
Dena berjalan mondar-mandir di depan teras. Ini sudah sangat malam, seharusnya Bima sudah pulang sebelum jam tujuh tadi. Jam sudah menunjuk lebih dari angka sepuluh.
Dena cemas, karena sedari tadi Bima tidak mengangkat telfon nya. Lily juga bilang tidak tahu karena setelah pertemuan tadi dengan mr. Hendrik mereka pulang terpisah. Begitu juga dengan para sahabat Bima. Tidak ada yang tahu.
Mata Dena sudah berkaca-kaca. Fikirannya sangat khawatir. Bayangan-bayangan buruk mulai terlintas di otaknya.
'Kemana kamu, mas?' lirih Dena.
Dena tidak suka jika Bima seperti ini. Menghilang tanpa kabar. Akan lebih baik jika Bima ada di rumah Lily atau di salah satu sahabatnya, setidaknya Dena akan merasa lebih tenang.
"Na!" Dena menoleh. Rian datang menghampiri sang adik yang terlihat gelisah.
"Mas Bima belum pulang, mas." Rian melihat sang adik dengan nanar. Dena terus melihat ke arah gerbang siapa tahu mobil Bima datang, tapi gerbang itu kosong. Hanya ada satpam yang sesekali mengecek keadaan di luar.
"Mas, akan cari!" ucap Rian tidak tahan melihat wajah sang adik yang terlihat sedih.
Telfon berbunyi. Lily.
"Halo Ly!"
"..."
Dena menghela nafas lega. Bibirnya tersenyum. Raut wajahnya berubah.
"Syukurlah. Aku senang kalau mas Bima ketemu."
"...."
"Gak pa-pa. Tolong jaga mas Bima dengan baik ya."
Telfon di tutup.
__ADS_1
"Bima ketemu?" tanya Rian. Dena mengangguk.
"Ternyata mas Bima pergi ke klub, dia mabuk berat." ucap Dena menjelaskan.
"Perlu aku jemput Bima?" tanya Rian lagi. Dena menggeleng.
"Biarkan saja mas Bima disana. Lagi pula ini juga sudah malam." Rian terdiam. Tercium nada sedih di kalimat adiknya.
"Mas Rian juga istirahat." Dena tersenyum lalu, pergi meninggalkan Rian yang masih menatap punggung Dena hingga menghilang ke dalam rumah.
Rian duduk di teras rumah yang dingin. Bulan terlihat bulat hampir sempurna, namun tertutupi sedikit awan hitam. Bintang tidak banyak terlihat di atas sana.
Seorang satpam datang menghampiri dan duduk di sampingnya, menawarkan rokok yang ia keluarkan dari saku bajunya. Rian menyambut rokok itu lalu menyalakannya dan menyesapnya perlahan.
***
Back to Lily.
'Jadi mas Bima, gak pulang ke rumah mbak Dena? Terus kemana mas Bima? Aku juga gak mungkin telfon teman mas Bima. Bisa-bisa mereka curiga. Kemana kamu, mas?' batin Lily.
Lily mencoba telfon ke nomor Bima tapi tidak ada jawaban. Entah sudah berapa puluh kali.
Lily duduk di ruang tv. Tv menyala, tapi fikiran Lily tertuju pada sosok yang menjadi suaminya. Pertanyaan demi pertanyaan melintas di otak cantik Lily.
Lily melihat ke arah hpnya yang berbunyi nyaring, segera melihat layar yang menyala. Bima. Lily senang karena akhirnya Bima menelfon.
"Mas dimana kamu...?" suara Lily terpotong karena dari seberang terdengar bukan suara yang ia kenal. Bayangan buruk tiba-tiba terlintas di benak Lily. Lily merasa takut.
"..."
"Siapa ini?"
__ADS_1
"..."
"Apa?!"
"..."
"Oke saya segera kesana." ucap Lily lalu menghambur mengambil kunci mobilnya dan segera keluar.
Lily menyalakan maps-nya dan mencari klub Violeta. Lumayan jauh menurut Lily karena Lily sama sekali belum pernah pergi ke daerah ini.
'Mas Bima benar-benar frustasi karena gak dapetin kerjasama ini. Kasihan.' batin Lily seraya terus mengikuti arah panah yang di tunjukan di layar hpnya.
Tak lama Lily sampai. Lily tertegun melihat banyaknya orang yang keluar masuk ke tempat itu, ada yang sendiri, ada yang berpasangan, ada juga yang berkelompok. Lily memperhatikan penampilan mereka. Wow. Seksi. Dan keren!!
"Maaf, nona mau kemana?" tanya seorang penjaga berbadan kekar memakai jaket hitam. Dia melihat penampilan Lily dari atas ke bawah, lalu kembali ke atas. Lily hanya memakai jeans setinggi paha dan kaos longgar kebesaran yang membuatnya terlihat girly, serta sepatu kets warna putih, seperti anak SMA yang akan pergi jalan-jalan ke mall, pakaian Lily tidak cocok untuk ke masuk klub seperti ini.
"Mau jemput temen, pak. Katanya dia mabuk di dalam. Tadi ada yang telfon saya suruh jemput."
"Punya kartu member?" tanya penjaga itu.
Lily terdiam bingung ,tidak tahu apa yang di maksud.
"Ktp?" Lily menggelengkan kepalanya. Dia panik sampai lupa membawa dompetnya.
"Tidak bisa masuk nona, maaf!"
"Tapi, saya cuma mau jemput temen saya, udah gitu pulang kok. swear." ucap Lily. Penjaga itu tetap menggelengkan kepala.
"Aduhh gimana ini."
"Tadi ada yang telfon saya pak. Siapa ya namanya, Lily lupa lagi, aaah. Payah!!" Lily mencak-mencak sendiri, para pengunjung dan penjaga itu melihat Lily dengan tatapan aneh. Lily masih berusaha mengingat "El... Li...Lion...Eh Leon. Iya pak. Kalau gak salah Leon. Eh ada gak nama Leon di dalam?" tanya Lily balik tidak pasti juga dengan nama yang di sebutnya.
__ADS_1
Seorang pria mendekat dan membisikan sesuatu pada pria di depan Lily, dia mengangguk faham. Pria itu kembali menjauh.