
Malam ini waktunya Bima pulang ke rumah Dena. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Butuh satu jam lebih untuk sampai disana. Keadaan jalanan padat merayap, tidak pernah ia suka. Karena Bima sudah lelah dan ingin segera membaringkan dirinya dengan nyaman di atas kasur bersama sang istri tercinta. Seandainya saja ada mobil yang bisa terbang, tentu Bima tidak akan di pusing kan dengan keadaan jalanan yang seringkali macet seperti sekarang ini.
Air mulai turun dari langit, sedikit demi sedikit dan satu menit kemudian hujan deras mendera bumi yang mulai menjadi gelap. Bima mengetuk-ngetuk kemudinya dengan gelisah, teringat Lily yang pulang dengan menggunakan motor matic-nya.
"Harusnya dia bawa mobil." gumamnya pelan, Bima terdiam lalu terkekeh, merasa bodoh. Tentu ada jas hujan di motornya. Tapi tetap saja dia merasa khawatir karena hujan bisa membuat jalanan menjadi licin dan berbahaya.
Bima berusaha mengenyahkan segala fikiran tentang Lily, dan melajukan mobilnya saat lampu berubah ke warna hijau.
Langit sudah mulai gelap saat Bima sudah sampai di rumahnya, tapi hujan belum juga reda. Malah semakin deras, hingga ia sedikit berlari saat menyebrang dari garasi ke teras rumah. Bajunya sedikit basah.
Dena menyambut kedatangan Bima dengan senyuman. Wajahnya cerah berseri. Tak lupa ia memberikan handuk yang sudah ia bawa pada suaminya.
__ADS_1
Bima menyambut handuk yang di berika Dena, dan mengecup kening istrinya dengan sayang.
"Kamu dah lama nunggu, Na?. Jalanan macet parah tadi, sedikit banjir juga. Maaf ya." ucap Bima sambil membawa tubuh kurus Dena ke dalam pelukannya.
Dena hanya tersenyum, lalu merapikan rambut Bima yang menutupi matanya.
"Gak pa-pa. Aku juga gak nunggu lama kok. Aku kan tahu jadwal kamu pulang kerja." ucap Dena santai lalu melabuhkan kepalanya ke dada Bima, mengeratkan pelukannya, dan tersenyum senang saat mendapatkan ciuman di kepalanya bertubi-tubi dari suaminya.
"Mas mau makan dulu, atau mandi dulu?" tanya Dena setelah melepaskan pelukan mereka.
Mereka berjalan ke dalam rumah.
__ADS_1
"Oke. Aku akan siapkan air hangat buat kamu." ucap Dena mendahului Bima dengan membawa jas dan tas kerja suaminya. Bima menyusul Dena ke kamar yang ada di bawah.
Sudah satu bulan ini mereka memindahkan kamar mereka ke bawah. Alasannya Dena sering capek ketika pulang dari butik dan harus naik turun tangga. Meskipun kamar di bawah sedikit lebih kecil ukurannya tapi Bima juga tidak mempermasalahkannya, yang penting Dena bahagia.
Bima membuka dasinya lalu melemparkannya ke atas ranjang. Dena keluar dari dalam kamar mandi dan tersenyum saat mendapati suaminya sedang membuka satu persatu kancing kemejanya. Seperti biasa Dena akan membantu segala kebutuhan suaminya termasuk membukakan baju sang suami saat pulang bekerja.
Bima melihat istrinya dengan sayang. Tidak terasa seminggu ini dia sudah meninggalkan Dena sendirian di rumah. Resiko punya istri dua!
"Kamu makan dengan baik kan selama aku disana?" tanya Bima yang melabuhkan kedua lengannya di pinggang sang istri. Dena mengangguk.
"Tentu mas. Emang mas gak lihat aku gendutan sekarang?" tanya Dena. Bima mengerutkan keningnya dan memandang istrinya dari atas ke bawah, dan sebaliknya.
__ADS_1
"BB ku naik dua kilo mas!" jelas Dena. Bima tersenyum senang. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri.
Mata Dena terpejam saat Bima mulai m*lum*t bibirnya dengan lembut.