Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 223


__ADS_3

Warning: Harap bacanya sambil tutup mata!!!🙈🙈🙈


(jadi gimana mau baca kalau tutup mata?🤔🤔)


(Ah terserah deh yang penting thor mah udah kasih peringatan loh ya, gak boleh minta pertanggungjawaban!!! 😅😅😅✌)


***


Bima dan Lily kembali ke lantai atas untuk beristirahat. Masih ada waktu dua jam lagi sebelum mereka bersiap-siap.


"Mas, ada gempa ya?" tanya Lily panik.


Bima berhenti berjalan.


"Gempa dari mana?"


"Aku denger suara pintu bergerak-gerak, mas!" Bima menajamkan pendengarannya, dia memutar bola mata malas saat ada suara lain yang terdengar.


"Apa mas?" tanya Lily yang hendak mengikuti tingkah Bima mencondongkan tubuhnya. Bima segera menarik tangan Lily.


"Sudah jangan di hiraukan. Itu gempa lokal!" ucap Bima lalu menarik tangan Lily menuju kamar mereka.


"Gempa lokal?"


"Adit sama Celia lagi bikin baby!" terang Bima. "Dan kita...." Bima mengangkat tubuh Lily ala bridal, membuat Lily memekik terkejut. "Kita juga akan bikin baby sebentar lagi!"


Cup.


Bima mendaratkan satu kecupan di bibir Lily, membuat Lily merona malu. Lily mengalungkan kedua tangannya di leher Bima dan menelusupkan wajahnya di ceruk leher suaminya.


Bima terus melangkah, lalu membuka pintu dengan tangan kanan.


"Yang?"


"Hem?"


"Tolong tutup pintu dan kunci sekalian. Oke?" Bima mengedipkan satu matanya. Lily tersenyum dan mengangguk lalu menutup pintu dan menguncinya.


"Kita juga harus buat gempa lokal. Jangan kalah dari mereka berdua. Bahkan kalau bisa lebih dahsyat dari gempa dan tsunami di Aceh!"


"Aku akan buat kamu gak bisa jalan seminggu!"

__ADS_1


Lily melotot, tidak menyangka dengan Bima yang ternyata bisa sangat lebay dan mesum membuat Lily bergidik ngeri.


"Kamu takut hem?" tanya Bima sambil membaringkan Lily di atas kasur dengan lembut.


"Enggak, aku gak takut sama sekali, tapi justru aku yang takut kamu gak akan bisa pergi ke kantor karena sakit pinggang. Hehe!" Lily melingkarkan tangannya di leher Bima.


"Dasar Nakal!" Bima mencubit gemas hidung Lily. "Kamu nantang aku hem?" tanpa aba-aba Bima langsung menubrukkan bibirnya ke bibir Lily. Gemas.


Cup.


"Kamu udah bangunin macan tidur sayang, dan aku gak akan sia-siakan! Awas kamu ya." Lily tersenyum menyeringai.


Bima kembali m*l*m*t bibir Lily dengan rakus dan menuntut. Keduanya saling berbalasan dan berbelit lidah. Bima menahan tengkuk Lily sedangkan Lily meremas rambut belakang Bima. Hingga terdengar suara decapan indah dari keduanya.


Tangan Bima tidak mau hanya diam saja. Dia menelusupkan satu tangannya ke dalam kaos milik Lily, memanjakan sesuatu di dalam sana, sedang satu tangannya menahan berat tubuhnya agar tidak menindih Lily.


Perlahan ciuman mereka melembut, tidak lagi menuntut seperti tadi. Jari telunjuk Bima berputar-putar di dalam kaos Lily dan sedikit memijatnya.


"eughh..." erangan Lily tertahan karena Bima masih membungkamnya dengan bibirnya.


Perlahan Bima mengalihkan ciumannya pada leher Lily, memberinya tanda kepemilikan disana.


"Eughhh maaasss." darah Lily seakan bergolak panas. Rasa gerah, panas dan dingin bercampur seketika apalagi saat tangan Bima memanjakan area dadanya bergantian meski masih ada penghalang di sana.


Bima tersenyum nakal dan mengalihkan tangannya ke belakang tubuh Lily dan melepas kaitan b*a milik Lily hingga seketika terbebas dari kungkungan kain yang menutupinya.


Bima menyingkap baju Lily, dan meraup gundukan kenyal itu dengan mulutnya. Satu tangannya menggoda gundukan yang lain dan bergantian.


"Aahh maaaasss. Stop masss." ucap Lily, wajahnya sudah memerah menahan sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya.


"Aku gak akan berhenti sebelum aku sakit pinggang dan kamu gak akan bisa jalan selama satu bulan!" Bima menyeringai dan akan membuktikan ucapannya.


"Mas, enggak. Aku tadi bercand..hemppptt" kembali Bima m*l*m*t bibir seksi milik Lily. Memanjakan lidah Lily dengan permainan lidahnya.


***


Bima Satria


Dasar istriku ini! Akan aku buat dia tidak bisa bangun selama satu bulan! Persetan dengan acara nanti malam. Aku akan buktikan ucapannya tadi, karena dia sudah mengejek dan menggodaku tadi. Salah sendiri!


Tidak ada ampun kali ini! Dan tidak ada lagi yang bisa mengganggu kami saat ini!

__ADS_1


Awas kamu Una! Aku akan buat kamu berteriak nikmat di bawah tubuh polosku!


Aku mencium Lily dengan brutal, Awalnya Lily terkejut mungkin karena aku terlalu terburu-buru dan menciumnya dengan menggebu. Perlahan aku melembutkan ciumanku, hingga Lily nyaman dan lebih bisa menguasai pagutan bibir ku.


Dadanya, ah ya ampun! Hangat, kenyal, pas di tanganku, dan aku senang menggoda tonjolan yang ada di setiap gundukannya, membuat dia mengeluarkan suara seksi saat aku m*m*l*nnya. Fix, ini akan ku jadikan tempat favoritku selain bibir Lily!


Ciumanku turun ke lehernya lagi, wangi mawar dan keringatnya bercampur baur, tapi aku suka. Belum apa-apa dan dia sudah berkeringat? Apalagi nanti saat aku sudah traveling ke dalam gua nya?


"Aahhh MAASSS!" dengar dia sudah tidak tahan sepertinya. Matanya terpejam, wajahnya mendamba. Mulutnya sudah mendesis persis ular. Terkadang menggigit bibir bawahnya.


"Keluarkan saja, jangan di tahan Jangan gigit bibir kamu sayang!"


"Ahh Masss p-pleeaseee!"


Aku berhenti menggodanya, kasihan dengan Lily dan kasihan juga dengan si boy yang sudah meronta ingin terbebas dari celana sempit ini. Tapi aku juga tidak tahan ingin meraup tonjolan besar dadanya sekali lagi. Ah Lily kamu buat aku gila!!!


Nikmat sekali, tidak ada yang setara dengan rasa ini. Kenyal dan hangat, aku memainkan tonjolan coklat itu dengan lidahku.


"Ahh masss. Tolong... ah..!!"


Segera aku meloloskan kaos Lily dan membuangnya asal tanpa melepas bibir ku, dan dalaman berenda milik Lily juga menyusul terbang dan jatuh entah dimana.


Ku cium bibir Lily yang selalu m*nd*sah, m*ndesis dan m*lenguh. Rasa sesak di celanaku membuat aku tidak tahan lagi.


Aku melepas pagutan bibirku, membuat Lily terlihat kecewa.


Sreekkkkk!!!


Mata Lily membulat saat aku malah menarik kemejaku hingga kancing-kancing jatuh berserakan di ranjang. Lama jika membukanya satu persatu kan?!


Dan dengan cepat pula aku membuka celanaku dan menyisakan dalaman ku saja. Lily masih terpaku melihat kelakuanku tadi, atau melihat perut kotakku?


Kembali ku pagut bibirnya, mengabsen semua yang ada disana satu persatu. Kedua tangan Lily meremas belakang kepalaku. Membuat rambutku berantakan. Tapi aku suka!


Lily mengangkat pinggulnya saat aku membuka celana panjang miliknya dan menyisakan dalaman putih berenda, celananya menyusul baju dan b*a yang tadi aku lempar ke lantai. Kami masih berciuman dan aku tidak akan melepas bibir manis ini. Oh ya Lord! Setelah hampir lima tahun akhirnya aku akan berbuka puasa saat ini!


Reaksi tubuhku semakin panas, milikku semakin sesak, sakit! Aku melepas satu kain terakhir yang menutupi tubuhku, tanpa melepas ciuman kami. Membuat si boy bisa bernafas lega sebelum kembali sesak saat menjelajah nanti!


Lily terkejut membulatkan matanya lalu mendorongku ke samping dengan keras hingga aku terguling dengan si boy yang sudah berdiri tegak. Apa Lily yang akan memimpin permainan? Dasar nakal!


Aku tersenyum senang, tapi tunggu..!

__ADS_1


Seharusnya Lily naik ke atas tubuhku tapi kenapa dia lari ke kamar mandi?


__ADS_2