Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 98


__ADS_3

Selama dalam perjalanan Bima terus meracau tidak jelas dari kursi belakang. Lily memandang Bima dari kaca spion di depannya.


Ya ampun. Bahkan sekarang Bima mulai menyanyi dan berteriak tidak jelas! Lalu terdiam lagi.


"Hei!" Lirih Bima tepat di telinga Lily. Lily tersentak kaget saat tangan Bima melingkari lehernya. Lily refleks menginjak rem, untung saja jalanan sepi, dan mobil yang Lily bawa ada di sebelah kiri jalan, bagaimana kalau mobil Lily di tengah atau jalanan sedang ramai pastilah mobilnya akan tertubruk dari belakang karena Lily berhenti mendadak.


"Kenapa kamu ke klub, huh??"


Lily masih terdiam menetralkan detak jantungnya yang berdentum keras. Nafas Bima terasa hangat dan membuat tubuh Lily meremang.


"Klub itu bahaya. Gak seharusnya kamu disana!" racau Bima dengan suara khas mabuknya. Tangannya masih tidak ia lepaskan dari leher Lily.


"Gimana kalau ada yang godain kamu, huh??! Mereka semua bukan orang baik!"


"BA-HA-YA. Ingat?" Lily melepas satu tangannya dari kemudi lalu memegang lengan Bima erat.


"Memangnya apa peduli kamu?" Lily mencoba bertanya. Ada yang bilang orang yang sedang mabuk berbicara jujur tanpa kebohongan. Lily ingin tahu perasaan Bima terhadapnya.


"Tentu aku peduli. Kamu tanggung jawabku kan? Aku harus peduli." Lily menoleh ke sampingnya, Bima masih dengan mata setengah tertutup.


"Mas, apa kamu sayang sama aku?" lirih Lily, memberanikan dirinya. OMG. Jantung Lily berdetak sangat cepat.

__ADS_1


"Tentu saja sayang..." senyum Lily mengembang bahagia. Tapi sedetik kemudian senyum itu menghilang. "...karena Dena menganggap kamu adik, tentu aku harus sayang juga kan sama kamu. Adik Dena berarti adikku juga..." Lily tersenyum kecut, hatinya sangat kecewa. Sakit rasanya seperti ada ribuan pisau lain yang siap menghujam jantungnya setelah beberapa hujaman dia terima selama ini.


Harusnya Lily tahu dan tidak bertanya. Biar saja Bima dengan perlakuannya selama ini. Toh Lily cukup masa bodoh dan tidak peduli dengan semua ini kan. Cukup menikmati perannya untuk waktu sembilan bulan lagi. Ya ampun. Bisakah Lily bertahan selama itu?


Lily keluar dari mobil dan membuka gerbang, lalu kembali ke mobil dan melajukan mobilnya ke dalam. Lily kembali ke gerbang dan menutupnya dengan buru-buru. Lily lupa menguncinya karena melihat Bima sudah tersungkur ke lantai karena mencoba berjalan sendiri ke dalam. Oh ya ampun, pada saat seperti ini tidak ada yang membantunya, satpam sedang pulang kampung. Lily harus berjuang sendiri membopong Bima ke dalam rumah.


"Ya ampun. Lain kali kalau mas Bima mabuk lagi Lily gak akan mau bawa mas Bima pulang! Biarin mas Bima nginep aja disana semalaman! Berat tahu! Bau miras lagi!" gumam Lily kesal dengan berat tubuh Bima yang sempoyongan.


Lily membaringkan Bima di atas kursi. Tepatnya melempar tubuh Bima, karena Lily sudah tidak kuat lagi. Nafas Lily terengah hebat, dia duduk di lantai, kedua kakinya di selonjorkan ke depan. Rasanya sangat lega sekali mereka sudah sampai rumah.


"Ah ya ampun." Lily memukul kepalanya sendiri saat mengingat sesuatu. Dena. "Harusnya aku bawa mas Bima ke rumah Mbak Dena! Kenapa aku bisa lupa!" Racau Lily, dia segera mengeluarkan hpnya dari dalam saku celana dan segera mencari kontak Dena.


"Halo Mbak!" seru Lily saat telfon sudah di angkat


"..."


Terdengar helaan nafas lega dari kejauhan sana.


"..."


"Maafin Lily mbak. Lily panik tadi. Lily lupa harusnya mas Bima di bawa ke rumah Mbak Dena." sesal Lily.

__ADS_1


"...."


"Iya mbak."


Telfon di tutup. Lily bangun dari tempatnya, membuka kedua sepatu Bima dan melepaskan kancing baju Bima yang paling atas.


Lily duduk di sebelah Bima, dia tersenyum, menatap wajah indah di hadapannya ini. Sangat damai, meskipun terdengar dengkuran keras dari mulut Bima dan sesekali berbicara tidak jelas.


"Maaf mas. Aku udah mengingkari perjanjian kita. Aku suka sama kamu. Aku sayang sama kamu. Awalnya aku hanya terima pernikahan ini karena hutang budi sama mbak Dena. Aku setuju saat kamu bikin perjanjian itu, karena aku fikir tidak rugi juga, aku bisa menepati janji aku sama mbak Dena, dan aku juga bisa mendapatkan kehidupanku lagi setelah perjanjian itu. Tapi aku salah mas. Aku juga gak tahu kenapa rasa ini tumbuh. Hati aku sakit, apalagi selama ini kamu selalu cuek sama aku. Yang kamu sebut selalu mbak Dena. Bahkan di dalam tidur pun yang kamu sebut mbak Dena."


"Haha. Aku terlalu banyak berharap rupanya. Dan yang aku dapatkan hanyalah ruang kosong yang akan tetap kosong kan? Tidak adakah sedikitpun kamu cinta sama aku? Setidaknya rasa suka sedikit saja?! Sedikit mas! Sedikit saja..."


"Selama ini aku selalu menekan perasaan ku, menahannya sampai aku sendiri gak kuat. Aku harus bagaimana? Aku sudah terlanjur cinta sama kamu. Semakin hari cinta Lily sama kamu semakin besar, mas. Dan perasaan ini terus tumbuh tanpa bisa di hentikan."


Lily mencondongkan tubuhnya, menatap Bima lebih dekat lagi. Satu ciuman singkat mendarat di bibir Bima. Gak pa-pa kan Lily mencuri haknya sebagai istri sedikit saja?


Suara bel berbunyi nyaring. Lily segera berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Iya, mbak sebentar!" seru Lily saat akan membuka pintu.


Mata Lily melotot, dia sangat terkejut, pasalnya bukan orang yang ia kira yang berdiri di luar sana. Lily hendak menutupnya kembali, tapi pintu itu tertahan karena sepatu mengkilap seseorang yang berada di luar sana menahan pintu tersebut. Lalu dengan sedikit dorongan dari luar pintu itu terbuka sempurna. Tidak sulit karena nyatanya tenaga yang ia punya lebih besar dari pada tenaga wanita di hadapannya.

__ADS_1


"Hai!" sapanya dengan senyum yang menyeringai membuat Lily menunduk takut.


__ADS_2