Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 93


__ADS_3

"Na?" aku terbangun dan tidak menemukan Dena di sampingku. Pintu ruangan sebelah terbuka sedikit dan lampunya menyala. Ruang kerja Dena.


Dena masih berkutat dengan sketsa nya.


"Hei." sapaku sambil mencium puncak kepalanya. Dia menatapku lalu tersenyum. Terlihat gurat lelah di wajah cantiknya. "sudah malam, ayo tidur." titahku.


"Aku harus selesaikan ini mas. Besok aku harus ketemu mbak Yana. Lihat. Mas suka tidak?" dia memperlihatkan gambar desain baju pengantinnya buatannya.


"Cantik. Aku suka." Dena kembali melihat gambaran tangannya puas, lalu menyimpan kembali ke atas meja.


"Tapi ini belum selesai semuanya. Ada beberapa yang belum aku tambahkan."


Aku terdiam melihat tangan lentiknya yang terus menggoreskan pensil di atas kertas itu. Tangannya sangat terampil membuat gambar yang indah.


"Maaf ya mas, waktu itu aku gak bisa buatin Lily baju pengantin." sesalnya.


"Gak pa-pa, tapi itu kamu yang desain kan!" ucapku mencoba untuk menghibur Dena. Waktu itu Dena masih kurang sehat karena keadaan tangannya yang masih cedera pasca oprasi. Ingatkan saat aku bilang Dena menyayat pergelangan tangannya? Dena masih berusaha keras untuk memulihkan tangannya hingga sekarang. Dia masih mengikuti beberapa therapi untuk memulihkan keadaan tangannya.


"Tapi tetap aja itu bukan aku yang buat."


"Bagi aku sama aja. Itu ide dari kamu juga."

__ADS_1


Bima Pov end.


***


Sebenarnya tadi pagi Dena memaksa pulang dari rumah sakit walaupun sahabatnya, Wina, dan sang kakak melarangnya pulang. Tapi dasar Dena keras kepala! Rian tidak bisa melakukan apa-apa hanya menuruti keinginan Dena.


"Inget, ini obat jangan sampai lupa di makan." Dena mengangguk saat Wina mengingatkan.


"Na harusnya kamu di rawat dengan intensif supaya kami bisa memantau kondisi kamu."


"Aku gak bisa sekarang. Kamu juga tahu kan alasannya. Janji deh kalau aku udah gak kuat, aku akan datang lagi. Dan aku akan nurut semua yang kamu bilang. I swear." Janji Dena pada Wina. Wina memeluk Dena dengan sayang.


"Aku doain yang terbaik buat kamu!" Dena mengangguk tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada Wina.


***


Malam semakin larut tapi Lily masih belum juga tidur. Dia sengaja menahan diri walau kantuk sudah merajainya. Berkali-kali menguap tapi ia tahan dan ia tepiskan.


Lily duduk di meja dapur. Di depannya sudah ada sebuah kue ulang tahun sederhana yang tadi pagi ia pesan, dengan lelehan coklat di setiap sisinya. Bunga mawar berwarna pink dan putih menghias indah di setengah lingkaran tepinya. Tidak lupa di atasnya Ada namanya dan angka dua dan empat yang saling bersandingan. Lalu di sebelah kue itu ada dua buah bingkai foto yang ia berdirikan saling berseberangan. Sambil membayangkan orang-orang yang ada di foto itu hadir di hadapannya. Lily dengan susah payah menghadirkan mereka secara nyata di depannya. Mungkin orang lain akan menganggapnya gila karena tersenyum dan berbicara sendiri saat itu.


Bayangan bapak, dan ibu Lily yang duduk bersebelahan dengan senyum khas mereka masing-masing. Lalu di sebelah ibu Lily, Bimbim kecil bertubuh gempal, dengan kaos biru langit kesukaannya. Juga dengan senyum manisnya, tidak lupa poni tebal yang menutupi alis tebalnya.

__ADS_1


Lily tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Berkali-kali menghapus air matanya agar tidak keluar, tapi sulit sekali.


Jam tepat menunjuk angka dua belas malam. Lily mulai menyalakan lilin hingga keadaan di dapur yang gelap menjadi temaram karena cahaya lilin.


"Happy birthday Una!"


"Happy birthday Una!"


"Happy birthday. Happy birthday, hikss..."


"Happy birth hikss.. day to me. Hikss..."


Lily menahan isakannya lalu meniup lilin yang ada di depannya. Seiring dengan menghilangnya cahaya lilin bersamaan dengan itu bayangan ketiga orang yang disayanginya menghilang. Lily menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Pagi menjelang. Lily terbangun di atas meja makan dengan posisi menunduk di atas meja di topang satu lengannya. Sedangkan satu tangan lain memegang bingkai foto berisi kedua orang tuanya.


Lily menegakkan badannya, rasanya pegal sekali. Rupanya semalam Lily menangis sampai tertidur disana. Lily menyimpan bingkai foto itu dan merenggangkan tubuhnya, tangannya ia tarik ke atas sepanjang yang ia bisa.


"Selamat pagi, ibu, bapak, mas Bimbim." sapanya pada kedua foto di hadapannya. Lily tersenyum meski orang-orang itu tidak akan pernah menjawabnya. "Trimakasih kalian ada selama ini."


"Ah iya Lily lupa! Hari ini Lily akan menemani mas Bima presentasi dengan pengusaha asal Singapura. Doain ya semoga berhasil!" ucap Lily dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dada dengan bersemangat.

__ADS_1


Lily menyimpan kue tersebut ke dalam kulkas dan pergi untuk mandi di kamar Bima. Baju Lily belum di pindahkan juga soalnya. Dan rasanya Lily sekarang mulai malas tidur di kamarnya sendiri!


__ADS_2