Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 252


__ADS_3

Lily sudah di pindahkan ke ruangannya. Setelah selesai melahirkan tadi, Lily sempat tidak sadarkan diri namun dokter dengan sigap dan cepat melakukan CPR.


Detak jantung Lily menurun drastis, Lily juga sempat berhenti bernafas. Bima panik, tapi dokter dan perawat melakukan pekerjaan dengan cepat dan tepat hingga Lily kembali sadar.


Bima sangat ketakutan. Bima tidak hentinya menatap Lily yang kini terlelap akibat obat yang di berikan dokter tadi. Bima menggenggam tangan Lily. Mata Bima basah. Berkali-kali dia menyusut air matanya.


Bayi mereka sedang tidur dengan lelap. Ratih dan Adi tak hentinya menatap cucu mereka dengan pandangan haru dan bahagia.


"Cucu kita pa!" Ratih berujar. Adi mengangguk kemudian mendekat ke arah Bima.


"Una akan baik-baik saja. Dia wanita hebat. Semua bisa ia lewati dengan baik." ucap Adi yang tahu akan kerisauan putranya.


"Iya pa. Dia wanita yang hebat!" ucap Bima.


Bima melepaskan tangan Lily, lalu mendekat ke arah sang ibu, duduk bersimpuh di lantai. Kepalanya ia simpan di atas pangkuan Ratih. Ratih mengelus kepala Bima dengan sayang.


"Maafin Bima ma. Bima masih belum bisa membahagiakan mama. Bima masih belum bisa membalas semua jasa mama. Bima baru tahu perjuangan mama melahirkan Bima dulu, dan itu gak bisa Bima ganti dengan apapun. Mama sudah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan Bima, menahan kesakitan untuk memperjuangkan Bima. Selalu sabar dalam menghadapi sikap Bima. Maaf... Bima... Maaf...!" Akhirnya Bima tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bima menangis tersedu di pangkuan Ratih.


Ratih sama seperti Bima menangis, lalu mengambil kepala Bima dan mengangkatnya. Ratih mengecup kening Bima dengan sayang.


"Iya. Mama maafkan. Janji sama mama. Kamu gak akan sia-siain Una? Kamu akan selalu jaga dan sayangi Una. Jangan pernah lukain Una. Ingat. Dia lah yang sudah memberikan kebahagiaan sama kamu. Mengorbankan nyawanya untuk melahirkan anak-anak kamu. Dia yang mengurus segala keperluan kamu. Jaga dia dengan baik. Sayangi dia seperti kamu sayang sama mama!" ucap Ratih. Bima mengangguk dan memeluk Ratih.


"Iya ma aku janji. Aku akan jaga dan bahagiakan keluarga kecilku.


Lily terbangun dari tidurnya. Dia menangis melihat adegan yang baru saja terjadi. Begitu juga dengan Adi. Adi tidak sadar kalau Lily sudah bangun.


Bima melepaskan diri dari pelukan sang mama saat terdengar suara tangisan bayi. Bima berdiri dan juga mendapati istrinya yang tengah tersenyum.

__ADS_1


"Kamu udah bangun?" tanya Bima. Lalu mendekat dan mencium kening Lily.


"Trimakasih!" ucap Bima.


Ratih mengambil bayi mungil itu dan menimangnya dengan pelan, hingga bayi itu kembali terlelap.


Dokter masuk ke dalam ruangan untuk memeriksa keadaan Lily dan bayinya. Setelah selesai dokter pun keluar.


Ratih menyerahkan bayi itu pada Lily. Lily mencium kening bayinya dengan sayang.


"Ini hadiah terindah selain Yumna. Trimakasih. Kamu sudah mau berjuang untuk kebahagiaan kita." Bima kembali menangis senang.


"Aku gak mau kamu nangis mas."


"Aku nangis karena bahagia!" ucap Bima lalu mencium kening putrinya.


"Sudah pak." ucap Santi yang baru saja berdiri dari sofa. "Tadi setelah mbak Lily keluar dari ruang bersalin saya sudah telfon dan mereka langsung berangkat kesini."


"Trimakasih Santi!" ucap Bima. Santi mengangguk dan kembali duduk di tempatnya.


Tak lama Adit dan yang lainnya datang. Baby Alvas di tinggalkan bersama mama Celia dan pengasuhnya. Umur baby Alvas baru saja menginjak dua bulan dan tidak baik jika dia keluar masuk ke dalam rumah sakit.


Seketika ruangan itu menjadi banyak orang. Beruntung Bima memesan ruang VIP untuk beristirahat sang istri.


"Selamat Lily!" ucap Celia sambil memeluk Lily.


"Trimakasih, Cel." Lily membalas pelukan Celia. "Trimakasih juga sudah menjaga Yumna. Apa dia nakal?" tanya Lily khawatir.

__ADS_1


"Tidak. Dia sangat membantu dalam mengasuh Alvas. Yumna akan jadi kakak yang baik." Celia memusatkan pandangannya pada Yumna yang berdiri di sebelah Adit. Yumna terus menggoda adiknya meski bayi itu tengah tertidur di pangkuan Adit.


Selang berapa lama Yoga dan Roman datang bersama keluarga kecil mereka. Memberikan selamat dan membawakan buah tangan. Ruangan pun menjadi sempit karena ramainya orang.


"Elo harusnya punya rumah sakit sendiri." ucap Adit menatap ke sekeliling ruangan. Bima mengikuti arah pandang Adit. Benar! Ruangan ini kurang luas untuk keluarga besar mereka. Keluarga yang sangat besar!


"Hhmmm. Boleh juga ide elo!" ucap Bima.


...****************...


Hallo ketemu lagi nih kitaaa....


Thor punya cerita baru lagi. Tapi masih dikit sih partnya. up nya juga masih sak pena'e dhewe. alias sakahoyong nyalira. atau semaunya sendiri 🤣🤣🤣🤣🙈🙈... Tapi pasti up sih walaupun cuma satu bab 😅.


Hehe iklan dikit boleh kan ya?



Silahkan yang merasa pinisirin sama ceritanya boleh mampir dan tinggalkan jejak ya. Yang pasti ini cerita berbeda sama Bily. Tapi juga gak kalah seru (menurut Author 🤣🤣🤣. Promosi sendiri puji sendiri 🙈🙈)


Komennya jangan lupa, rating dan vote, dan... apa lagi yak??? 🤔🤔🤔


Pokoknya minta dukungannya deh, biar author bisa semangat dan lebih baik ke depannya.


Oh iya jangan lupa jadiin favorite kalian semua ya 🤭🤭🤭


Bye. bye...

__ADS_1


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


__ADS_2