Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 152


__ADS_3

Bima keluar dari kamar mandi, melihat ke arah ranjang, Lily masih tertidur dengan pulas. Kulit punggungnya terlihat dengan jelas, lebih bersinar karena di terpa sinar matahari yang lembut. Beberapa kali tubuhnya bergerak, tapi sepertinya Lily masih enggan untuk bangun.


Bima meneruskan langkahnya ke arah lemari dan mengambil pakaiannya, memakainya satu persatu.


"Udah bangun, mas?" Suara Lily terdengar parau, terdengar seksi di telinga Bima. Bima menoleh masih dengan mengancingkan kemejanya, tertegun melihat wajah Lily, terlihat lelah tapi bahagia. Lily tersenyum indah sekali. Manis.


"Iya." Jawab Bima singkat lalu melanjutkan mengancingkan bajunya hingga selesai di lanjutkan dengan memakai celana panjang. Haruskah aku bertanya apa yang terjadi semalam?


Lily beringsut dari pembaringannya perlahan merasakan rasa sakit luar biasa pada pangkal pahanya.


"Aww." ringisnya membuat Bima kembali menoleh dan mendapati Lily tengah duduk di tepian ranjang sambil membungkus dirinya dengan selimut. Semakin membuat Bima yakin dengan apa yang telah mereka perbuat semalam.


"Aku gak pa-pa kok, mas." ucap Lily yang melihat arah pandang Bima, perlahan ia berdiri dengan menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan ngilu di area sensitifnya. Lily berjalan pelan sambil mengeratkan selimut yang melilit tubuhnya ke arah kamar mandi. Wajah Lily menunduk, pipinya memerah saat melewati Bima yang masih terpaku. Terlihat merona karena malu.


Bima menyugar rambutnya frustasi, bercak darah di atas seprai putih itu membuatnya sangat yakin kalau semalam mereka memang melakukannya. Bercinta!


*

__ADS_1


Lily tersenyum sendiri. Bayangan semalam membuat pipinya terasa panas, berkali-kali melihatnya di pantulan cermin, ia tidak tahu kenapa bibirnya terus melengkung ke atas, tidak bisa ia turunkan.


Lily memegangi pipinya sendiri dan menepuknya beberapa kali, lalu beralih memegangi dadanya.


"Ah ya ampun. Bagaimana ini? Bagaimana aku harus bersikap kalau ketemu mas Bima? Apa mas Bima udah mulai nerima aku?" Lily terus memegangi dadanya yang terasa bergetar hebat serasa akan copot jika ia melepasnya.


Pipinya semakin panas saat mengingat kejadian semalam. Bima melakukannya dengan sangat lembut. Menyakitkan, tapi juga menyenangkan. Menangis tapi juga bahagia. Lily tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata.


'Ya ampun, bagaimana ini?!'


Lily selesai mandi. Ia membuka pintu kamar mandi dan mengintip keluar, takut jika Bima masih ada disana sudah pasti Lily akan malu setengah mati.


Melihat ke arah sekitar, Bima sudah tidak ada, di dapur atau di manapun.


'Mungkin mas Bima sudah berangkat.'batin Lily, agak kecewa sebenarnya. Tapi ia harus maklum karena pekerjaan di kantor sangat banyak sekarang membuat Lily dan Bima sibuk dengan urusan pekerjaan.


*

__ADS_1


Bima duduk di kursi kebesarannya. Di depannya tertumpuk banyak berkas yang harus segera di selesaikan, tapi dia hanya memandangnya saja dengan tatapan kosong. Fikirannya melayang pada kejadian semalam.


'Bagaimana aku bisa melakukannya dengan Lily? Kalau aku mabuk itu bisa saja terjadi. Tapi aku gak mabuk semalam. Dan itu jelas wajah Lily, bukan wajah Dena. Tapi kenapa aku bisa melakukannya? Bahkan ini baru hari ke sepuluh.' batin Bima tidak mengerti. Ia masih menatap kosong pada berkas di hadapannya.


"Mas." suara Lily membangunkan Bima dari lamunan. Lily berdiri dengan membawa berkas lain di tangannya dan menyimpannya di atas meja. Menatap heran pada berkas yang sama seperti saat ia pertama tadi masuk ke ruangan Bima saat membawakan kopi.


"Pak Hendra dari perusahaan XX, menelfon dari satu jam yang lalu tapi mas gak angkat." Lily membereskan cangkir kopi yang bahkan tidak di sentuh Bima sama sekali. Bima tidak suka kopi yang sudah dingin maka ia akan membawanya ke pantry.


"Iya, Aku akan segera telfon kesana. Trimakasih."


Lily pamit dengan membawa cangkir di tangannya dan berjalan perlahan, cara jalan yang aneh dan mengingatkan Bima pada Dena saat itu, setelah malam pertama mereka. Semua tak luput dari perhatian Bima. Bima menghela nafas berat.


"Lily." panggil Bima tepat sebelum Lily membuka pintu. Lily menoleh pada bos sekaligus suaminya. "Masih sakit?" tanya Bima. Wajah Lily berubah merah lebih merona daripada biasanya, lalu mengangguk perlahan.


"Pulang lah. Istirahat saja di rumah. Biar pekerjaan aku yang handle semua.


"Tapi, mas..."

__ADS_1


"Pulang saja. Tidak apa-apa." kali ini Lily mengangguk tidak membantah. Wajah Bima yang terlihat serius dan tidak ingin di bantah terlihat jelas disana, nada suara dingin yang bisa saja melengking tinggi jika Lily tetap membantah.


__ADS_2