Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 190


__ADS_3

Kepergian ke Singapura batal! Entah bagaimana nanti jadinya, aku tidak peduli. Biarkan saja kalau pihak dari perusahaan XX tidak mau menjalin kerja sama lagi denganku. Memang itu adalah kesempatan emas, perusahaanku akan semakin maju jika ikut bergabung dengan mereka. Tapi yang aku pedulikan sekarang adalah keadaan putriku! Dia lebih baik dan lebih penting dari segalanya. Bahkan lebih dari hidupku!


Terjawab sudah atas semua mimpi yang aku alami selama ini. Una bersama dengan seorang anak yang matanya mirip denganku. Yumna! Anakku!


"Sayang, kamu makan dulu ya. Mumpung Yumna juga masih tidur!" Celia sedari tadi terus membujukku makan.


Dia sudah tahu cerita tentang Yumna dan Una, walaupun ada raut kecewa di wajahnya tapi jujur aku senang dengan Celia bisa menerima Yumna sebagai anakku, dia bilang, 'Gak pa-pa, milikmu milikku juga. Kamu sayang Yumna, aku juga akan berusaha sayang dia.' Aku tidak menyangka dia akan bersikap bijak.


"Sayang, gimana kamu mau jagain Yumna kalau kamu juga gak bisa jaga diri kamu sendiri? Aku suapin ya." Kali ini aku menurut, membuka mulutku menerima suapan darinya. Masih dengan memandang Yumna yang tertidur setelah diberi makan dan obat tadi. Di keningnya terdapat perban yang baru saja di ganti oleh perawat. Infus dan labu darah berada di kedua sisi ranjang Yumna.


Adit duduk di sofa. Dia sedang menyandarkan kepalanya dengan mata tertutup.

__ADS_1


Malam harinya, aku dan Adit menjaga Yumna bersama-sama. Mama dan papa aku telfon tadi dan mereka akan menggunakan penerbangan pertama besok, mungkin siang mereka baru akan sampai.


"Jadi Lily udah menikah lagi?" Adit mengangguk mengiyakan. Agak kecewa mendengarnya.


"Apa dia bahagia dengan suaminya?" tanyaku lagi. Berharap apa aku, tentu mereka menikah karena Lily merasa bahagia dengan dia kan? Hampir empat tahun, dan semua itu mungkin saja mengubah perasaan Lily.


"Saat malam sebelum pernikahannya, gue lihat Lily nangis di dalam kamar..." dan dari sana mengalir cerita tentang Una.


"Udah satu bulan ini Lily koma. Gue udah ingkar janji sama dia buat rahasiain Yumna dari elo. Lily pasti masih ngerasa takut. Entah takut elo akan batalin pernikahan elo, atau takut kalau Celia gak akan bisa nerima kehadiran Yumna sebagai anak elo!"


Aku hanya terdiam. Ya, mungkin memang benar apa yang Lily fikirkan, itu bisa saja terjadi kan? Tapi dari sikap Celia tadi, dia bisa menerima Yumna sebagai anakku.

__ADS_1


"Sorry. Kalau aja Yumna gk kecelakaan gue mungkin gak akan bilang yang sejujurnya. Gue cuma pengen dia ngerasain pelukan dari ayahnya sebelum elo nikah dan jauh dari sini."


"Mama...mama..."Lirih Yumna, aku dan adit segera beranjak dari sofa mendekat ke arah tempat tidurnya. Sepertinya dia bermimpi buruk! Yumna tidur dengan gelisah. Ku lihat dia membuka matanya, aku tersenyum melihat matanya yang sama denganku.


"Papi..." lalu Yumna menangis mengulurkan tangannya ada Adit. Harusnya aku yang menggendongnya kan? Harusnya aku yang memeluk dia. Hatiku rasanya kecut saat dia tidak mengenali papa nya, ayah kandungnya.


Dan tetap saja, semua itu salah ku. Harusnya aku tidak mengatakan akan menceraikannya saat itu, saat Lily sudah menyerahkan seluruh hidupnya untukku.


Semua aku yang salah!


Bima pov end.

__ADS_1


***


__ADS_2