Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 116


__ADS_3

"Mas. Kenapa jadi bilang kalau aku mau ikut program hamil sih!" protes Lily saat Bima baru saja masuk ke dalam ruangannya pagi ini. Wajah Lily semakin memerah karena menahan amarah apalagi Bima hanya mengangkat bahunya dengan cuek, tanpa mengatakan alasan yang logis. Bima hanya memandang Lily dengan sudut matanya lalu kemudian berdiri di depan jendela. Ia membuka jasnya dan menyimpannya di sandaran kursi kebesarannya.


"Mas, aku ini bicara sama kamu loh bukan sama patung!" kesal Lily, kali ini dia mendekat ke arah Bima dan menarik lengan Bima hingga mereka saling berhadapan. Lily terkesiap ketika tidak sengaja menatap manik mata milik Bima yang sangat indah saat tersorot sinar matahari pagi.


Seketika bibirnya terkunci rapat dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Padahal saat di rumah Lily akan mengadakan protes keras dengan kata-kata yang sudah ia persiapkan. Tapi sekarang apa yang terjadi, bahkan hanya untuk menarik nafas saja rasanya sulit. Sesak sekali. Bisa kah jendela kaca besar itu di buka saja? Rasanya Lily ingin menjulurkan kepala keluar dan menghirup udara dengan rakus hingga pasokan udara di bumi ini habis olehnya sendiri!


"Apa jadwal hari ini?"


"Umm. Anu. Pertemuan dengan pemilik hotel XX." ucap Lily sambil membuang muka ke arah luar jendela. Rasanya jantung Lily akan copot jika ia masih terus menatap Bima dari jarak sedekat ini.


"Ly?" ucap Bima lirih.

__ADS_1


"Ah. Ya?"


"Selama kamu bersama ku. Apa kamu bahagia?"


"Ah. Eh?" Lily bingung sendiri kenapa Bima sampai menanyakan itu, padahal Lily hanya cukup menjawab 'tidak' kan. Tapi lidahnya kelu tidak bisa mengucapkan apa-apa.


"Sudahlah. Kembali ke meja kamu!" ucap Bima lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Lily. Lily mengangguk cepat lalu segera melangkah dengan tangan kirinya yang memegang dadanya yang terus berdentum cepat.


Bima memeluknya dengan erat. Satu detik, dua detik, dan waktu terus berjalan tanpa ada tanda-tanda Bima akan melepaskan tubuhnya.


Bima menarik nafasnya, menghirup aroma coklat stroberi sama seperti miliknya. Wangi sekali. Rasanya menenangkan, dan menyenangkan.

__ADS_1


"Mas lepas,nanti ada yang lihat!" Lily berontak minta di lepaskan walaupun sebenarnya jauh dalam hatinya tidak ingin sama sekali. Eh? Kok?!


"Tolong sebentar saja!" pinta Bima, kali ini Lily diam menurut. Dia hanya berdoa dalam hati agar Bima tidak mendengar detak jantungnya yang bertalu dengan kencang. Dan berdoa agar Lily tidak mati lemas karena perlakuan Bima.


Lily mencoba menikmati pelukan Bima yang baru pertama kali ini. Ya Bima memeluk untuk pertama kalinya. (Waktu tidur berdua jangan di hitung ya, itu kan gak sadar karena tidur, dan hanya tidur, gak ngapa-ngapain. 😭😭😭Sedihnya, kasihan Lily!).


Bima menutup kedua matanya mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya selama ini. Tapi yang ia rasakan adalah kenyamanan, dan perlahan jantung Bima mulai berdetak dengan cepat, sama seiring dengan jantung Lily yang terus berdetak semakin cepat.


Lily melingkarkan kedua tangannya di pinggang Bima. Dia mulai merasa nyaman, dan rasanya ingin waktu berhenti saat itu juga. Rasa kehangatan menjalar di tubuhnya, entah kenapa. Bibirnya mengulas senyuman.


Bima semakin erat memeluk Lily. Rasanya terlalu nyaman dan tidak ingin melepasnya. Saat tiba-tiba bayangan gadis kecil itu kembali lewat di fikirannya, lalu berubah menjadi... Lily?

__ADS_1


Bima melepas pelukannya saat bayangan Una dan Lily silih berganti dalam fikirannya, membuat kening Lily berkerut bingung. Bima mundur dua langkah ke belakang. Matanya terus menatap Lily dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


__ADS_2