Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 205


__ADS_3

Lily Aruna.


Malam ini Bima berencana mengajak ku makan malam romantis 'katanya'. Lucu ya, padahal biasanya kalau pria mengajak makan malam romantis mereka lebih cenderung membuat kejutan, tapi Bima memang bukan pria romantis! Padahal aku juga kan ingin kejutan!


Yumna menginap di rumah Adit, mereka baru saja pulang dari acara bulan madu selama dua minggu di Paris dan Jepang. Bulan madu tertunda hingga tiga bulan karena mempertimbangkan kondisiku, padahal aku juga sudah ada Bima yang menjaga bukan? Selain itu perusahaan Adit dan Celia juga semakin melebar, membuat Adit dan mertuanya sangat sibuk.


Mereka baru sampai di tanah air kemarin sore, dan tadi siang keduanya datang menjemput Yumna, kangen katanya. Atau jangan-jangan, Bima dan Adit merencanakan ini?


Aku memakai gaun yang Bima belikan khusus untuk malam ini 'katanya' lagi. Dasar. Bima lucu! Oke untuk gaun memang rasanya ini bisa di bilang romantis!


Mematung diriku di dalam cermin, gaun berwarna hitam dengan potongan bahu rendah, bawahan setinggi lutut. Sederhana, tapi elegan menurutku. Tidak buruk juga pilihannya.


Setelah selesai aku mencoba bermain dengan make up. Jarang sekali aku pakai karena aku hanya diam di rumah, tapi malam ini aku ingin terlihat cantik. Tidak apa-apa kan?


Aku gunakan make up yang terlihat elegan dan dewasa. Eyeshadow berwarna brown dan lipstik berwarna nude. Rambut aku biarkan tergerai untuk menutupi bahu yang terbuka, rasanya aku belum terbiasa memakai gaun yang seperti ini.


Semua siap. Tinggal aku yang menyiapkan diriku sendiri. Dadaku bergetar dengan kencang padahal aku sama sekali belum bertatap muka dengan Bima.


Aku berjalan ke arah tangga, Bima sudah menungguku di bawah sana, di ujung tangga. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku, dia membelakangiku.


Berkali-kali dia merapikan rambutnya, padahal itu sudah sempurna menurutku. Dari belakang Bima terlihat perfect, apalagi dari depan ya?


Bima menoleh saat aku sudah ada dua tangga di dekatnya. Seketika tangannya yang masih merapikan jas dan dasinya terhenti. Matanya membulat, mulutnya menganga seperti anak SD yang di beri pelajaran fisika oleh gurunya. Dia berdiri seperti patung, tidak bergerak dan tidak bicara.


"Aku aneh ya?" tanyaku sepertinya Bima tidak suka dengan riasanku. Apa ini terlalu mencolok?


"Apa terlalu tebal?" tanyaku akan menghapus make up di pipiku. Tapi tangan Bima menahanku, lalu menggeleng.


"Cantik." ucapnya. Pipiku panas seketika.


Dan, apa benar yang aku lihat? Bima juga merona pipi nya. Laki-laki juga bisa gitu ya?


"Siap?" tanya Bima, aku mengangguk.


Kami berjalan beriringan menuju mobil di luar.


Selama dalam perjalanan kami hanya terdiam, sering aku lihat Bima menatapku, lalu kembali ke jalanan, dan menatapku lagi. Di bibirnya selalu terlihat senyum merekah.


"Ah ya aku lupa. Bisa tolong pegang ini dulu?" ucapnya lalu menaruh satu tanganku pada kemudi, lalu dengan cepat mengambil sesuatu dari kursi belakang tanpa menghentikan laju mobil. Ish itu bahaya kan? untung saja jalanan lengang! Dasar.


Ingin aku memarahi Bima, tapi kemudian urung karena Bima memberikan sebuket bunga untukku. Dan kembali dengan kemudinya.


"Maaf, aku gak bisa romantis! hehe." ucapnya dengan cengiran.


"Lain kali nyetir aja, gak usah kayak tadi. Bahaya!" sungutku Bima hanya menampilkan senyum bak anak yang tak berdosa. Ya ampun pria ini padahal jika di hadapan orang sangat berwibawa, tapi kenapa sekarang seperti ABG labil?


Entah berapa lama, tapi kami sudah sampai di sebuah restoran sepertinya.

__ADS_1


Bima memarkirkan mobil dan memintaku untuk menunggu. Setengah berlari Bima memutar mobil dan membuka pintu untukku. Ah tingkat romantisnya naik satu level sekarang, apa dia sudah menonton film romantis? Aku akan tanyakan itu nanti!


Dengan senyuman mengembang dia mengulurkan tangannya. Dan membawaku masuk ke dalam restoran, tapi anehnya restoran ini sangat tinggi seperti hotel. Apa memang hotel?


Pertama kali yang aku lihat disana adalah beberapa orang yang berdiri berjejer di sepanjang karpet merah yang terbentang, dengan setangkai mawar di tangan masing-masing.


Bima melingkarkan tanganku di lengannya, di setiap langkah satu persatu mendatangiku lalu memberikan setangkai mawar itu padaku hingga sampailah kami di depan lift. Tanganku sudah penuh mawar sekarang!


Seorang pelayan berdiri di depan pintu lift dan meminta kami masuk. Setelah itu dia juga ikut masuk dan menekan angka ke lantai gedung teratas sepertinya.


Pintu lift terbuka, kami berada di lantai paling atas. Bima menarik tanganku ke dekat jendela kaca besar.


Pemandangan indah terlihat di sepanjang mata memandang. Kelap kelip lampu dari bangunan lainnya terlihat dengan jelas dan indah seperti titik kecil dengan warna-warni di kejauhan sana.


"Suka tidak?" tanya Bima yang berada di sampingku. Tanpa menoleh aku menganggukan kepalaku.


"Suka. Indah!" seruku sambil menempelkan jari telunjukku pada kaca besar di depanku.


"Kita makan dulu, boleh?" Ish ya ampun pria ini, tidak bisakah menunggu sebentar saja. Memang bukan tipe pria romantis!


Bima menarik tangan ku ke arah meja yang sudah tersedia dengan beberapa lilin yang telah di nyalakan. Indah!


Bima menarik kursi untukku, dan setelah aku duduk barulah dia duduk di depanku.


"Aku bingung mau bilang apa. Tapi kita makan dulu ya!"


Kami makan tanpa berbicara, terlalu canggung sepertinya. Berkali-kali kami saling bertatapan tanpa sengaja, lalu sama-sama menunduk. Malu. Kami menikmati makanan enak ini dengan santai.


Bima kembali membawaku ke sisi jendela yang tadi, tapi kali ini dia membiarkanku untuk menikmati pemandangan kota saat malam lebih lama.


Kepalaku terasa berdenyut, apa aku pernah seperti ini? Makan malam romantis di atas ketinggian? Lalu tiba-tiba terlintas bayangan seseorang, tapi siapa? Buram! yang pastinya kami sedang berada di dekat jendela dan menikmati malam yang indah. Tubuh kami tidak ada jarak dan hampir berciuman tapi aku menutup mulutku dengan tangan hingga pria itu hanya bisa mencium punggung tanganku. Ah kepalaku!


"Kenapa Ly?" Bima datang menghampiri saat aku memegang kepalaku. Wajahnya terlihat sangat khawatir.


"Kepala kamu sakit lagi?"


"Sedikit."


"Kamu mau kita pulang?" aku menggeleng.


"Gak pa-pa, aku bisa tahan."


"Yakin?"


"Iya!"


Kami terdiam beberapa saat.

__ADS_1


"Ly. Aku..." Bima terdiam dia mengambil tanganku hingga kami saling berhadapan. Mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi dan menciumnya dengan lamat. Aku pernah seprti ini, tapi sama siapa?


Tidak mau mengganggu momen ini aku hanya diam menahan nyeri di kepalaku.


Bima menghela nafasnya, menarik nafas lalu membuangnya beberapa kali. Terlihat wajah tegang di depanku ini. Dengan senyum canggung yang menghias di depannya.


Dadaku berdetak dengan cepat, menunggu dengan gugup dan gelisah dengan apa yang akan di katakannya.


"Maaf kan aku atas kesalahan yang pernah aku buat selama ini sama kamu Ly. Aku mau kita mulai kehidupan kita yang baru dengan Yumna dan anak-anak kita nanti."


"Aku berjanji tidak akan membuatmu sedih lagi. Aku benar² menyesal membuatmu sedih selama ini. Aku akan menebus semuanya. Akan ku jadikan kamu wanita paling bahagia di jagat raya ini. Aku akan menjagamu melindungi mu dan mencintaimu sepenuh hatiku. Aku akan melakukan apapun agar kamu bahagia. Kamu dan Yumna segalanya bagiku. Aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti dulu. Aku janji akan membahagiakan kamu dan anak kita."


"Aku ingin memiliki hatimu seutuhnya. aku mencintaimu bukan karena keindahan tubuhmu atau keelokan parasmu. Akan ku perjuangkan diri mu apapun yang terjadi."


"Karena bagiku kamu lebih dari cukup untuk menemani sampai akhir hayatku. Kamu lebih dari milyaran wanita cantik yang pernah tuhan ciptakan di dunia ini, tapi aku hanya akan mencintaimu sampai tuhan mengambil nyawaku."


"Jadilah istri ku lagi. Dan calon ibu dari anak-anakku."


Aku ternganga mendengar kata-kata romantisnya. Benarkah ini Bima? Kenapa dia bisa mendadak romantis seperti ini? Dia sudah membuatku melayang dengan kata-katanya. Membuat dadaku berdesir dan jantungku berdetak tak karuan meloncat kesana-kesini seperti hendak lepas dari tempatnya.


Bima menatapku dengan intens. Wajahnya juga sudah bersemu merah, seperti kepiting rebus yang sering ia belikan untukku. Senyum mengembang di bibirnya, merekah indah.


Ku beranikan diri untuk menyentuh pipinya. Wajah Bima semakin merah melihat aku yang semakin mendekat kan diri padanya. Bima terlihat sangat gugup, tidak pernah aku melihat dia segugup ini.


"Apa ini?" tanya ku lirih sambil melepaskan headset bluetooth dari telinganya, lalu menempelkannya pada telingaku. Terdengar lamat-lamat suara di seberang sana.


'Tunggu beberapa menit, biarkan Lily merasakan detak jantung nya sendiri, lalu keluarkan kotak cincin itu.'


Harusnya aku tahu itu! Bima memang tidak pernah bisa romantis! Dasar!


Aku melipat kedua tangan ku di depan dada, menatap nyalang Bima yang kini tersenyum meringis bercampur malu dan salah tingkah, menggaruk belakang lehernya saat tatapan ku tidak pernah beralih darinya.


'Kasih cincinnya sekarang. Dan lamar dia...lalu bilang..."


"ADIT!!!" seruku, seketika suara itu terdiam lalu terdengar kekehan dari sana.


'Hai Ly. Gimana makan malam romantisnya? Suka? Kalau gitu aku pamit. Nikmati malam kalian.'


Tutt. tutt...


Dasar para pria penipu!


"Aku bisa jelasin Ly!" ucap Bima dengan cengirannya.


"Maaf, aku gak bermaksud bohongin kamu. Aku cuma pengen lamar kamu secara romantis dan bikin kamu gak akan lupa momen ini!" alasan atau pembelaan?


Aku menghela nafas kasar.

__ADS_1


"Kamu gak perlu jadi romantis buat lamar aku, kamu gak perlu lakuin ini semua Bim!"


"Aku salah! Maaf."


__ADS_2