
Ratih dan Adi sudah di beri kabar tentang kehamilan Lily, begitu juga dengan keluarga yang lain. Yang berada di Jogja maupun di Surabaya, termasuk kedua orangtua Azka. Mereka sangat bahagia mendengarnya.
Sejak saat itu Bima menjadi suami yang sangat protektif. Asisten di rumah di tambah menjadi lima orang. Lily juga tidak boleh masuk ke area dapur selain untuk makan dan mengambil minum. Bahkan kalau bisa maid yang membawakan kebutuhan Lily ke dalam kamar.
"MASSS!!!" Lily berteriak saat Bima lagi-lagi membawakan makanan ke kamar.
"Aku masih bisa ke dapur untuk makan. Gak usah kamu bawa kesini! Aku ini cuma hamil!" Lily merasa gemas. Ingin rasanya mencubit perut Bima sampai merah.
"Jangan teriak-teriak. Kasihan anak kita!" Bima menyimpan nampan di atas meja. Lalu mengambil piring, Bima bersiap akan menyuapi Lily.
"Awas ah!" usir Lily saat Bima sudah menyodorkan makanan ke depan mulutnya. "Aku mau makan di dapur. Bosan makan di kamar terus!" ucap Lily dengan nada kesal.
Seminggu ini Bima lebih sering di rumah, bekerja dari rumah sambil memantau keadaan Lily. Melarang ini, melarang itu, bahkan hanya ke taman belakang pun tidak boleh! Terlalu jauh katanya.
Lily merasa kesal karena pergerakannya di batasi.
*
Bima gelisah dalam tidurnya. Sudah jam sebelas malam dan dia hanya bisa berguling ke kanan dan ke kiri.
Lily merasa tidurnya terganggu.
"Kenapa, mas?" Bima membalikan badannya. Terlihat mata Lily merah karena masih mengantuk.
"Maaf kamu jadi kebangun." sesal Bima.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
Bima menggelengkan kepalanya, tapi di dalam otaknya sedang memikirkan sesuatu.
"Aku..um.."
"Apa sih? Tidur deh ini udah malam. Besok ke kantor kan?"
"Aku pergi sebentar oke!" Bima bangkit dari atas kasur dan mengambil jaket dari dalam lemari, tak lupa dompet dan kunci mobil. Lily terduduk melihat Bima yang sudah siap untuk pergi.
"Kamu mau kemana mas?"
"Aku mau cari cilok!"
Lily terbengong mendengar Bima.
Ya ampun mas Bima! Harusnya kan aku yang ngidam!
"Kamu mau makanan apa? Aku belikan!"
"Enggak. Aku gak mau apa-apa!" ucap Lily.
"Aku pergi ya." Lily mengangguk lalu merebahkan kembali badannya di atas kasur.
Bima keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya. Entah kemana tujuannya tapi dia bertekad untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Sudah hampir satu jam Bima berputar-putar, tapi yang di carinya belum juga ketemu.
Bima menghentikan mobilnya, dan mengambil hpnya. Dia mencari nomor Adit, beberapa kali panggilan, dan di panggilan ke lima baru lah Adit mengangkatnya.
"Halo Dit!"
suara Adit serak.
"Tolongin gue please!"
"Panggil temen yang lain ke tempat biasa! Ini gawat!" ucap Bima lalu mematikan telfonnya saat Adit melayangkan protesnya.
Selang tiga puluh menit ketiga sahabat Bima sudah berkumpul di tempat biasa. Wajah mereka kesal karena tidak tahu apa-apa dan mengantuk juga.
"Ada apa sih woyy?!!" tanya Roman kesal.
"Elo ganggu tidur gue aja!" Yoga meradang. Sedangkan Adit duduk bersandar di kap mobilnya.
"Bantuin gue cari cilok. Please!
Ketiga orang itu menatap Bima bersamaan. Mulutnya terbuka.
"Tengah malem panggil kita kesini cuma buat cari cilok?!" tanya Roman. Yang di tanya nyengir persis kuda dan mengangguk.
__ADS_1
"Ya elah BIM!!! ELO BIKIN GUE BANGUN DARI MIMPI GUE CUMA BUAT CARI CILOKK!!!" teriak Roman tidak percaya. Roman kesal, pasalnya dia sedang bermimpi indah bersama Nila, saat Adit menelfonnya tadi.