Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 151


__ADS_3

Seperti yang di janjikan Bima, malam ini ia pulang ke rumah Lily. Ada rasa tidak rela jika Lily akan meninggalkannya. Tentu saja ia tidak akan melihat lesung pipi itu lagi saat Lily tersenyum. Lesung pipi yang bisa meredakan rasa rindunya pada seseorang. Sungguh sangat egois!


"Maaf aku terlambat." ucap Bima yang datang di jam delapan malam. Terlalu fokus bekerja membuatnya lupa waktu.


Lily hanya tersenyum dan menawarkan Bima makan. Bima hanya menggeleng lemah. Sudah tidak ada selera makan sedari lama mambuatnya terlihat sedikit kurus.


Tapi bukan Lily namanya kalau tidak bisa memaksa Bima untuk makan. Walaupun dengan enggan Bima menurut saat Lily menariknya dengan paksa ke arah dapur. Entahlah. Bima benar-benar tidak mau berdebat untuk saat ini.


"Makan yang benar dong, mas!" seru Lily saat Bima hanya mengaduk-aduk isi piringnya. Bima menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya dengan ukuran kecil, membuat Lily geram dan tidak sabaran. Lily menarik piring dari depan Bima dan mengambil paksa sendok yang ada di tangannya. Lalu mengarahkan sendok yang penuh nasi dan sayur ke depan mulut Bima.


Melihat senyum tulus dari Lily membuat Bima bahagia dan tanpa sadar ia membuka mulutnya hingga akhirnya makanan di piringnya tandas.


Lily menunggu Bima di ruang tv, Bima masih berada di dalam kamarnya, entah sedang apa tapi sudah hampir satu jam lamanya dia tidak kunjung juga keluar. Padahal Lily sudah sangat siap dengan perasaan hatinya.


Tok. Tok.


Tidak ada sahutan dari dalam.


Tok. Tok.


Kembali Lily mengetuk pintu, masih tidak ada sahutan juga.


Apa mungkin mas Bima sudah tidur? batin Lily agak kesal karena yang di tunggu belum juga keluar. Ia mencoba membuka pintu, ternyata tidak di kunci.


Bima sedang terduduk di pojok kamarnya dengan melingkarkan kedua tangannya di lutut. Pandangannya kosong. Wajahnya sembab. Bibirnya bergetar hebat. Persis seperti saat Lily pertama kali melihat Bima saat menangis setelah memeluknya dulu di kantor. Tapi bedanya kali ini tidak ada Dena. Bagaimana jika Lily tidak bisa menghadapi Bima seperti Dena dulu? Sebenarnya apa yang terjadi pada Bima? Apakah Bima mempunyai trauma? Atau kepergian Dena sangat mengguncang perasaannya?


Lily segera mendekat ke arah Bima yang terlihat sangat kacau, dia berjongkok untuk melihat kondisi Bima dan mengguncang bahu Bima.


"Mas, kamu kenapa?" Masih menguncang bahu Bima, tapi tidak ada respon apapun darinya. "Mas?"


"Dia datang! Dia datang!" ucap Bima masih pada pandangannya lurus ke depan. Lily tidak mengerti dengan maksud Bima, 'Dia, siapa?'.

__ADS_1


Lily mengedarkan pandangan ke arah sekitar, tapi jelas tidak ada siapapun di sana hanya dia dan Bima.


"Siapa mas?" tanya Lily, masih bingung. Kali ini Bima menatap Lily, tapi tatapan matanya penuh ketakutan dan rasa putus asa. Seandainya saja Dena ada, atau paling tidak, dia tahu cerita tentang Bima pastilah Lily tidak akan sebingung ini. Sayang Dena tidak pernah bercerita apapun tentang masa lalu Bima.


"Dia... Dia..." ucapan Bima terputus karena Bima langsung memeluk Lily dengan erat. "Tolong. Dia datang lagi." Bima terisak di belakang pundak Lily. Lily mengelus punggung Bima dengan perlahan mencoba memberikan kekuatan dan ketenangan untuknya. Walaupun ia sendiri juga tidak yakin apakah akan berhasil atau tidak.


'Mbak Dena, bagaimana ini?'batin Lily.


***


Bima Satria.


Matahari sepertinya sudah tinggi, sinarnya hangat membelai kulitku dan lama kelamaan terasa panas, tapi rasanya aku enggan membuka mata. Tidurku sangat nyenyak semalam. Beberapa bulan terakhir mungkin hanya berkisar tiga atau empat jam dalam sehari aku mengistirahatkan mata dan tubuhku.


Ya ampun, tidak bisakah matahari mudur lagi. Biarkan bulan yang menguasai setidaknya ummm... dua jam saja lagi. Aku tidak mau kehilangan kenyamanan ini. Aku tidak mau kehilangan kehangatan ini. Kehangatan yang selama ini aku rindukan sejak aku tahu kalau Dena... Eh?


Aku membuka mataku, mengerjapkannya beberapa kali. Bukankah Dena sudah... Oh tidak! Aku memeluk seseorang! Tapi jelas itu tidak mungkin Dena karena baru sepuluh haru yang lalu Dena di kuburkan! Lalu ini? Mungkinkah?


Ku rasa aku sedang bermimpi, kuharap! Aku memejamkan mata, dan saat aku membukanya maka aku hanya tidur sendirian di kamarku yang nyaman.


Satu. Dua. Tiga! Tidak mungkin! Bagaimana bisa?! Aku tetap di kamarku bersama seseorang yang aku kenal aromanya. Aroma mawar.


Ku coba mengangkat sedikit kepalanya untuk menarik tanganku, dia hanya menggeliat pelan tapi tidak sampai terbangun. Aku terduduk di tepi ranjang. Sebagian selimut masih menutupiku. Pakaian kami berserakan di lantai.


Mungkinkah? Apakah semalam terjadi sesuatu? Masih mencoba untuk menghindar dari kenyataan yang mungkin terjadi dan aku harap itu semua tidak terjadi! Ini akan semakin rumit!


Air dari shower terus mengucur membasahi rambutku. Aku hanya terdiam, belum berniat membubuhkan sampo ke sana. Mengingat kejadian semalam dan berharap itu semua hanya kami tidur dengan sama-sama telanjang!


Ah bodohnya aku. Mana ada yang seperti itu? Apa semalam Lily masuk ke kamarku dan menggodaku? Tidak mungkin! Dia tidak seperti itu! Aku juga masih bisa berfikir waras untuk menolak dia, mengingat tanah pemakaman Dena juga belum sepenuhnya kering.


Semalam saat aku melihat foto Lily, bayangan Una melintas dengan wajah yang ceria lalu berubah muram. Ya bayangan itu lah yang kembali mengangguku. Lalu aku terduduk di lantai dan Lily datang dengan wajah panik. Lalu setelah itu...Sial!! Brengsek!!

__ADS_1


Aku mengumpat, meninju tembok yang ada di depanku dengan beringas. Rio! Aku harus melakukan protes padanya! Dia yang selama ini menyarankan padaku untuk melakukannya jika dia datang. Tapi itu dengan Dena! Bukan Lily!


Pemikiran konyol Rio yang berhasil membuat bayangan Una pergi.


Bima pov end.


Pengumuman sebentar ya.


Sebelumnya maaaafff banget nih, mungkin cerita Bily ini agak bertele-tele. Muter-muter. Gregetan. Kapan sih Bily saling sadar kalau mereka itu saling mencari?


Ya memang begini ceritanya. Ini juga cerita udah thor ringkas dan di ubah lebih pendek dari rencana awal yang panjangnyaaaa kayak jalan kereta api. ASLI DEH!!


Gak etis juga kan, kalo ni cerita ujug-ujug tahu Bima dan Lily adalah Bimbim dan Una, tanpa ada alur yang jelas.


Emang thor sengaja mau bikin orang gregetan kok, hehe 😅😅.


Yang pengen up nya banyak. Thor masih belum sanggup 🙏🏻 karena tiap hari setor up ya, thor juga gak cuma ngetik buat Bily doang. Kadang kalau buntu nih otaknya buat Bily, thor nulis cerita lain yang segera akan thor Up ke NT, masih dalam file pribadi.


"Ini cerita kok gantung sih?"


"Lanjut dong up nya."


"yaa harus nunggu besok!"


"nanggung."


Sabar say, hehe. Thor juga punya real life ini. Harus nge DJ di kamar mandi. Cuci setrika, dll. Gak bisa full 24jam dalam dunia halu.


Oke sekian aja deh. Itu sedikit penjelasan dari thor aja ya. Yang udah ngikutin cerita Bily dari awal, makasih banyak, Sayang deh sama kalian semua 😘😘


Salam sayang dan sehat selalu. Jaga kesehatan. Jaga jarak. Dan jangan lupa pakai masker! 💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2