
Perusahaan Bima down akibat persaingan yang begitu keras, bahkan beberapa ribu karyawan terpaksa di berhentikan. Dan untuk mengatasi keadaan ini Bima terpaksa menerima pinangan dari seorang pengusaha untuk putrinya. Mereka tidak keberatan dengan status Bima karena ternyata putri mereka sangat mencintai Bima.
"Sayang, aku bawakan makan siang." Celia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu. Sudah menjadi kebiasaan baginya datang seperti itu.
Roman, Yoga, dan Adit, menatap Celia tak suka. Gadis itu seperti terobsesi pada Bima, bahkan tanpa rasa malu memberikan ciuman di bibir Bima tepat di hadapan mereka bertiga.
"Cel, sudah berapa kali aku bilang jangan lakukan itu di depan orang!" geram Bima.
"Memangnya kenapa sayang, toh mereka gak keberatan kan?" Celia tidak peduli, malah duduk di samping Bima sambil bergelayut manja. Bima hanya bisa memijit pangkal hidungnya.
"Ya udah deh, kami pamit dulu. Kita makan siang bertiga aja." Roman berdiri di susul dengan Yoga, sedangkan Adit masih di tempatnya. Hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Celia yang menjijikan. Dasar wanita penggoda! Adit pun segera menyusul keduanya.
"Cel, lain kali jangan kayak gitu lagi di depan orang lain..."
Cup.
Bima terdiam karena Celia menciumnya lagi.
"Kalau sekarang? Mereka udah gak ada!" Celia memajukan bibirnya lagi. Bima menahan kepala Celia.
"Lain kali kalau datang ke kantor pakai baju yang sopan. Aku gak suka kamu pakai baju yang terbuka kayak gini!" Bima bangkit dan mengambil jasnya lalu memakaikannya pada tubuh Celia yang terbalut dress ketat dengan belahan dada rendah dan paha yang banyak terekspose
Celia gadis muda berumur dua puluh empat tahun. Anak satu-satunya dari seorang pengusaha ternama. Apa yang di inginkan harus dia dapat! Bima salah satunya.
Celia senang akan tantangan, baginya sikap Bima yang ketus membuat Celia semakin suka pada Bima.
"Aku bawain makan siang, ini khusus aku yang masak buat kamu, sayang." Celia menarik tangan Bima hingga duduk lagi di tempat yang tadi.
"Kamu bilang suka nasi goreng udang kan? Aku udah tanya langsung resepnya sama chef." senyum Celia mengembang sempurna. Bima mengambil sendok yang ada di tangan Celia.
__ADS_1
"Aku yang akan suapin calon suami aku!" kekeuh Celia. Bima hanya diam menerima suapan dari Celia. Asin!
"Uhuk. Uhukk." Celia segera mengambilkan minum untuk Bima.
"Kenapa?"
"Asin!" ucap Bima.
"Masa sih?"
"Memangnya tadi di rumah kamu gak coba makan?" tanya Bima.
"Enggak!" ucap Celia lalu memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.
"uhuk. Uhukk." Celia pun sama terbatuk karena rasa asin yang amat sangat terlalu.
"Sedikit kok, cuma dua sendok." mata Bima membelalak. Cuma dua sendok dan dia bilang sedikit?
Bima bisa darah tinggi kalau setiap hari di beri makanan yang seperti ini.
"Ya udah, kita makan di luar yuk." Celia menarik tangan Bima tanpa mau mendengar penolakan.
Di restoran.
"Kamu mau pesan apa sayang?"
"Terserah lah."
Celia lalu menyebutkan nama makanan dan minuman pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Hei denger gak sih, kenapa malah lihatin tunangan saya?!" pelayan itu tergagap karena ketahuan sedang memperhatikan Bima. Walaupun Usia Bima tidak muda lagi tapi Bima semakin terlihat menawan di usianya yang matang.
"Berani-beraninya kamu lihatin tunangan saya. Mau saya congkel mata kamu?" Celia sudah berdiri, teriakan Celia mengundang perhatian banyak orang. Sedangkan pelayan yang merasa bersalah itu menundukan kepalanya, takut.
Manajer restoran segera datang menghampiri saat mendengar keributan terjadi.
"Tolong ya pak, ajarin nih bawahan bapak matanya jangan suka jelalatan, gak sopan lihatin tunangan saya!" Celia marah dan menunjuk-nunjuk pada pelayan yang sekarang berdiri di belakang atasannya.
"Maafkan kesalahan kami nona, saya akan beri peringatan buat bawahan saya. Saya benar..."
"Harus. Kalau perlu dia di pecat!" Celia emosi.
"Kamu gak kenal siapa saya huhh?!"
"Maaf Nona, kami minta maaf."
"Celia, stop. Jangan buat keributan! Ayo kita pergi." Bima menarik tangan Celia keluar dari restoran itu.
"Apa sih? Kamu belain pelayan itu?" Celia menghentakan tangannya hingga terlepas dari cekalan Bima. Kini mereka ada di area parkir.
"Kamu gak bisa diem aja dong di lihatin sama orang lain, atau kamu suka, iya? Kamu suka di lihatin sama orang lain?!" lagi Celia berteriak tepat di depan wajah Bima.
Ya ampun, ni cewek stress kali ya. Posesif banget! batin Bima.
"Hei, udah. Kita jadi makan gak? Aku lapar!"
"Pulang ke rumah!" ucap Celia. "Kita makan di rumah saja!" Bima membukakan pintu mobil untuk Celia.
Selama dalam perjalanan Celia terus menggerutu, kesal. Bima hanya mendengarkan, menahan rasa sakit di kepalanya karena Celia yang terus mengoceh tidak jelas.
__ADS_1