Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
extra part. push up.


__ADS_3

Pak Naryo kembali mengemudikan mobilnya ke rumah.


Mobil sudah sampai di depan rumah. Bima sedari tadi menunggu duduk di kursi di depan teras, tidak sabar menunggu anak lelakinya pulang.


Tidak biasanya Arkhan pergi sendirian tanpa Azkhan dengan waktu selama ini. Tapi bukan itu yang membuat Bima marah.


"Lima menit lagi ma." ucap Arkhan saat ada seseorang yang menggoyangkan bahunya. Arkhan masih tertidur di sandaran kursi malah mengubah posisi tidurnya miring membelakangi Bima. Bima yang sudah mulai geram dengan kelakuan anaknya menarik paksa telinga Arkhan.


"Aaahhh, sakit, sakit!!!" teriak Arkhan yang mau tidak mau membuka matanya.


"Arkhan!!!" geram Bima menarik paksa putranya keluar dari mobil.


"Aaahhh papa. Ampun pa. Lepas. Sakit!" rintih Arkhan dengan nada di buat memelas, tapi Bima tidak terpengaruh sama sekali.


Bima membawa Arkhan masuk ke dalam rumah masih dengan menjewer telinga Arkhan.


"Ma. Mama. Tolongin Arkhan ma. Sakit. Ini..." Arkhan mencoba meminta pertolongan dari mamanya.


"Tahu rasa kamu! Mama gak mau ikutan ah." Ucap Lily yang membuat mata Arkhan membelalak tak percaya. Biasanya Lily selalu menolongnya di saat akan di hukum oleh papanya. Lily mengajak Syifa pergi ke ruang tv dan menikmati kuenya dengan santai.


"Kak Syifa!!! Tolongin!!" teriak Arkhan. Syifa hanya menjulurkan lidahnya dari tempat duduknya. Bagitu juga dengan Azkhan yang akan kabur ke arah kamarnya tak luput dari panggilannya.


"Selamat menikmati!" Azkhan melambaikan tangannya smbil terus naik ke atas tangga.


"Azkhan!" seru Bima membuat Azkhan menghentikan langkahnya. "Sini kamu!" tunjuk Bima ke samping Arkhan.


Azkhan yang sedikit heran dengan panggilan papanya lalu mendekat.


"Apa pa?" tanya Azkhan.


"Mau kemana kamu?" tanya Bima dengan tegas.


"Ke kamar pa."


"Push up kalian!" titah Bima membuat Lily dan Syifa tertawa melihat wajah takut si kembar.


"Tapi pa, salah Arkhan apa?"


"Aku juga, apa?" keduanya tidak mengerti.


"Kamu..."


Arkhan mengangkat satu tangannya.


"Ada pertanyaan?"


"Lepasin dulu tangannya dari telingaku pa, sakit!" pinta Arkhan.

__ADS_1


"Oh, ya lupa!" ucap Bima melepas jewerannya.


Mama sama papa sama aja, kalau udah jewer telinga pasti lupa buat lepasin! Arkhan mengelus telinganya yang pasti sudah merah.


"Kalian push up tiga puluh kali..." tunjuk Bima pada Azkhan. "...dan kamu lima puluh kali!" tunjuknya pada Arkhan.


"Loh kok aku lebih banyak pa?" protes Arkhan.


"Salah aku apa pa?" protes Azkhan.


"Kita gak melakukan kesalahan pa!" keduanya bersamaan.


"Tidak melakukan kesalahan?" Bima melotot membuat kedua kembarnya itu menundukkan kepala.


"Kalian fikir membawa mobil sebelum mendapat SIM itu bukan kesalahan?" Bima menatap tajam keduanya.


Arkhan dan Azkhan masih menunduk, menyadari kesalahannya.


"Maaf!" seru keduanya berbarengan.


"Lalu kenapa kalian masih diam saja?" tanya Bima. "Cepat push up!!" teriak Bima yang membuat keduanya langsung melantai di bawah.


"jangan lupa di hitung!" seru Bima lalu duduk tak jauh dari mereka.


"Tapi pa, kenapa aku lima puluh Azkhan tiga puluh?" protes Bima.


"Adikmu itu pulang tepat waktu!" ucap Bima dengan santai sambil melahap kue dari tangan istrinya. "Cepat hitung!" teriak Bima.


"Dua..." Azkhan. Dan seterusnya.


Terselip ide jahil Syifa pada kedua adiknya. Syifa menghampiri kedua adiknya yang tengah push up lalu dengan seenaknya dia berbaring, tubuh atasnya di atas punggung Arkhan sedangkan pinggang ke bawah di punggung Azkhan.


"Syifa berat!!" seru Azkhan.


"Syifa turun!!" Teriak Arkhan.


"Gak mau!" Syifa masih tetap tenang dengan tersenyum menang. Kapan lagi si duo itu tidak bisa berkutik.


"Papaa...Syifa...!!!" teriak si kembar pada papanya bersamaan.


"Hukuman ditambah masing-masing sepuluh karena kalian tidak menghormati kakak kalian." ucap Bima tegas.


"Gak adil pa!" protes Arkhan.


"Gak mau!" Azkhan.


Syifa hanya tertawa penuh kemenangan di atas tubuh keduanya.

__ADS_1


Arkhan dan Azkhan saling menatap lalu tersenyum. Mereka kemudian menarik turunkan tubuh mereka, awalnya pelan, masih sambil menghitung, tapi kemudian gerakan mereka menjadi cepat dengan tak beraturan hingga Syifa pun terguling ke arah kaki adik kembarnya.


"Awww!!" pekik Syifa yang membuat Lily bangkut dari duduknya dan melihat keadaan Syifa. Si duo kembar terduduk, tertawa melihat rambut Syifa yang acak-acakan hingga mereka lupa dengan hukuman mereka.


Syifa hanya mendengus kesal, niatnya menjahili adiknya malah dia yang di jahili mereka.


"Hei. Lanjutkan hukuman kalian!" teriak Bima menghentikan tawa si kembar dan kembali dengan posisi siap untuk push up.


"Tadi udah berapa?" tanya Arkhan.


"Lupa. Berapa ya?" tanya Azkhan balik.


"Trus gue tanya sama siapa?" Arkhan kesal.


"Kenapa malah ngobrol?" tanya Bima ketus. "Lanjutkan!"


"Tadi udah berapa pa?" tanya Azkhan pada papanya.


"Mana papa tahu?!" ucap Bima cuek. "lakukan dari awal lagi! lalu hitung dengan benar jangan sampai lupa!"


"Yaaa papa gak adil!" seru keduanya.


"Itu adil. Sekalian hukuman karena kalian suka menjahili kakak kalian!" ucap Bima, membuat Syifa tertawa keras, puas dengan hukuman dari papanya untuk mereka.


Keduanya beralih menatap Syifa dengan tajam.


"Gara-gara kamu!" desis Arkhan.


"Papaa... " teriak Syifa dan lari bersembunyi di belakang tubuh Bima.


"Mau kalian tambah lagi hukumannya?!" teriak Bima.


Akhirnya si kembar pun melakukan push up hingga tidak kuat lagi.


"Nyerah pa." wajah Arkhan sudah mencium lantai.


"Aku juga." Azkhan ambruk setelah menyelesaikan hukumannya.


Syifa tertawa melihat keduanya tak berdaya.


"Ayo semua makan malam!" Lily memanggil suami dan anak-anaknya.


Arkhan dan Azkhan bangkit dari lantai berjalan gontai ke arah ruang makan.


"Haha... Rasakan!!!" Syifa berlari mendahului kedua adiknya sambil tertawa mengejek. Arkhan dan Azkhan menatap Syifa dengan pasrah, sudah tidak ada lagi minat untuk menjahili kakaknya. Mereka berdua sangat lelah.


Lily menatap ketiga anaknya itu. Lalu mencubit perut kotak milik suaminya.

__ADS_1


"Kamu ini hobi jahilin anak sendiri, suruh push up sampe tepar." ucap Lily. Bima mengelus perutnya yang terasa panas.


"Emang kenapa sih, kamu mau di jahilin juga? Mau di push up-in juga? Nanti setelah kita di kamar. Cup!" Bima mencium pipi Lily lalu berjalan meninggalkan Lily yang masih mematung dengan wajah semerah kepiting rebus.


__ADS_2