Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 107


__ADS_3

"Mas Adit. Terimakasih traktirannya." ucap Lily sebelum keluar dari dalam mobil. Adit tersenyum.


"Tunggu, Ly."


"Iya?" Adit mengambil sesuatu dari kursi belakang.


"Ini!"


"Apa?" tanya Lily sambil menerima tas karton warna biru di lengannya dengan logo khas dari toko pakaian terkenal.


"Ini buat kamu. Selamat ulangtahun!" ucap Adit dengan senyuman manisnya.


"Mas aku udah bilang kan jangan kasih Lily hadiah lagi!" seru Lily mengingatkan saat itu.


"Tapi ini bukan hadiah kok. Hadiahnya nanti minggu depan. Ini cuma Lily harus pakai saat makan malam minggu depan Oke?" Lily terdiam.


"Hei, mas Adit mau rayain ulangtahun kamu, kita makan malam aja." ucap Adit, satu tagannya mengacak rambut Lily hingga berantakan.


"Tapi janji gak akan kasih hadiah yang lain ya. Lily gak mau uang mas Adit habis karena kasih Lily hadiah terus."

__ADS_1


"Mas Adit gak akan bangkrut kalau cuma kasih hadiah buat Lily kok..."


"Mas!" seru Lily matanya melotot karena Adit yang keras kepala.


"Kenapa sih kamu gak mau hadiah dari mas Adit?" Adit menatap Lily, dengan satu tangan ia topang ke dagunya.


Lily menunduk. "Lily ngerasa jadi kayak cewek matre kalau di beliin hadiah terus, mas."


"Jadi kamu tersinggung?" Adit tersenyum saat Lily masih diam tidak berbicara.


"Ya ampun, gak ada yang bilang kamu cewek matre Ly."


"Tapi Lily mau kan makan malam sama Mas Adit? Ya hitung-hitung buat rayain ulang tahun Lily. Tapi mas Adit minta maaf bisanya minggu depan karena minggu ini jadwal mas Adit padat banget." Lily mengangguk.


"Tapi..." ucap Lily ragu.


"Bima?" Lily mengangguk lagi.


"Itu urusan gampang. Bima gak akan bisa larang kamu." senyum Adit menenangkan Lily. Lily mengangguk lalu keluar dari dalam mobil Adit.

__ADS_1


"Gak di suruh mampir nih?" Tanya Adit sesaat sebelum Lily menutup pintunya kembali.


"Gak ah udah malem. Gak baik bertamu malam-malam." senyum Lily lalu menutup pintu mobil perlahan. Adit keluar dari dalam mobil.


"Gak boleh ke dalam mas." Lily mengingatkan sekali lagi.


"Gak ke dalam. Cuma mau lihat Lily masuk sampe rumah." ucap Adit sambil menyandarkan satu tangannya di atap mobil dan menopangkan kepalanya disana. Alis Lily terangkat satu. "Gak baik anak gadis di luar malam hari apalagi sendirian! Sana masuk. Mas Adit tunggu sampe Lily masuk ke dalam baru mas Adit pulang." ucap Adit. Lily mengangguk lalu masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya melambaikan tangannya pada Adit.


***


Matahari bersinar hangat kali ini, Bima sudah selesai mandi masih dengan menggunakan bathrobe-nya dia duduk di tepi ranjang. Satu tangannya menopang berat tubuhnya ke belakang sedangkan tangan kanannya memegang ponsel. Fikirannya sedang kacau. Banyak hal yang ia fikirkan. Tentang gagal kerjasama waktu itu, pembangunan proyek yang macet di Bali, lalu permintaan Dena yang ingin Lily tinggal dengan mereka.


Bima melemparkan punggungnya dengan kasar di atas kasur. Rambut basahnya membuat selimut di bawah kepalanya menjadi basah.


Tiba-tiba saja senyum gadis kecil terlintas sekelebat di benaknya. Dengan lesung pipi yang sangat kentara di pipi kanannya. Gadis kecil yang sudah sangat lama ia rindukan. Haruskah Bima mencarinya lagi? Bima penasaran apakah yang dirasakannya selama ini pada gadis itu? Bima sudah menikah seharusnya bayangan gadis kecil itu menghilang bukan seiring dengan kebahagiaan Bima yang saat ini ia rasakan?


Apakah hanya karena janji? Tapi janji konyol itu hanya janji seorang anak kelas lima SD. Janji yang ia buat karena tidak ingin melihat gadis itu menangisi kepergiannya. Bima sangat menyayanginya, tapi waktu dulu. Sedangkan sekarang dia punya Dena, pusat dari rasa kasih sayangnya.


Bukannya Bima juga tidak pernah mencari tahu tentang perasaannya, sedari dulu. Bahkan saat dia masih kuliah, Bima pernah datang kesana, tapi yang dia cari sudah tidak ada.

__ADS_1


'Ya ampun. Pemikiran apa ini? Kenapa dia tidak pernah pergi dari dalam fikiranku?'


__ADS_2