Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 163


__ADS_3

"Pasti mas, mbak Una cerita masih ingat dan masih ngarep buat ketemu mas Bima." ucap Tari bersemangat. Budhe dan Pakdhe mengangguk.


Sore ini juga aku kembali ke Jakarta menggunakan kereta. Cuaca buruk tidak memungkinkan untuk penerbangan jarak dekat maupun jarak jauh. Kenapa waktu tidak berpihak kepadaku? Aku ingin cepat sampai di Jakarta dan menemukan Una. Dan terpaksa besok aku akan mulai mencari info tentang Lily, maksudku Una!


Selama dalam perjalanan aku terus memikirkan Una. Bagaimana dia tidak mengenali aku, 'mas Bimbim'-nya!


Dasar aku bodoh, tentu saja, mungkin karena waktu itu umur Una baru enam atau tujuh tahun. Yang pasti Una akan naik ke kelas dua saat kami berpisah. Harusnya aku yang mengingat Una karena aku yang lebih besar darinya!


Aku kembali teringat dengan beberapa origami berbentuk burung yang ada di kamarnya. Dia bilang belajar membuat origami dari teman masa kecilnya. Kalau saja saat itu aku bertanya lebih banyak, mungkin aku tahu bahwa teman masa kecilnya itu adalah aku.


Dasar aku bodoh!!


Bodoh!!


"Ibu kenapa om itu pukul-pukul kepalanya? Apa dia gila?!" aku berhenti memukuli kepalaku saat seorang anak laki-laki berumur lima tahun bertanya pada ibunya.


Aku memalingkan wajahku. Tidak sadar kalau ternyata kelakuanku mengundang perhatian banyak orang yang memandangku dengan tatapan aneh.


Wanita itu menempelkan jari telunjuknya di bibirnya, matanya lekat memandang anak lelakinya. Lalu dia beralih padaku dan tersenyum meminta maaf atas ketidaksopanan putranya.

__ADS_1


Tidak! Aku memang sudah gila!


"Apa kamu punya masalah sama istri kamu?" tanya seorang bapak tua yang duduk di sampingku. tapi yang pasti umurnya sudah lebih dari setengah abad dan lebih tua dari papa.


Aku hanya diam.


"Rumah tangga itu memang sulit, nak! Apalagi jika tidak di landaskan dengan kepercayaan. Godaan dan cobaan yang berat pun seperti tidak ingin pergi dari kehidupan kita, tapi saya percaya jika cinta akan kembali kepada pemiliknya! Sejauh apapun cinta pergi dia pasti akan kembali. Takdir akan mempertemukan dan mempersatukan cinta umat manusia..." aku hanya diam mendengarkan semua yang di katakan pak tua ini. Tentunya pengalamannya lebih banyak dariku.


Dia terus berbicara dan membuat aku mengerti. Aku faham ini hanyalah salah satu cobaan yang di berikan tuhan untuk kami agar saat kami kembali bersatu, kami akan lebih mempertahankan cinta kami dari apapun. Tapi apakah mungkin Lily masih mencintaiku dengan semua yang pernah aku lakukan sama dia?


"Tapi aku gak bisa maafin diri aku sendiri pak. Aku sudah jahat sama dia."


Aku menangis. Pak tua itu mengelus pundakku dengan lembut, rasanya nyaman sekali.


Pagi hari saat aku terbangun, aku sudah tidak menemukan lagi pak tua yang duduk di sebelahku. Sepertinya dia sudah turun di stasiun sebelumnya. Aku teringat dengan kata-katanya semalam. Dan saat ini aku berjanji aku akan menemukan Una!


Aku segera menyetop taksi. Mobil melaju membelah jalanan dengan kecepatan konstan, tapi rasanya sangat lama sekali mengingat aku tidak sabar ingin sampai di rumah dan mengabarkan berita ini pada mama dan papa.


Satu jam di perjalanan akhirnya taksi sampai di rumah mama. Tanpa di minta satpam menurunkan koperku dari dalam bagasi. Tidak lupa oleh-oleh yang di titipkan khusus oleh pakdhe yudha dan budhe Nani untuk mama dan papa.

__ADS_1


Entah kebetulan atau apa mereka mengundurkan jadwal keberangkatan menjadi besok.


Aku setengah berlari ke dalam mencari mama, mengetuk pintu kamarnya. Tapi yang keluar hanya papa. Kembali berlari ke dapur, tidak ada. Lalu berlari ke belakang berharap mama ada di kebun kecilnya. Papa menatap ku yang berlari dengan tatapan heran.


Aku memeluk mama yang sedang mengurus tanaman hiasnya dari belakang, tanpa bisa ku tahan lagi aku terisak.


Bimbim?" biasanya aku protes kalau mama memanggilku dengan sebutan itu, tapi sekarang aku hanya bisa diam sambil terisak. Memalukan karena merasa seperti anak kecil yang sedang kecewa karena rasanya memang sperti itu sekarang ini.


"Kenapa Bim? Pulang kok nangis? Gak malu kamu?" canda mama.


"Ma, ternyata selama ini Una bersama kita." lirihku. Mama melepas tanganku yang melingkar di lehernya lalu berbalik. Sorot matanya terlihat bingung.


"Maksud kamu?"


"Lily...Una!" lirihku. Mata mama membulat, seketika gunting dan sekop penuh tanah di tangannya terjatuh berdenting ke lantai. Aku memeluk mama sekali lagi membawa tubuh kecilnya dalam rengkuhanku.


Kami terisak bersama.


"Una?" aku mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2