Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
extra part. Ana yang sexy?


__ADS_3

Azkhan tersenyum saat melihat gadis itu berjalan di depannya. Gadis yang kemarin tak sengaja ia tubruk di taman. Azkhan hendak melangkah mendekat kesana tapi tasnya di tarik oleh Arkhan dari belakang lalu masuk ke dalam kelasnya. Azkhan tahu gadis itu adalah adik kelasnya yang baru kelas sepuluh.


Jam istirahat seperti biasa Arkhan dan Azkhan ke kantin untuk mengisi perutnya. Setelah selesai mereka kembali berjalan namun kali ini ke arah taman karena beberapa teman yang lainnya duduk disana.


"Kak Arkhan!" teriak seseorang, keduanya berhenti dan menoleh. Arkhan yang namanya di panggil merasa bingung. Azkhan tersenyum melihat gadis yang baru saja sampai di depannya ini.


Dia langsung menyerahkan dua bungkus coklat.


"Ini buat kalian!" ucapnya. "Karena aku gak tahu mana kak Arkhan dan mana kak Azkhan jadi aku beli dua untuk kalian!" ucapnya dengan tatapan tertunduk malu.


Arkhan menatap gadis itu dengan heran, seperti pernah melihat tapi dimana? batinnya.


"Dia yang kemarin elo tolak coklatnya!" Azkhan mengingatkan seperti tahu apa yang ada di dalam fikiran kakaknya.


"Ohh...!" katanya. Membuat gadis itu kecewa karena hanya 'oh' saja jawabannya. Gadis dengan nama Iriana itu menghela nafas kecewa. Terdengar jelas oleh Azkhan. Arkhan masih tetap diam mematung. Berfikir sebentar, lalu...


"Oke gue ambil!" ucap Arkhan du ambilnya coklat itu membuat Ana, begitu saja panggilannya, tersenyum senang. "Tapi gue minta maaf kalau mungkin gue bikin patah hati, karena gue suka sama orang lain dan ini hanya gue anggap sebagai hadiah pertemanan, tidak lebih! Oke?!" seketika perasaan Ana yang sudah terlanjur terbang seperti di hempaskan kembali ke daratan. Bahunya merosot tapi segera di tegakkan olehnya dengan senyum yang di paksakan. Itu semua jelas terlihat oleh Azkhan.


Kasihan sekali dia, tapi mau bagaimana lagi...batin Azkhan.


"Oke. Kita... berteman. Trimakasih kak Arkhan!" ucapnya dengan senyuman kaku. Arkhan berlalu meninggalkan adiknya yang masih menikmati coklat yang tadi di bukanya.


Azkhan melihat Ana dengan tatapan iba, tapi dia juga tidak bisa membujuk Arkhan atau membantu Ana.


Azkhan mendekat mencondongkan tubuhnya ke depan membuat Ana mundur satu langkah ke belakang.


"Coklatnya enak." ucap Azkhan dekat dengan telinga Ana sambil mengunyah coklatnya. "Trimakasih." kemudian berlalu dari sana.


Ana memegangi dadanya, tadi merasa bunga-bunga baru saja rontok dari tangkainya, tapi perlakuan Azkhan yang baru saja membuat tunas baru tumbuh begitu cepat disana.


Ish, aku kenapa!!! jerit batin Ana. Jantungnya terasa seperti melompat kesana kemari.


"Oh iya Iriana..." Ana yang merasa namanya di panggil menoleh ke belakang. Terkejut karena Azkhan masih berdiri dua langkah darinya.


Aku kira dia sudah pergi jauh.


"...Pulang sekolah nanti ikut gue. Gue tunggu di gerbang. Bye!" Azkhan melambaikan tangan tapi lagi-lagi tidak di balas oleh Ana yang terus memegangi dadanya.


Yaah di cuekin lagi! batin Azkhan. Lalu menurunkan tangannya dan pergi menyusul kakaknya.


"Nunggu...gue?!" lirih Ana tak percaya. Matanya tidak melepaskan sosok Azkhan meski penglihatannya agak buram. Ana masih terdiam di tempatnya.


Ana pun tersadar lalu beranjak pergi ke kelasnya. Saat perjalanan kembali ke kelas, tiba-tiba ada dua siswi yang menarik tangannya kanan dan kiri. Membawanya jauh melewati kelasnya.


"Eh, kak aku mau di bawa kemana?" Ana merasa panik karena dua siswi dari kelas sebelas yang tiba-tiba menariknya.


"Kita jalan-jalan sebentar." ucap siswi di sebelah kiri. Lalu sampailah mereka di dekat sebuah gudang yang sepi.


"Kita ngapain disini, kak?" tanya Ana takut. Dua siswi itu mengungkungnya kiri dan kanan, tidak memberi celah untuk Ana melepaskan diri. Satu dari mereka mengeluarkan cermin dari sakunya.


"Elo bisa lihat gak?" tanya siswi berambut pendek. Mona.


"Elo nilai diri elo sendiri. Elo itu gak pantes deketin salah satu Twin A..." siswi berambut panjang berbicara dengan membentak dan melotot. dia lah Sisi.

__ADS_1


"Emangnya kenapa? Namanya rasa suka, gak bisa di cegah kak. Kalau aku suka sama salah satu dari mereka ya itu hak aku dong!" ucap Ana dengan berani. Kedua siswi itu tertawa mengejek.


"Wah berani juga lo, bantah kita! Elo gak tahu kita ini siapa?" Mona membentak.


"Tahu! kakak dari kelas sebelas IPA..." Ana menyebutkan kelas keduanya.


"Bukan itu!" bentak Sisi memotong kata-kata Ana.


"Lah kan kakak tadi yang nanya, ya aku jawab!" jawab Ana sekenanya.


"Pokoknya elo gak bisa deket sama twin A karena mereka akan jadi milik kita!"


Ana tertawa, karena Arkhan sudah punya kekasih.


"Kenapa lo Ketawa?" tanya Sisi heran.


"Enggak! cuma kalau kakak ngarep mereka berdua jadian sama kalian kayaknya gak mungkin karena salah satunya udah punya pacar!"


"Gue gak peduli! Gue bisa rebut perhatian mereka biar bisa jadi pacarnya."


"Ya terserah, coba aja kalau kalian bisa!" ucak Ana cuek. Lalu hendak melangkah.


"Elo mau kemana?"


"Ke kelas lah!"


"Kita belum selesai!"


"Tapi aku sudah!" mulai melangkah, tapi Ana kembali di tarik kerah belakangnya hingga punggungnya terbentur tembok.


"Inget ya kalau besok kira lihat elo deketin twin A lagi elo akan tahu balasannya!" keduanya melotot pada Ana.


"Memangnya apa yang akan kalian lakukan? Aku akan tetap deketin salah satu dari mereka. Karena aku suka, dan tidak ada yang bisa melarang!" Ana mulai semakin berani. Baginya kedua gadis ini tidak lah menakutkan lagi


"Eh cupu! Berani kamu!" Mona emosi. mengangkat tangannya tinggi dan melayangkannya tepat ke arah pipi Ana. Tapi dengan sigap Ana menangkap tangan itu lalu memutarnya ke belakang tubuhnya dan menjegal kaki gadis itu hingga sekarang gadis yang akan menamparnya tadi melantai di bawah dengan posisi tengkurap dan tangan yang tertarik ke belakang.


"Sakit. Lepasin gue." Rintihnya.


"Hei lepasin teman gue!" satu Sisi mendekat hendak menampar Ana, tapi Ana juga tidak kalah sigap dia menangkap tangan itu dan memelintir hingga telapak tangan gadis itu menghadap ke atas.


"Ahh sakit..." rintihnya, menahan tangan Ana.


"Gue capek ya pura-pura jadi orang yang lemah tidak berdaya. Sudah cukup kalian aniaya gue!" ucap Ana geram. Sebenarnya Ana juga tidak ingin melakukan kekerasan, tapi ia terpaksa mengeluarkan kemampuannya.


"Ampun!" ucap Mona.


"Kita gak akan ganggu elo lagi. Lepasin kita!" rintih Sisi.


Ana pun sebenarnya kasihan dengan keduanya. Maka dari itu dia melepaskan mereka. Mereka pun pergi meninggalkan Ana.


Ana yang akan melangkah tiba-tiba berhenti. Terkejut dengan apa yang di lihatnya disana. Azkhan berdiri sambil menyandarkan dirinya di dinding dengan gaya cool dan kedua tangan di masukkan ke saku celananya.


"Kamu...sejak kapan ada disini?" tanya Ana, terbata.

__ADS_1


"Sejaaakkk..." Azkhan mengeluarkan tangan kanannya dari saku, dan menjepit dagunya, bola matanya ke atas, tanda ia sedang berfikir. "...tadi."


Ana menghela nafas berat. Ia merasa salah tingkah karena ada orang lain yang melihatnya tadi.


Dia yang mana ya? Arkhan atau Azkhan? Aaahhh apa jangan-jangan dia denger yang semua aku katakan sama mereka, kalau aku akan...


Azkhan mendekat ke arah Ana dan memutari tubuh Ana memindai dari atas ke bawah dan sebaliknya. Ana menggigit bibirnya, menahan gejolak dari dadanya yang seperti akan meledak.


Jangan pingsan. Jangan pingsan! jeritnya dalam hati.


Azkhan berada di belakang Ana. "Gak nyangka gue..." Ana memegangi dadanya takut jika tiba-tiba akan ada yang melompat dari dalam sana. "... ternyata elo seksi juga!" bisik Arkhan tepat di samping telinga Ana. Refleks Ana menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Azkhan tertawa melihat tingkah laku Ana.


"Jangan macam-macam kamu. Aku bisa patahkan tangan kamu sekarang juga!" ancam Ana.


Azkhan semakin tergelak.


"Bukan body! GR banget. Gue suka cara elo lawan mereka. Itu terlihat seksi!" Ana merasa malu karena salah tangkap. Wajahnya merah, malu. Baru kali ini ada pria yang mengatakan perbuatan kasarnya tadi seksi.


"Balik kelas gak? Hampir bel!" Azkhan menarik salah satu tangan Ana dan membawanya berjalan. Satu tangan Ana yang lain masih memegangi dadanya yang semakin tidak karuan. Dia terus menunduk apalagi beberapa siswa dan siswi menatapnya dengan tatapan iri dan benci. Ana hanya menunduk menatap tangannya yang masih di gandeng Azkhan. Ya dia yakin orang ini adalah Azkhan sikapnya tadi seperti saat di taman kemarin dan tadi di taman sekolah.


"Ana, elo di panggil kepsek!" suara seorang gadis membuyarkan lamunan Ana.


Ana pun mengangkat kepalanya. Dia merasa bingung.


"Ada apa?" tanya Ana.


"Kak Azkhan? Kok kalian?" tunjuk gadis itu pada tangan keduanya yang bertautan.


Ana yang tersadar langsung menarik tangannya, gugup.


"Ada apa kepsek panggil aku?" tanya Ana.


"Gak tahu. Tapi ada Sisi dan Mona di dalam sana, kalau gak salah lihat." katanya lagi.


"Iya aku kesana. Makasih." Ana merasa lunglai. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Pastilah kedua orang itu melapor hingga ia panggil sekarang.


Ana berjalan melewati Azkhan, dengan tidak bersemangat.


Azkhan berjalan mendekati Ana dan merangkul bahu Ana, membuat gadis itu kembali terkejut.


"Eh masih disini?"


"Iya, ayo kita ke ruang kepsek. Biar aku jadi saksi." Azkhan mendorong bahu Ana.


Terlihat Sisi dan Mona sedang berada di ruang kepsek dengan senyuman tapi langsung menghilang saat melihat siapa yang datang bersama si cupu.


Berkat penjelasan Azkhan, dan CCTV yang ada tak jauh dari sana, akhirnya Ana terbebas dari skors.


Mereka pun kembali ke kelas masing-masing. Azkhan duduk di kursinya, dia bersandar pada tembok.


Sebenarnya tadi Azkhan tidak sengaja melihat Ana yang di apit tidak berdaya. Dia mengikuti ketiganya. Rencana Azkhan yang akan menjadi pahlawan sirna seketika saat melihat Ana yang sudah melumpuhkan salah satu dari mereka. Azkhan ternganga tidak percaya, gadis yang terlihat kalem dan cupu itu ternyata bisa melawan.

__ADS_1


Seksi! ucap Azkhan dalam hati, dia tersenyum sendiri.


__ADS_2