Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 16


__ADS_3

"Apa yang kamu fikirin? Aku cuma mau ngambil bantal di belakang kamu!" Dengan cepat Bima memundurkan tubuhnya lalu menata bantal yang di tumpuknya dan kemudian merebahkan tubuhnya dengan kepala yang sedikit tinggi.


Lily malu bukan kepalang, rasanya dia ingin menenggelamkan diri saja di laut sekarang! Kenapa Lily bisa mikir macam-macam sih! Ya karena di kepala Lily ada otak lah!


"Gak papa kan kamu tidur gak pakai bantal? Aku gak bisa tidur nyenyak kalau bantalnya cuma satu!"


Lily tersentak, "Eh, iya. Pakai aja. Gak papa." Bima berbalik memunggungi Lily.


"Cepat tidur! Besok pagi kita harus meninjau pembangunan hotel."

__ADS_1


"i-iya pak." Lily segera berbaring. hatinya dag-dig-dug. Meskipun Bima sudah menjadi suaminya tapi Lily tidak boleh berharap banyak, karena pernikahan mereka hanyalah sementara dengan perjanjian di dalamnya.


Lily bergerak gelisah. Niatnya mau tidur nyenyak tapi nyatanya sekarang rasa kantuk itu sudah hilang. Lily hanya bisa berguling ke kanan dan ke kiri. Hingga terlihatlah punggung putih mulus milik Bima yang tidak terbungkus selimut.


Fikiran liarnya kembali menghampiri. Wajarkan? Lily adalah gadis dewasa. Apa yang di fikirkan gadis dewasa jika dalam posisi seperti ini? Tidur satu ranjang bahkan satu selimut dengan seorang lelaki dewasa, suaminya. Lily merasa gerah sendiri, wajahnya memanas.


Tanpa sadar Lily menyentuh kulit punggung Bima dengan ujung jari telunjuknya. Lembut. Lily merasa malu sendiri, senyum sendiri. Fikirannya semakin melanglang buana yang membuat tubuh Lily semakin panas.


"Bolehkah kalau aku egois ingin memilikimu seutuhnya?" tanpa sadar Lily membelai pipi Bima dengan lembut. Bima masih tidur tidak terusik dengan perlakuan Lily. Wajah tampan Bima membuat Lily semakin jatuh cinta. Katakanlah Lily bodoh hanya menyukai pria dari ketampanannya. Tapi wajar kan? Buktinya di kantor, para karyawan sering membicarakan ketampanan bosnya yang satu ini. Bahkan terang-terangan mereka mengatakan rela menjadi istri kedua, ketiga, atau bahkan keempat Bima. Katakan Lily beruntung bisa dekat dengan bosnya, bahkan menjadi istrinya. Tapi benarkah ini sebuah keberuntungan? Mungkin Lily hanya bisa mencintai Bima saja dalam diam, dengan kenyataan bahwa Bima tidak akan pernah mencintainya.

__ADS_1


Lily Aruna


Aku menggerjapkan mataku. Cahaya matahari yang masuk melalui kaca jendela membuatku merasa tersengat sinar matahari yang panas. Apakah matahari pagi di Bali memang panas? Oh iya, waktu Bali dan Jakarta kan berbeda, Mungkin saja pagi disini memang seperti ini. Aku kembali menaikan selimut. Kembali memejamkan mataku. Semalam. Bukan. Tapi aku tidur menjelang pagi karena berada dekat dengan Pak Bima membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Pak Bima?


Ku sibak selimutku dan mengedarkan pandanganku ke samping. Tidak ada pak Bima! Kemeja dan celana yang semalam ia lempar ke sofa pun tidak ada!


"Aku terlambat!" pekikku ketika melihat jam ternyata sudah menunjuk angka setengah sembilan. Ah gawat! Bukankah Pak Bima mengajak ku ke proyek pembangunan hotel pada jam setengah delapan! Aku terlambat!

__ADS_1


Aku segera menghambur meninggalkan tempat tidur menuju ke arah kamar mandi. Biar saja selimut berantakan. Mandi dengan cepat untuk yang kedua kalinya dalam hidupku. Biarlah kalaupun belum ada yang sempat aku gosok, aku akan mengulangi mandi setelah selesai dari tempat proyek nanti!


***


__ADS_2