Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 201


__ADS_3

Bima dan Lily sudah selesai dari terapinya dan kini mereka sudah berada di perjalanan pulang. Lily terdiam menatap ke luar jendela, sedangkan Bima tiba-tiba merasa canggung dengan keadaan mereka.


"Aku.."


"Bim.."


Keduanya merasa canggung saat akan berbicara bersamaan.


"Ah, kamu duluan." tawar Bima.


"Kamu saja." tolak Lily.


"Ah oke. Mau makan dulu sebelum pulang?"


Lily mengangguk.


"Kamu mau bicara apa tadi?" tanya Bima.


"Em, gak jadi. Gak penting!"


"Beneran?" tanya Bima. Lily hanya mengangguk.


"Serius?" tanya Bima lagi masih penasaran.


"Hehe, lain kali deh." ucap Lily dengan cengiran khasnya. Hati Bima berbunga-bunga padahal hanya melihat senyum Lily.


"Makan dimana?"


"Terserah." ucap Lily.


"Oke!" Bima kembali fokus ke jalanan.


"Biasanya kita dulu makan dimana?" tanya Lily. Bima hanya menggaruk belakang lehernya.

__ADS_1


"Kita gak pernah makan di luar." ucap Bima jujur.


"Setahun menikah gak pernah ajak aku makan di luar?" Lily berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Ckckck. Suami macam apa itu! Payah!" Bima terkejut. Apa mungkin karena amnesia Lily jadi berubah?


"Sorry. Harusnya aku juga berfikir rasional, menjadi yang kedua berarti harus menerima segala resikonya kan? Termasuk tidak di cintai karena kita terpaksa menikah. Ganti saja judulnya jadi TERPAKSA MENIKAH DENGAN SEORANG PRIA YANG MENCINTAI ISTRINYA! haha." Lily tertawa renyah. Menertawakan dirinya sendiri, membuat Bima merasa bersalah. Bima menepikan mobilnya di tepi jalanan yang sepi.


Dia berbalik ke arah Lily dan mengambil tangan kanan Lily dengan kedua tangannya.


"Na. Aku tahu selama ini aku salah, aku terlambat menyadari rasa cintaku sama kamu. Tapi jujur selama kamu menghilang aku cari kamu kemana-mana. Aku frustasi saat kamu gak ada, aku nyaris gila! Kali ini ijinin aku buat bahagiakan kamu sama Yumna!"


Lily menatap mata Bima yang penuh dengan sorot mata penuh rasa bersalah. Ada rasa kasihan juga melihat pria di sampingnya ini. Apalagi Adit juga mengatakan kalau Bima tidak pernah berhenti mencarinya. Dan mungkin juga karena dirinyalah yang melarang Adit untuk memberitahu Bima.


Lily hanya mengangguk.


"Tapi kamu tahu kan status aku gimana sekarang?"


"Iya aku tahu. Tapi mama Melati sedang mengurusnya untuk kamu. Kita bisa menikah lagi."


"Haa? Kamu fikir aku mau nikah sama kamu?" Mata Bima membulat. Kaget bin terkejut! Tidak menyangka dengan penolakan Lily. Bahu Bima merosot ke bawah.


Lily hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi dengan kedua alis yang terangkat.


"Kalau mau dapetin aku gak akan gampang!" ucap Lily seraya menarik tangannya. Bima menatap Lily, lalu tersenyum.


"Jadi, kalau aku bisa buat kamu jatuh cinta, kamu mau nikah lagi sama aku?" Nada suara Bima terdengar bersemangat kali ini.


"Mungkin." ucap Lily dengan kekehan.


"Oke. Aku akan buat kamu jatuh cinya sama aku!"


"Yakin bisa?"


"Tentu yakin! Kamu memang selama ini cinta sama aku!"

__ADS_1


"Ih jadi cowok jagan kepedean!" ejek Lily.


"Emang aku pede kok! Lihat aja, dalam waktu dekat ini kamu pastikan klepek-klepek sama aku!"


"Oh ya?" tanya Lily dengan angkuhnya.


"Tentu!"


"Dan aku akan pastikan gak segampang itu kamu dapetin aku!" tantang Lily.


"Oke! Siapa takut!" Bima menerima tantangan dari Lily, lalu keduanya tertawa karena merasa perdebatan mereka seperti anak remaja labil.


Setelah beberapa saat lamanya tertawa mereka berhenti.


"Haha. Ya ampun!" Bima mengusap sudut matanya yang berair.


"Aku udah lama banget gak ketawa kayak gini." ucap Bima lalu mengacak rambut Lily dengan sayang. Lily tersenyum senang menerima perlakuan Bima.


Mata Bima berkaca-kaca. Bima meneteskan air matanya.


"Kok nangis?" Tanya Lily lalu memberikan tisu untuk Bima.


"Aku bahagia." ucap Bima seraya mengelap air mata di wajahnya.


"Bahagia itu harusnya senyum bukannya nangis!"


"Aku nyesel dulu pernah kasar sama kamu. Maafin aku Una, maaf!" Bima menangis di hadapan Lily. Begitu besar rasa penyesalannya hingga tidak peduli lagi kalau dia menangis di depan Lily.


Lily mengusap bahu Bima perlahan.


"Makan yuk, lapar!" Bima mengangguk lalu kembali mengambil satu lembar tisu untuk benar-benar mengelap wajahnya hingga kering.


"Aku sampai lupa!" ucap Bima di sertai kekehan.

__ADS_1


Bima segera menjalankan mobilnya ke sebuah restoran yang tidak jauh dari sana.


__ADS_2