mereka tidak akan berhenti menjahili Syifa.
***
Yumna baru saja sampai di Singapura. Ratih menjemputnya di bandara sedangkan Adi masih sibuk mengurus pekerjaannya di kantor.
Dua puluh menit kemudian keduanya sampai di rumah mewah milik Ratih. Yumna segera menempati salah satu kamar yang sudah di siapkan neneknya. Yumna merebahkan diri melepas lelah setelah hampir dua jam di perjalanan.
Yumna menyalakan hpnya. Menelfon Lily bahwa dirinya baru saja sampai di kediaman nenek dan kakeknya.
Suara Lily seperti tertahankan di sana.
"Ma? mama nangis?" tanya Yumna mulai tidak suka jika Lily sudah mulai menangis.
__ADS_1
"enggak kok. Mama gak nangis." Lily menahan isakannya.
"Mama memang nangis kak Yumna!" teriak Syifa dari belakang.
"Kak Yumna kapan pulang, aku kangen. Aku gak ada yang jagain lagi!" protes Syifa.
"*Eh, baru aja kakak kamu sampai disana. Jangan manja!"
"Auuwww! Sakit ma*!" Yumna tertawa, pastilah Lily menyentil kening sang adik barusan.
Setelah selesai, dia membuka galeri. Menatap foto seorang pemuda. Aldy.
Yumna tersenyum mengusap foto Aldy, lalu dengan cepat dia menekan tombol delete dan menghapus semua foto-foto yang berhubungan dengan Aldy.
"Maaf Al. Sudah cukup selama ini aku suka dan cinta sama kamu!" ucap Yumna. Lalu setelah semua foto ia hapus Yumna pun tertidur karena lelah.
Ya. Alasan Yumna ke Singapura adalah untuk melupakan Aldy, meskipun rasanya tidak mungkin karena kedua orangtua mereka bersahabat.
Rasa rindu menggelayuti hatinya. Sosok yang setiap hari ia temui kini tidak bisa ia lihat lagi.
"Apa sih, lagian juga yang aku lihat itu selalu punggungnya!" Yumna menggelengkan kepalanya membuyarkan lamunan yang sedari tadi terus memonopoli fikirannya.
Yumna selalu fokus dan serius dalam belajar hingga ia menjadi mahasiswa yang di sayangi oleh para dosennya.
__ADS_1
***
Jakarta.
"Ihhh kalian nyebelin!!" teriak Syifa saat memasuki rumah. Kedua adiknya hanya mengangkat bahu saat Lily bertanya.
"Ma Syifa mau pindah sekolah aja! Gak mau satu sekolah sama mereka!" tunjuk Syifa pada kedua adiknya.
"Memangnya kenapa?"
"Mereka selalu gangguin aku! Syifa benci!" teriak Syifa lalu pergi ke kamarnya dengan langkah kasar.
Arkhan dan Azkhan menerima air yang di bawakan Lily lalu meminumnya.
"Kalian ngapain Syifa, huhh?" kedua tangan Lily bersiap menyambut telinga anak-anak nakalnya. Si kembar segera menutup kedua telinga mereka.
"Enggak kok ma. Kita cuma jagain Syifa dari cowok gak bener. Sumpah!" Azkhan mengangkat dua jarinya.
"Di sekolah Syifa selalu di ikutin sama temennya, kita cuma khawatir aja." Arkhan menambahkan.
Lily terdiam. Syifa memang tidak seperti Yumna yang pemberani dan bisa membela diri.
"Awas kalau kalian bikin ulah, nih!" ucap Lily bersiap dengan kedua tangannya yang di majukan membuat duo rusuh itu memundurkan dirinya.
__ADS_1