
Aku terdiam duduk di bangku taman. Ini masih jam tujuh malam dan aku masih enggan untuk pulang.
Seorang anak laki-laki berusia lima tahun, mungkin, terlihat mengendarai sepedanya yang di beri ban kecil di kedua sisinya. Di belakangnya menyusul sang papa yang sama-sama mengayuh sepeda yang lebih besar dari sang anak. Mereka saling berkejaran dengan riangnya. Di arah depan terlihat sang ibu yang sedang melambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Wajah mereka begitu bahagia.
Aku juga sama ingin seperti mereka. Bahagia dengan seorang anak atau beberapa mungkin. Tapi Dena belum juga mampu memberikan aku anak hingga saat ini. Prediksi dokter Dena akan sangat sulit punya keturunan. Tapi baru prediksi kan? Siapa tahu nanti walaupun entah kapan Tuhan memberikan kemudahan untuk kami. Memberikan keajaiban kepada Dena untuk bisa mengandung. Tapi kenapa Dena seakan sudah menyerah dan membuatku menikah dengan Lily?
Malam semakin dingin, suasana perumahan sudah sepi sedari tadi. Hanya ada satu atau dua kendaraan yang lewat di jalanan perumahan ini.
"Mas. Aku cari dari tadi!" suara Lily mengagetkanku, dia terengah seperti habis berlari saja.
"Mbak Dena!" ucap Lily terpotong karena dia menarik nafas dalam-dalam.
"Kenapa dengan Dena?" tanya ku khawatir. Tidak biasanya Lily menyebut nama Dena.
"Gawat!" ucapnya membuatku semakin penasaran.
__ADS_1
"Apa?" seruku.
"Mbak Dena telfon dia mau kesini mas. Mungkin setengah jam lagi!" ucapnya tak kalah seru.
Terus??!!
Aku masih terdiam bingung.
"Ya ampun! Gawat kalau mbak Dena tahu kita tidur beda kamar lah!" serunya saat melihat aku masih melongo, tidak mengerti. Aku menepuk jidatku. Benar. Dulu Dena mengamuk saat tahu aku dan Lily tidur di kamar terpisah! Dia mendiamkan kami, dan parahnya saat seminggu aku bersama Dena pun dia tetap diam dan cuek. Kalian juga tahu kan kalau wanita marah seperti apa?!
Peluh bercucuran, kami langsung memindahkan pakaian Lily ke kamar bawah, kamarku! Semua, tas, sepatu, berkas, tanpa terkecuali. Pakaian kotor kami masukan ke dalam mesin cuci. Dan foto-foto yang terpajang di dinding kamar Lily juga di bawa semua.
Lily's bedroom is clear!
Sekarang tinggal menatanya di kamarku. Berantakan sekali kelihatannya, tapi Lily dengan cekatan membereskan dan menatanya dengan rapih dan cepat ke dalam lemari. Memasang beberapa foto dirinya di dinding. Eh, dia mengganti gambar anak kucingku? Ah sudahlah! Dena beberapa menit lagi sampai. Dia bilang sedang membeli sesuatu di depan kompleks.
__ADS_1
Suara bel berbunyi beberapa kali. Aku menyuruh Lily membuka pintu sedangkan aku akan membereskan sisanya. Lily mengangguk lalu keluar dari kamarku. Hanya ada beberapa foto berbingkai yang masih berserakan di lantai. Oh ya tuhan. Dasar perempuan! Untuk apa foto banyak-banyak?!
Bima pov end.
***
Author pov.
Setengah berlari Lily menuju pintu depan, nafasnya terengah. Dena masih menekan bel sekali lagi, dan berhenti saat melihat Lily membuka pintunya.
Dena terdiam melihat Lily yang berantakan dengan peluh yang membanjiri pelipisnya. Rambut Lily tidak teratur, dan pakaiannya sedikit kusut, nafasnya bersahutan. Dena berusaha tersenyum, dadanya bergemuruh.
"Mbak Dena, lama nunggu ya?" tanya Lily dengan cengirannya, dada Lily berdebar pasalnya takut jika Bima belum selesai dengan sisa kekacauan di kamar Bima.
"Na. Kamu udah sampai?" suara Bima tepat di belakang Lily.
__ADS_1