Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 60


__ADS_3

Bima Satria.


Aku kembali ke kantor pada jam tiga. Niatnya, hanya pulang untuk makan kepiting dan lobster bersama Lily. Tapi ternyata dia sudah masak dan aromanya lebih menggugah selera dari pada makanan yang ku bawa. Jadilah satu makanan yang ku bawa, ku berikan pada satpam rumah kami. Aku fikir Lily akan kesusahan mengingat hari ini asisten tidak datang, tapi ternyata gadis itu tangguh juga. Menahan rasa sakit di kakinya dan pergi memasak. Padahal dia bisa kan pesan online saja!


Satu kalimat yang membuat aku tidak suka darinya adalah saat dia mengatakan "Nanti takut gak laku kalau aku udah pisah dari mas Bima!"


Rasanya menyebalkan!


Lily tidak terlalu buruk kurasa. Dena juga suka Lily, dalam artian Dena selalu menyebut Lily sebagai adiknya, ya mungkin karena Dena juga anak tunggal. Sama seperti aku!

__ADS_1


Jika nanti Lily pergi apakah Dena akan bisa terima? Apakah Dena akan bisa tertawa lagi seperti sekarang ini? Tawa yang sudah lama aku tidak dengar, tapi saat kehadiran Lily, Dena jadi lebih sering tertawa.


Semoga saja, saat waktunya tiba Dena tidak akan berubah. Dia akan bisa terus tertawa meski Lily tidak bersama kami lagi. Semoga!


Dua hari aku tidak mengizinkan Lily bekerja. Kakinya sudah mulai sembuh kurasa karena ku lihat cara berjalannya juga sudah agak normal. Tidak lagi tertatih seperti kemarin. Hanya saja bekas luka merah di kakinya masih terlihat.


Aku berusaha fokus kembali ke layar laptopku. Beberapa pekerjaan yang tadi sempat tertunda karena aku harus mendadak keluar untuk meninjau cabang yang ada di luar kota. Ada satu masalah yang tidak bisa mereka tangani dengan seorang investor. Untunglah, setelah aku bertemu dengannya, akhirnya masalah itu selesai. Tidak masalah bagiku jika dia mau mencabut sahamnya dari perusahaan cabang itu. Saham yang tidak seberapa jika di banding dengan tingkat rewelnya dia dan aku juga sudah jengkel dengan perilakunya. Yah terserahlah!


Suara nafas Lily terdengar jelas, dia masih asyik meniup coklat panasnya lalu menyeruputnya dengan nikmat. Ya ampun. Tidak bisakah Lily diam, suaranya membuat aku merasa kepanasan! Panas? padahal ini sudah pakai AC.

__ADS_1


"Aku keluar sebentar." ucapku Lily mengangguk tapi pandangannya masih tertuju pada layar tv.


Di luar udara terasa dingin. Bintang hanya ada beberapa menemani bulan yang hanya terlihat setengah. Angin malam yang bersemilir membuat beberapa pohon meliuk-liuk, apalagi tanaman yang kecil, menari-nari dari tempatnya. Pak Dani yang melihat aku keluar hanya menganggukan kepalanya dengan sopan. Berjalan-jalan sedikit di taman mungkin bisa membuatku rileks.


Fikiran tentang Lily selalu mengangguku akhir-akhir ini. Mungkin karena Dena terus mendesak dan selalu menanyakan soal anak padaku. Ya ampun, aku belum bisa memberikan yang Dena mau. Dan aku juga tidak mampu! Aku masih tidak mampu melakukannya dengan Lily. Lagipula ada perjanjian yang sudah aku buat dengannya! Apa perlu aku buat perjanjian baru!


Tidak!


Jika Lily hamil dan melahirkan anak tentu Dena juga tidak akan mengizinkan aku untuk menceraikan Lily. Sedangkan aku hanya ingin Dena seorang!

__ADS_1


__ADS_2