Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 120


__ADS_3

Lily tengah bersiap, dia menatap dirinya di cermin sekali lagi. Gaun yang di berikan Adit minggu lalu sangat pas di tubuhnya. Cantik sekali. Gaunnya maksud Lily.


"Mau kemana?" tanya Bima saat Lily akan menutup pintu kamarnya. Bima memandang Lily dari atas sampai bawah laku kembali lalu ke atas. WOW!


"Eh mas, katanya lagi ketemuan sama yang lain?"tanya Lily bingung mendapati Bima disana.


"Mas ngapain kesini, ada perlu?" tanya Lily heran karena Bima jarang sekali naik ke lantai atas. Seingatnya tidak pernah malah!


Bima tersadar, "Eh enggak." Bima merasa canggung. Dia kembali menyimpan kotak ke dalam saku jaketnya. "Kamu mau kemana?" tanya Bima lembut.


"Mas Adit ajak aku makan malam. Boleh kan?"


"I-iya."


"Gimana penampilan aku mas? Gaunnya cantik gak? Mas Adit yang pilih." tanya Lily.



Bima terdiam melihat Lily yang sangat berbeda menurutnya, cantik dan Seksi. Bima tidak menyangka Lily bisa secantik ini. Apalagi kaki jenjangnya. Dan lehernya... Glek!!


"Mas kok diem aja!" seru Lily. "Bagus gak?" tanya Lily sekali lagi.


"Gak. Gak bagus. Kalian kan cuma makan malam, bukan mau ke red karpet kan! Ganti!"


"Tapi mas...!"


"Kalau gak ganti gak usah berangkat!" ucap Bima tegas.

__ADS_1


"Tapi mas. Lily suka bajunya, bagus."


"Apa, baju kependekan juga bagus dari mana. Ganti!"


"Tapi ini juga ada outernya mas!" Lily tetap kekeh.


"Ganti!" tunjuk Bima tegas ke dalam kamar Lily. Meskipun ada outer juga gak mungkin kan Lily akan memakainya selama makan malam?


Lily memberengut kesal dia kembali ke dalam kamar dengan sedikit membanting daun pintu. Bima menghela nafas berat. Lalu turun ke lantai bawah saat mendengar suara bel pintu berbunyi.


Adit dengan senyuman khasnya. Tapi langsung sirna saat yang membuka pintu adalah Bima.


"Ngapain lo kesini?" taya Bima sambil melipat kedua tangannya di dada, punggungnya ia sandarkan di pintu.


"Mau jemput Lily." ucapnya. Bima melihat bunga di tangan Adit yang pasti untuk Lily. Bunga mawar berwarna pink dan merah yang memang terlihat indah.


"Ganti baju. Tunggu aja disini!"


"Gak nyuruh gue masuk nih!"


"Gak!" ucap Bima datar. Adit mendecih tidak suka.


"Makan malam dimana?" tanya Bima setelah beberapa saat.


"Cihh. Mau tahu aja deh lo!"


Bima merasa geram.

__ADS_1


"Ya gue harus tahu lah kemana lo akan bawa Lily pergi. Gue harus pastiin keselamatan Lily!" ucap Bima tanpa mengubah ekspresi nya.


"Ya ampun. Gue ngerasa sekarang lagi hadepin calon mertua. Please deh umur lo itu cuma beda satu tahun di atas gue. Bisa gak sih bersikap gak kayak orang tua!" sarkas Adit.


"Gak! Lily tanggung jawab gue!"


"Delapan bulan lagi!" Adit mengingatkan membuat Bima semakin kesal.


"Tetep aja..."


Pintu di buka lebar dari dalam.


"Mas Adit udah lama nunggu?" Lily keluar dari dalam rumah.


"Loh baju yang mas Adit kasih mana? kok gak di pakai?" tanya Adit.


"Itu.. anu.. emm..."


"Gue gak ijinin dia pakai baju itu. Apa, baju jelek kurang bahan lo kasih ke Lily?" ejek Bima. "Rancangan Barli Asmara dong!" ucapnya lagi.


"Trus gue harus naik ke akhirat atau ngegali kuburannya buat minta dia bikinin baju khusus buat Lily?" tanya Adit kesal. Bima mengerutkan keningnya sementara Lily menahan tawa.


'Apa mas Bima gak tahu kalau Barli Asmara udah almarhum?' batin Lily.


"Dia itu udah gak ada Mas!" ucap Lily akhirnya. Bima mengedikan bahunya tak peduli.


"Sekali lagi lo protes soal baju. Jangan harap gue ijinin lo bawa Lily keluar!" tunjuk Bima tepat di depan wajah sang sahabat.

__ADS_1


"Oke deh, oke! Ya ampun Ly. Mas Adit punya sahabat rasa mertua ini!" Bima melotot sedangkan Adit menarik Lily dan bersembunyi di belakang punggung gadis itu.


__ADS_2