
Mulai dari saat ini Bima, Lily, dan Yumna menempati rumah mereka sendiri. Kedua rumah Bima yang lain di biarkan kosong hanya dua orang pekerja untuk menjaga dan membersihkan rumah.
Suara bel berbunyi nyaring. Adit dan Celia masuk ke dalam rumah dan mendapati Bima dan Yumna sedang bermain bersama di ruang tengah. Sedangkan Lily berada di dapur.
Sebenarnya Bima ingin menepati janjinya untuk belajar memasak, tapi nyatanya dapur sangat kacau saat Bima merealisasikan janjinya. Belum lagi bahan makanan yang lebih banyak terbuang, karena gosong, terlampau asin, dan sebagainya. Piring pecah, atau pisau patah. Lily sendiri bingung bagaimana bisa pisau itu dengan mudahnya Bima patahkan?
"Papiiii..." Yumna berlari dan memeluk kaki Adit, lalu bergantian memeluk Celia.
"Halo pincess. Apa kabar?" Tanya Celia yang sudah mengangkat Yumna dalam gendongannya.
"Baik, Mami." ucap Yumna lalu mengecup pipi Celia dengan sayang.
"Yang, biar aku aja yang gendong Yumna. Kasihan baby!" Adit khawatir dengan perut Celia takut tertekan karena menggendong Yumna yang semakin besar.
"Apaan sih, aku gak pa-pa juga." Celia melotot tidak suka. Semenjak Adit tahu dirinya tengah mengandung Adit sangat protektif padanya. Kini usia kehamilan Celia masuk di bulan ketiga.
"Yang, tapi itu..." Celia tidak mempedulikan Adit dan berjalan ke arah dimana Bima berada.
"Hai Bima. Apa kabar? Maaf setelah kalian kembali dari bulan madu aku baru bisa berkunjung sekarang!" Celia mendudukan dirinya di sofa dengan Yumna di pangkuannya. Tak lama Adit juga duduk di sebelah istrinya.
"Iya tidak apa-apa. Turunkan saja Yumna. Dia sudah berat sekarang. Yumna turun sayang, kasihan mami dan dedek bayi." ucap Bima pada sang putri. Yumna menatap Celia dan Bima bergantian.
"Mami punya dedek bayi?" Celia tersenyum dan mengangguk senang.
"Mana dedek bayinya?" tanya Yumna polos.
"Disini!" ucap Celia menunjuk perutnya. Yumna segara turun dari pangkuan Celia dan duduk di antara mami dan papinya.
__ADS_1
"Kok, dedek bayi sembunyi di perrrllut mami? Dedek bayi keluarrll sini main sama Yuma." sontak yang lain tertawa mendengar celoteh Yumna. Yumna mengetuk-ngetuk pelan perut Celia dengan telunjuknya.
"Kok dedek bayi nya gak mau keluarrll sih, mi. Apa dedek bayi gak mau main sama Yuma?"
Celia bingung, mau menjawab apa. Dia belum pengalaman sama sekali dengan hal yang seperti ini. Menatap Bima dan Adit pun percuma, mereka juga sama sekali tidak bisa membantu!
"Yumna, dedek bayi nya sembunyi dulu, nanti kalau perut mami sudah besar dan dedek bayinya gak muat lagi di dalam sana baru dedek bayinya keluar sayang." Celia bernafas lega saat Lily datang. Yumna hanya manggut-manggut meskipun sebenarnya tidak begitu mengerti.
"Kalau dedek bayi nya gak mau keluarrll, biarrll Yuma aja yang masuk biarrll dedek bayinya gak kesepian di dalam sana."
Lagi semuanya bingung mendapati ocehan batita empat tahun ini.
"Eh. Yumna gak bisa ke dalam sayang, nanti kasihan dedek bayinya sempit di dalam sana." ucap Lily.
"Tapi dedek bayi kasihan sendirrllian ma!" Yumna menatap Lily, lalu kembali ke perut Celia yang masih rata.
"Yumna mau main sama dedek bayi?" tanya Celia. Yumna mengangguk dengan antusias hingga poninya bergoyang.
"Dedek bayi, keluarrll, main sama Yuma." lalu Yumna diam.
"Yumna denger apa?" Yumna mengangkat kepalanya.
"Gak dengerrll apa-apa mi!"
"Berarti dedek bayinya lagi bobo!"
"Kalau lagi bobo gak boleh di ganggu ya mi?" tanya Yumna. Celia mengangguk lalu memeluk Yumna, menciumi pipi gembil Yumna beberapa kali.
__ADS_1
"Mama, kapan Yuma punya dedek bayi sendirrrllii?" Lily dan Bima saling berpandangan.
"Nanti sayang." ucap Lily kikuk.
"Kapan ma? Yuma juga mau dedek bayi!" rengek Yumna, yang kini berlari ke arahnya. "Mau dedek bayi!!"
"Secepatnya sayang." ucap Bima tidak tega melihat wajah sedih Yumna. Sedangkan Lily melotot arah sang suami.
"Benerrllan pa?!" Bima mengangguk.
"Yeeeayy. Yuma mau punya dedek bayi!!" Yumna berjingkrak senang.
Semua tertawa melihat tingkah lucu Yumna yang menggemaskan.
Lily menatap suaminya dengan tatapan menusuk.
"Kamu ngomong apa sih mas? Gimana kalau Yumna terus nanyain soal bayi?" bisik Lily sambil mencubit paha Bima.
"Aww sakit, sayang." Bima mengelus pahanya yang terasa panas.
"Ya berarti kita harus lembur tiap malam buat ngasih adik sama Yumna! Kalau bisa aku libur kerja biar cepet dapetin adik buat Yumna." bisik Bima pelan di telinga Lily, wajah Lily berubah merah. Meskipun sudah satu bulan lebih menjadi istri Bima dia masih belum terbiasa dengan sifat mesum suaminya.
"Ish apaan sih?!" ucap Lily malu.
"Eh, Bim sorry, gue repot, sibuk ngurus ratu karena lagi manja-manjanya gak mau di tinggal jadi baru bisa dateng ke sini." ucap Adit yang juga mendapat cubitan maut di pinggangnya.
"Apaan sih yang?"
__ADS_1
"Maksud kamu apa Ratu Manja? Aku gak manja! Wajar dong. Kamu gak terima? Ini semua kan permintaan anak kamu juga! Kalau kamu gak mau, udah kamu tinggalin aku aja. Aku gak pa-pa ngurus anak aku sendirian walau gak ada BAPAKNYA!!" teriak Celia di akhir kalimat.
"Eh yang, bukan gitu." Adit jadi serba salah. Menghadapi Celia saja sudah sulit apa lagi sekarang di saat Celia sedang berbadan dua. Sensitif, dan lebih pemarah!