Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 253


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Lily dan baby sudah di perbolehkan pulang. Semua orang sangat senang dengan kehadiran Baby Assyifa di rumah. Yumna tidak mau berpisah dari sang adik semenjak keluar dari rumah sakit itu.


Melati dan Hadi sudah pulang ke Surabaya kemarin. Mereka menyesal tidak bisa lebih lama melihat dan ikut mengurus Baby Syifa. Mama Puspa terkadang masih harus membagi waktunya untuk Syifa dan juga Alvas.


Lily berada di dalam kamar, sedang istirahat. Semalam baby Syifa terjaga tidak mau tidur membuat Lily juga ikut begadang di temani Bima.


Yumna menepuk-meluk paha sang adik supaya dia juga ikut tidur bersama sang mama. Lily tersenyum senang melihat kedua putrinya. Bersyukur Yumna sangat sayang pada sang adik.


"Baby Syifa tidurrrl ya, biarrl cepet gede. Nanti kita bisa main boneka sama-sama." celoteh Yumna. Baby Syifa hanya menggeliat pelan, menggerakkan bibirnya seperti sedang menyedot sesuatu. Matanya bulat mengerti-ngerjap. Lalu kemudian mulai menangis.


"Ma baby Syifa nangis!" Yumna panik dan semakin cepat menepuk paha sang adik namun pelan.


"Baby Syifa mungkin haus sayang." Ucap Lily lalu duduk bersandar kepala ranjang. "Sini sebentar sayang. M*mik dulu." Lily mengangkat Baby Syifa ke atas pangkuannya dan segera mengeluarkan payudaranya. Baby Syifa menyedot air di dalam ya dengan lahap. Yumna hanya melihat Syifa yang rakus.

__ADS_1


"Kenapa Yumna?" tanya Lily.


"Dedek Syifa m*mik susu mama, tapi kok baby Al enggak?" tanya Yumna heran.


Alvas memang tidak di beri ASI di karenakan ASI Celia hanya beberapa hari keluar saja setelah itu tidak ada lagi.


Lily menerangkan dengan kata-kata yang bisa Yumna cerna. Bibir Yumna membulat membentuk huruf 'o' dan mengangguk.


Yumna tertidur di samping baby Syifa, dia juga pasti lelah karena ikut mengasuh adiknya. Begitu juga Lily, tidur dengan posisi miring memeluk kedua putrinya.


"Mana Una?" tanya Ratih saat Bima kembali ke meja makan sendirian.


"Semuanya sedang tidur." ucap Bima. Ratih mengangguk dan menyerahkan sepiring penuh nasi dan lauk untuk Bima.

__ADS_1


"Kamu harus makan yang banyak, lalu tidur siang. Nanti malam bantu Una jagain baby Syifa. Kasihan dia kalau gak di bantu. Ibu melahirkan itu suka cepat lelah, karena sedang pemulihan. Tidak boleh stress, biar ASI nya tidak macet. Kalau ibunya stress kasihan juga sama baby Syifa dia juga akan rewel...dan bla, bla, bla..." Ratih bicara panjang lebar. Bima mengangguk mengiyakan dan mulai makan.


"Inget Bima. Awas kalau gak bantu Una, lebih baik dia pindah ke rumah mama!" ancam Ratih.


"Iya ma. Bima pasti bantuin dan urus anak Bima sendiri." ucap Bima lalu melanjutkan acara makannya.


"Inget juga, jangan dulu minta yag 'aneh-aneh'. Una itu masih lemes!"


"Siapa juga yang minta aneh-aneh. Bima gak pernah minta yang 'aneh-aneh' cuma minta yang 'iya-iya'." ucap Bima santai tahu akan maksud sang mama.


Ratih menggebrak meja dan melotot. "Awas saja kalau kamu gangguin Una. Mama minta dokter Hendra buat suntik belut kamu biar lemes selama dua bulan!" Ucap Ratih menggeram. Bima dan Adi bergidik bersamaan.


Ratih dan Adi terpaksa harus kembali ke luar negeri beberapa hari, ada pekerjaan yang tidak bisa di handle oleh bawahannya. Mereka memutuskan akan memindahkan kantor mereka ke Jakarta agar selalu bisa dekat dengan kedua cucu mereka setelah semuanya siap.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang Ratih dan Adi kembali ke rumah mereka


Bima masuk ke dalam kamar dan berbaring di belakang istrinya. Untunglah kasur kingsize nya besar dan bisa muat untuk mereka berempat. Bima tidur dengan memeluk sang istri dengan senyuman.


__ADS_2