
"Kenapa? kamu mimpi buruk?" taya Bima. Dena menggelengkan kepala.
"Aku cuma kangen kamu." Bima melingkarkan tangan kirinya di pinggang Dena dan menarik tubuh Dena hingga tidak ada jarak lagi diantara keduanya. Menciumi puncak kepala Dena berkali-kali. Dena tersenyum mendapat perlakuan manis suaminya.
Akhirnya Bima mendapatkan yang dia mau. Mereka tidur kembali setelah pergumulan panas mereka di bawah selimut.
Di luar cahaya matahari sudah terasa panas. Bima terbangun lalu tersenyum saat melihat Dena masih tertidur pulas di balik selimutnya. Dena tidur tertelungkup dengan satu kakinya yang tidak tertutup selimut hingga ke pahanya. Punggung putihnya terlihat jelas.
Bima menaikan selimut ke tubuh sang istri hingga ke lehernya lalu mengecup pundak Dena dengan lembut.
Air hangat mengalir melewati tubuhnya. Bima menengadah membiarkan wajahnya basah di terpa air yang mengucur dari shower. Matanya terpejam. Fikirannya kembali ke waktu semalam. Saat Dena dengan kekeuh ingin anak darinya. Apakah Bima harus mengabulkan permintaan Dena?
Bima membuka mata saat merasakan sesuatu melingkar di perutnya. Dia menoleh ke samping dan mendapati sang istri yang sedang tersenyum padanya.
"Morning honey!"
"Morning too, babe." Bima memutar tubuhnya hingga saling berhadapan tanpa membuat sang istri melepaskan pelukannya. Air dari shower membasahi tubuh polos mereka berdua. Dena menutup mata merasakan kehangatan bibir Bima di keningnya. Bima membingkai wajah Dena dengan kedua telapak tangannya dan menciumi seluruh wajah Dena tanpa terlewat.
__ADS_1
"Mas kenapa gak bangunin aku?" tanya Dena setelah Bima melepaskan bingkaian kedua tangannya.
"Kamu tidur sangat pulas. Aku gak mau ganggu mimpi indah kamu!" Dena tersenyum lalu melabuhkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Iya, kamu gak mau ganggu aku, tapi kamu juga jadi gak ke urus kalau aku gak bangun, mas!" protes Dena.
Bima terkikik. "Aku gak perlu di siapin apa-apa, cukup kamu persiapkan diri kamu buat aku terkam sekali lagi!" ujar Bima dengan seringaian di bibirnya.
Dena menjauhkan wajahnya dari dada Bima dan mencubit perut kotak-kotak Bima.
"Aww!" Bima meringis sambil mengusap perutnya.
"Biarin! kan mesum sama istri sendiri!" ujar Bima dalam kekehannya. Dia langsung menyambar bibir Dena untuk di l*m*tnya dengan rakus hingga Dena kehabisan nafas dan memukuli dada bidang sang suami.
Dena terkekeh melihat bibir sang suami yang kini maju beberapa sentimeter. Dia memakaikan dasi pada suaminya, mengikatnya dengan rapih. Lalu merapikan jasnya untuk terakhir kalinya sebelum sang suami berangkat bekerja.
"Sudah!" ucap Dena lalu mengecup bibir sang suami dengan singkat dan menjauhkannya sebelum Bima berhasil membuka mulutnya.
__ADS_1
"Kamu tega!" ucap Bima dengan nada memelas.
"Tega apa?!" tanya Dena pura-pura tidak tahu. Namun masih tersenyum jahil.
"Kamu sengaja buat aku on fire di kamar mandi tapi kamu sudah mematahkan hati aku." ucap Bima bibirnya kembali maju membuat Dena gemas dan mencubit hidung Bima dengan keras.
"Hehe. Maaf mas, tapi kalau kita melakukannya lagi kamu pasti akan terlambat mas!" ucap Dena di sertai kekehan.
"Aku bos disana, tidak akan ada yang marah kalau bos sedikit telat kan?" protes Bima dengan puppy eyes-nya.
"Enggak boleh!" Dena melotot membuat Bima menunduk lesu dan menghela nafas kasar.
"Ini menyakitkan, Na!" seru Bima sambil membawa tangan Dena dan menempelkannya di bawah.
Dena semakin terkikik dan mengelus 'milik' Bima yang mengeras di balik celana kerjanya.
"Kasihan. Tapi sayang, ini waktunya bekerja. Sabar ya sayang." goda Dena seraya berbisik sensual di telinga Bima dan meremas 'milik' suaminya, membuat Bima merasa frustasi.
__ADS_1
"Ahhh." Bima melenguh merasakan nikmat sekaligus sakit yang di rasakannya. Dena benar-benar...!