
Makan malam selesai, mereka kembali ke ruang keluarga, Ratih duduk bersama suami, sedangkan Bima duduk di samping Lily. Mereka saling berhadapan.
Rasanya sangat canggung, tapi syukurlah Ratih dan suami bersikap terbuka dan menerima kehadiran Lily, walaupun status Lily hanya istri kedua Bima.
"Kapan kalian akan kasih mama cucu?" pertanyaan yang sangat Bima tidak suka! Bima lebih suka menjawab soal perkembangan perusahaan daripada soal anak.
Perkara anak itu tidak mudah, membuatnya sih sangat mudah bahkan Bima sangat suka sekali melakukannya dengan Dena, bahkan dengan senang hati kalau dia harus meliburkan diri hanya untuk membuat anak dengan Dena. Siapapun pasti suka kan?
Tapi jika di tanya kapan memberi cucu, Bima memilih angkat tangan. Selama empat tahun menikah dengan Dena pun belum ada tanda-tanda Dena akan mengandung.
Bima pov.
"Ma, sabar aja. Lily sama mas Bima sedang berusaha." jawaban Lily membuatku bisa bernafas lega.
"Bima melakukan kewajibannya kan sama kamu?"
Ah ya ampun. Kenapa mama harus bertanya hal seperti itu sih?
__ADS_1
"Tentu ma. Mama jangan khawatir. Mas Bima berusaha bersikap adil sama Lily dan mbak Dena. Iya kan, mas?" Lily menoleh ke arahku, sinar matanya mengisyaratkan untuk aku menggunakan kepalaku.
"Aku sedang berusaha ma."
What!! padahal aku sedang tidak ingin bicara, tapi kenapa ucapan ini lolos begitu saja?
"Baguslah. Memang hidup poligami itu tidak mudah. Bahkan jika suami sudah berusaha bersikap adil, tapi ada saja yang merasa berat sebelah. Contoh dari perhatian misalnya." papa dengan penuh wibawa menasehati. Papa tidak tahu rasanya di paksa menikah dengan orang yang tidak kita cintai!
Jam sepuluh akhirnya kami pulang juga, mama meminta kami untuk menginap tapi aku menolak dengan alasan Dena di rumah sendirian. Padahal aku yakin kalau Dena akan menginap malam ini di rumah Hesti.
Aku mengantar Lily ke rumah, lebih jauh sebenarnya karena rumah yang di belikan Dena untuk tempat tinggal aku dan Lily hampir setengah perjalanan dari rumah kami ke rumah mama. Sedangkan rumahku bersama Dena berada di tengah keduanya.
Jalanan sangat sepi, sudah hampir tengah malam kami baru sampai di rumah. Satpam membukakan gerbang saat melihat mobilku berada di depan. Aku kembali melajukan mobil hingga ke teras rumah.
Tidak tega rasanya membangunkan Lily, tapi tidak tega juga kalau Lily di biarkan tidur di dalam mobil semalaman.
Satpam mendekat ke arahku setelah aku melambai kepadanya.
__ADS_1
"Bukakan pintu." Pria bertubuh kekar itu mengangguk lalu berlari untuk membuka pintu. Aku suka tubuh kekarnya, aku juga ingin mempunyai tubuh seperti dia, penuh dengan otot-otot yang terlihat seksi.
Dengan segera aku menggendong Lily untuk kedua kalinya setelah kejadian kemarin di Bali. Beruntung tubuhnya tidak berat saat aku menggendongnya ke atas.
Setelah membaringkan Lily di kamarnya aku segera kembali ke mobil. Sial! Karena ban mobil sepertinya bocor. Dan sialnya lagi aku tidak membawa kunci cadangan mobil Lily.
Ah semoga saja Lily menyimpan kunci di tempat biasanya.
Tidak ada. Sepuluh menit aku mencari kunci di lemari, hanya ada beberapa kunci lainnya tapi bukan kunci mobil.
Sekilas aku berfikir untuk membangunkan Lily. Tapi tidak. Kasihan Lily. Taksi? Jam seperti ini tidak ada taksi yang lewat. Taksi online! Aplikasi eror. Ah ya ampun!
Terpaksa aku akan menginap saja disini malam ini.
Apa ini? Pintu kamar terkunci?
Aku mencoba mencari kunci kamarku di lemari tadi. Kumpulan kunci-kunci disana bukan yang aku cari.
__ADS_1
Terpaksa aku tidur di sofa kalau begitu.
Bima pov end.