
Bima tersadar dari pingsannya. Dia meraung-raung dan meracau tidak jelas memanggil nama Dena. Semua orang yang berada disana menatap Bima dengan iba. Hingga akhirnya Bima lelah dan terlelap.
Di sampingnya Lily setia menemani. Mengusap air mata yang kerap keluar, meski mata Bima terpejam.
'Sedalam itukah rasa cinta kamu buat mbak Dena? Tentu akan sulit sekali untuk menggantinya dengan orang lain kan? Apalagi aku yang hanya kamu anggap adik!' setitik air bening turun dari kelopak mata Lily.
Ia sudah harus mulai bersiap bukan? Tidak ada alasan lagi untuk tidak pergi dari kehidupan Bima. Apa Lily jahat? Dia harus bersikap bagaimana sekarang? Bahagia karena kepergian Dena membuat dia akan terbebas dari Bima? Atau bersedih karena melihat Bima terpuruk dengan keadaannya saat ini? Entahlah!
Bima gelisah dalam tidurnya, membuat Lily tersadar dan kembali ke dunia nyata. Keringat deras mengucur dari kening Bima. Bibirnya bergetar. Lily menempelkan punggung tangannya ke kening Bima. Tidak demam. Pasti hanya mimpi buruk, batin Lily.
Biasanya jika sedang mimpi buruk Lily selalu di peluk oleh sang ibu, lalu kemudian ia kembali tenang. Akankah sama jika ia melakukannya pada Bima?
Lily membaringkan tubuhnya tepat di sisi sang suami. Izinkan Lily berbakti untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi nanti.
Bima sudah tidak gelisah lagi. Ia memeluk Lily dengan erat. Lily menahan perasaannya sendiri. Menahan gejolak yang baru saja terjadi di dalam hatinya. Bima memeluknya erat. Wajahnya tepat berada di depan dadanya. Bahkan hidungnya menempel disana.
__ADS_1
Ada perasaan membuncah di dalam sana, tapi ada juga perasaan takut. Ah tidak! Ini gak boleh terjadi! Meskipun aku menolak pergi toh dia akan mengingatkan statusku, seperti yang sering ia singgung waktu itu! Lebih baik aku yang pergi duluan bukan?monolog Lily yang di akhiri dengan anggukan mantap kepalanya.
Ya. Lily akan pergi setelah keadaan Bima tenang.
***
Hari-hati berlalu. Meskipun Bima terpuruk dengan kepergian Dena ia tidak bisa mengabaikan perusahaan bukan? Nasib ribuan orang bergantung di tangannya. Cukup seminggu dia terpuruk di rumah. Dan kini ia harus kembali menyibukan dirinya dengan pekerjaan. Lumayan untuk mengisi kegundahan hati yang merana setelah di tinggal oleh sang istri tercinta.
Bima kerap kali melamun jika berada di rumah, maka dari itu ia lebih baik bekerja supaya tidak memikirkan hal-hal yang membuatnya down pasca meninggalnya Dena. Setiap waktu ia habiskan untuk bekerja hingga setiap hari ia pulang hampir tengah malam dan langsung tidur karena lelah.
Ia lupa jika ada Lily yang menunggunya dan ingin mengutarakan perasaannya.
"Kenapa?" Pandangan Bima tidak pernah terlepas dari kertas yang ada di genggamannya.
"Umm. Kita harus bicara, mas." ucap Lily ragu. Bima tetap tidak menoleh.
__ADS_1
"Soal apa?" tanya Bima ketus.
Lily meremas ujung kemejanya, ragu, takut, tapi tetap harus di bicarakan juga bukan?
"Soal.. umm.. soal perjanjian itu..."
Bima menghela nafas kasar, membuat Lily tidak jadi meneruskan perkataannya. Menatap Lily dengan pandangan tidak suka.
"Oke. Kita bicarakan ini nanti malam!" tegas Bima tanpa ekspresi lalu kembali menekuri berkas di tangannya.
Entah Lily harus bagaimana, senangkah, sakitkah mendengar jawaban dari Bima? Perasaannya campur aduk sekarang. Padahal sudah jauh-jauh hari Lily menyiapkan perasaannya. Semenyakitkan apapun yang akan Bima ucapkan. Tapi barusan hanya kata itu saja pun sudah membuat hati Lily merasa sakit.
Lily kembali ke ruangannya dengan perasaan yang hampa.
Sepeninggal Lily. Bima tertegun di atas kursinya.
__ADS_1
Benar. Dia sudah mengabaikan Lily selama ini. Selama Dena sakit dan setelah meninggal. Terhitung hampir lima bulan.
Bima mengeluarkan memo kecil dari dalam laci mejanya, membukanya lalu berhenti pada sebuah halaman. Tanggal saat mereka menikah, dan akan berakhir pada tanggal yang sama. Artinya tepat bulan depan. Entah kenapa rasanya ia tidak mau. Tapi Lily juga berhak dengan kebebasan yang di janjikannya dulu. Dan Bima harus segera mempersiapkan hadiah untuk Lily. Meskipun itu tidak ada di dalam perjanjian. Toh Bima sudah janji pada diri sendiri akan memberikan imbalan yang sepadan untuk Lily di akhir masa perjanjian mereka.