Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 247


__ADS_3

Lily bersama keluarga besar sedang berada di rumah sakit. Celia sedang berjuang di dalam ruang persalinan. Sejak tengah malam Celia sudah merasakan kontraksi dan langsung dibawa ke rumah sakit


Mama Puspa terlihat mondar mandir, gelisah, tidak mau duduk. Wajahnya terlihat sangat khawatir. Sejak dua minggu yang lalu Mama Puspa sudah datang memang sengaja ingin mendampingi sang menantu.


"Adit bisa gak ya?" Mama Puspa bicara sendirian.


"Ma. Duduk saja." Lily menepuk kursi kosong di sebelahnya.


"Adit bisa gak ya Na?" tanya mama Puspa khawatir Adit akan pingsan lagi.


"Mudah-mudahan, ma. Doakan saja semoga mas Adit gak pingsan lagi." ucap Lily.


"Iya ma, mama duduk saja. Jangan khawatir, ada dokter terbaik di dalam sana." Bima menambahkan.


Sudah hampir sepuluh jam mereka di rumah sakit, tapi tidak ada tanda-tanda bayi itu akan lahir. Dokter sudah saling pandang kepada perawat.


Celia sudah terlihat lemas, dan kesakitan.


Dokter meminta Adit untuk mengikutinya.


"Pak, seperti yang sudah di beritahukan sebelumnya. Untuk persalinan normal meskipun bisa tapi akan sulit. Lebih baik kita operasi saja. Kasihan ibu Celia dan bayinya."


"Apapun lakukan saja dokter!" dokter mengangguk, mata Adit sudah basah sedari tadi. Dia tidak tega melihat istrinya kesakitan.


"Baik saya akan siapkan berkasnya untuk bapak tanda tangani."


Adit menghampiri Celia dan mencium kening istrinya yang basah oleh keringat.


"Sayang, lebih baik kamu operasi saja ya." bisik Adit. Celia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku mau melahirkan normal. Aku bisa!"


"Tapi aku gak tega lihat kamu." Adit menangis.


Salah satu perawat kembali masuk dengan membawa secarik kertas.


"Mas, enggak!" Ucap Celia menahan tangan Adit. "Satu jam lagi. Setelah itu terserah kamu." pinta Celia.


"Please!"


Adit menatap dokter, meminta pendapat. Dokter menatap Celia dan melihat kesungguhan dan keyakinan disana.


"Oke. Suster. Ayo lakukan lagi!" ucap dokter di angguki beberapa orang yang berada disana.


Sementara di luar, semua orang sangat khawatir apalagi saat melihat perawat tadi membawa berkas untuk persetujuan caesar. Mama Puspa tak henti-hentinya menangis.


Detik serasa berjalan lambat untuk mereka. Panik, khawatir, takut, bercampur baur. Yumna pun sudah menangis sedari tadi memanggil nama Celia. Santi mengajak Yumna ke taman.


Adit tidak pernah berhenti menyemangati sang istri.


"Mas, maaf selama ini aku udah egois dan seenaknya sendiri. Aku sayang kamu mas." ucap Celia. Adit menggelengkan kepalanya.


"Aku juga. Aku juga sayang kamu, sangat!"


Celia menarik nafas panjang lalu mengejan dengan sekuat tenaga. Menancapkan kukunya lebih dalam lagi pada pergelangan tangan sang suami.


"Aaakkhh!!!!"


"Oweeekk. oweeeekk..."

__ADS_1


Bersamaan dengan berakhirnya teriakan Celia terdengar suara tangisan bayi.


"Alhamdulillah." serempak semua orang bersyukur.


Adit merasa lega. Dia menangis bahagia melihat sang putra. Bersyukur dia tidak pingsan seperti dulu.


"Sayang kamu berhasil." ucap Adit lalu mengalihkan pandangan pada sang istri.


"Sayang?" Adit panik karena mata sang istri menutup.


"Sayang? bangun. Dokter!!!" Teriak Adit panik.


Dokter menghampiri.


"Mas..." Celia menahan tangan Adit yang menepuk-nepuk pipinya.


"Aku belum mati. Aku cuma ngantuk. Capek!!" ucap Celia. Semua orang yang berada di ruangan sana menghela nafas lega.


Adit menciumi seluruh wajah istrinya bertubi-tubi.


"Mas. Stop. Gak malu apa banyak orang disini?" Adit tersenyum malu menatap sekelilingnya.


"Hehe, terlampau bahagia!"


Dokter dan para perawat tersenyum malu dan senang akibat melihat adegan barusan.


Celia sudah di pindahkan ke ruang inap, sedangkan bayinya di bersihkan dahulu sebelum menyusul sang ibu.


Semua orang senang dan bahagia. Mama Puspa tak hentinya menatap cucu laki-lakinya dengan wajah berbinar. Yumna juga sama tak hentinya menggoda jagoan Celia dan Adit mekipun bayi itu sedang tidur.

__ADS_1


"Yang." panggil Bima. Lily menoleh. "Kapan anak kita akan lahir? Aku juga mau tangannya lecet kayak Adit." ucap Bima mengalihkan pandangan dari bayi lalu kepada Adit yang sedang mengobati tangannya.


"Dua bulan lagi. Sabar. Siapin aja tangan atau leher kamu." Lily terkikik.


__ADS_2