Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 91


__ADS_3

Pagi menjelang. Lily terbangun dengan rasa malas yang menderanya. Dia masih mengantuk karena semalam dia tidak bisa tidur dan baru terlelap pada hampir jam empat pagi. Fikiran Lily kembali pada kejadian semalam saat Bima menindihnya dan menciumnya dengan lembut.


Oooh ya ampun!!!


Lily memegangi kedua pipinya yang terasa panas. Dia melihat bayangan dirinya di cermin, wajahnya terlihat merah.


'Bagaimana ini. Aku harus bagaimana?' batin Lily beralih memegang dadanya yang berdetak tidak karuan.


Akhirnya setelah beberapa saat terdiam dan menetralkan detak jantungnya Lily beranjak bangun menuju kamar mandi.


Bima satria.


Aku turun dari lantai atas. Tercium bau harum makan. Pastilah Lily sedang masak. Aku masuk ke kamarku tanpa menyapa Lily. Biarkan saja dia memasak, aku tidak mau mengganggunya.


Selesai mandi aku pergi ke dapur, wangi masakan Lily benar-benar menggoda membuat perutku meronta minta di isi. Oh ayolah perut, aku sudah memperingati kan tadi saat di atas, kita langsung berangkat ke kantor! Tapi perutku hanya menjawab dengan nyanyian, dan langkah kaki ku tidak bisa ku tahan untuk tidak melangkah ke dapur. Sialan!


Lily tersenyum, di depannya sudah terhidang makanan. Nasi goreng udang!! Wow!!


Eits tanganku, kenapa langsung mengambil piring dan menyodorkannya pada Lily? Dasar!!


"Cuma ada ini mas, gak pa-pa ya. Lily belum belanja." ucapnya. It's OK ini juga tidak buruk, malah aku suka.


Lily makan sambil memainkan hpnya, wajahnya berseri, bibirnya juga tersenyum kadang bergumam mengomentari yang ia lihat di layar hpnya. Sesekali juga memperlihatkan apa yang dia lihat padaku.


Ini anak, apa dia sudah lupa dengan yang semalam?


Makanan hampir habis di piring ku, tapi jujur aku masih ingin tambah. Entah kenapa selera makan ku jadi bertambah banyak akhir-akhir ini. Membuat lemak di perut ku menumpuk, dasar Lily kalau aku kehilangan perut kotak ku, dia yang pertama kali akan aku salahkan!


"Mas, maafin yang semalam ya." ucap Lily membuat aku mengalihkan pandanganku dari piring ke arahnya.

__ADS_1


"Dan soal itu...anu... emmm... itu di... kamar... eee.." ucapnya, mungkin bingung ingin mengatakan apa. Lily bergerak gelisah di dalam duduknya.


"Soal ciuman itu?" tanyaku.


"Aku udah lupain kok. Gak usah khawatir." ucapku lagi lalu segera menghabiskan makanan ku dan menyimpan piring kotor di wastafel.


"Mau bareng apa sendiri?" tanyaku. Dia tersentak seperti sedang melamun.


"Eh, iya. Sendiri aja deh. Lily mau mampir dulu."


Aku melangkah meninggalkan Lily yang masih duduk di meja makan.


Ya ampun. Pekerjaanku. Kapan akan selesai? Terkadang aku merasa bosan dan ingin sejenak pergi dari sini dan tidak memikirkan soal pekerjaan, rasanya sangat sulit sekali.


Aku sedang mengincar tender besar dari salah seorang pengusaha dari Singapura. Sudah lama sekali aku mengincar perusahaan itu untuk menjalin kerjasama di bidang otomotif. Ya selain perhotelan aku juga punya perusahaan yang menyediakan onderdil kendaraan, lumayan lah tidak besar, tapi cukup untuk membuat lawanku merasa panas karena tersaingi olehku. Dan kalau aku bisa memenangkan tender itu aku yakin perusahaanku akan lebih maju lagi.


Aku menyandarkan diriku di sandaran kursi. Rasanya nyaman sekali, membuat rasa kantuk datang menyelimuti. Kejadian semalam membuat aku tidak bisa tidur sama sekali, padahal aku sangat mengantuk tapi semalam gara-gara Lily yang menakutiku dan berakhir dengan kami berciuman di kamar. Fiuhhh. Untunglah tidak terjadi sesuatu lebih dari itu.


"Mas." suara seseorang membuat aku mau tak mau membuka kedua mataku.


"Eh. Na?" kulihat Dena istriku datang dengan membawa kotak makanan yang cukup besar pasti untuk makan siang.


Aku berdiri dan mendekat menyambut kedatangan istriku. Mencium keningnya yang mengkerut. Kenapa sih dia?!


"Mas tuh ya, kenapa Lily di suruh kerja. Dia kan masih sakit, mas!" cerocosnya masih panjang lagi.


Sakit apanya? Semalam aja udah sehat kok! protesku, tapi dalam hati.


Tak lama pintu kembali terbuka, istri keduaku datang... Lily maksudku, membawa minuman untuk Dena. Dan dia menyimpannya di atas meja.

__ADS_1


"Aku ke rumah tapi kamu gak ada!"


Lily tersenyum tanpa bicara.


"Harusnya kamu istirahat di rumah, gimana kalau kamu pingsan lagi?!" seru Dena. Lily hanya tersenyum sambil memeluk nampan yang ada di tangannya.


"Lily udah baikan kok, mbak. Lihat." Lily memutar tubuhnya memperlihatkan pada Dena kalau dia sangat sehat. Ya dari semalam juga sehat kok. Dena tidak tahu saja apa yang dia lakuin semalam sama suami tercintanya ini.


"Tapi harusnya kamu istirahat paling enggak sehari ini, Ly! Kamu juga mas, tega banget gak ngelarang Lily. Gimana kalau dia pingsan lagi coba?!" Ya ampun kenapa Dena jadi cerewet gini sih?


"Mbak, udah deh. Lily sehat kok. Lily bosan kalau di rumah. Lagian mas Bima juga gak maksa Lily buat kerja. Lily yang mau." Aku mengangguk membenarkan.


"Kemarin Lily cuma kehujanan."


"Kok bisa?"


"Lily lupa bawa jas hujan, mbak."


"Kamu pakai motor?" seru Dena. "Ya ampun! terus buat apa ada mobil? Buat pajangan? Itu buat kamu pakai, Lily!" seru Dena gemas. Astaga!!


"Em itu. Tanggung mbak, kemarin udah mau sampe rumah sih sebenarnya jadi terus aja pulang gak nepi, gitu!" ucap Lily sambil menunduk.


"Mana kunci motor kamu?" tangan Dena terulur.


"Eh, mbak mau apa?" Lily tersentak.


"Mulai besok gak boleh pake motor lagi!"


"Tapi mbak...!"

__ADS_1


"Gak ada TAPI!" ya ampun. Lihat. Debat indah para istri yang biasanya berperang, tapi di depanku ini mereka debat karena saling perhatian. Indah sekali. Ehh...?!


__ADS_2