
"Jadi Una itu Lily?" kini suara papa di belakangku. Aku melepas pekukanku dari mama, dan berbalik menemukan papa yang sudah berdiri menjulang di belakang kami.
"Iya pa. Ternyata Una itu Lily. Bima ke rumah pakdhe Yudha."
Kami di ruang keluarga. Aku menceritakan semua kejadian di jogja.
Mama menangis dan merutuki diri sendiri karena tidak mengenali Una, sedangkan papa juga sama merutuki dirinya sendiri karena menganggap nama Atmaja bukan satu-satunya. Deri Atmaja adalah nama ayah Lily sedangkan ibunya Nita Saraswati Atmaja.
"Harusnya mama lebih banyak mengenal Lily!" ucapnya sambil terisak, mama memukul pahanya sendiri dengan tangan yang terkepal, sedangkan satu tangannya memegang dadanya. Tak lama mama tidak sadarkan diri. Kami membawa mama ke kamar, dan segera memanggil dokter.
Mama sadar lalu menangis tergugu di atas tempat tidur, terus menyalahkan dirinua sendiri. sedangkan papa entah kemana setelah mendengar ceritaku tadi papa menghilang. Dan aku tetap di sisi mama untuk menenangkan.
***
Kepergian Lily meninggalkan luka yang sangat dalam untuk kami, aku, mama, dan papa, juga untuk para sahabat dan teman Lily.
Salahku. Semua ini salahku. Selama ini aku mulai mencintai Lily, itu yang Rio coba katakan dari dulu, tapi aku selalu menyangkalnya. Lalu Dena? Una? Apa aku terlalu rakus jika mengatakan semuanya aku sayang, aku tidak bisa memilih.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Dan pada akhirnya aku kehilangan semuanya. Semua itu sangat menusuk batinku. Aku kehilangan Dena, lalu kemudian Lily yang pada akhirnya aku tahu kalau dia itu Una.
Menangispun tidak ada gunanya. Penyesalan yang tiada berujung sebelum aku bisa menemukan keberadaannya. Sangat menyiksa.
__ADS_1
Malam ini aku tidur kamar Lily, Una. Aku harus mulai memanggilnya apa sekarang? Meringkuk sendirian dengan tatapan kosong pada puluhan origami yang sengaja aku cecerkan di atas kasur.
Bayangan demi bayangan berlalu di kepalaku tanpa bisa di skip. Percayalah aku jadi pribadi yang cengeng sejak kepergian mereka.
Bayangan Una kecil berubah menjadi sosok Lily yang ceria, kini tidak membuatku histeris lagi. Tapi tetap saja membuatku semakin merasa bersalah karena untuk yang kedua kalinya kami terpisah. Bagaimanapun caranya aku harus menemukan Lily. Una.
*
"Bima!" suara seseorang lantang menyerukan namaku. Aku menoleh ke arah Roman yang sedikit berlari mendekati meja kerjaku dengan setumpuk file yang belum aku selesaikan.
Roman dengan raut muka berseri berhenti di depanku dan menunjukan sesuatu di ponselnya. Lily dengan senyuman manisnya.
"Hanya sebentar Bim. Tapi gue yakin pasti Lily akan buka medsos nya lagi."
Hatiku senang dan bahagia, setelah selama ini hanya menatap foto yang sama di rumah. Satu-satunya foto kebersamaan kami hanyalah foto saat kami menikah, yang ku hancurkan bingkainya saat itu.
Enam bulan pencarian dan belum membuahkan hasil! Dasar payah!!
Bima pov end.
***
__ADS_1
Siang yang panas. Matahari tepat di atas kepala, membuat sebagian orang enggan untuk pergi keluar. Mereka lebih memilih diam di dalam rumah atau bagi para pekerja lebih baik jika menghindari cuaca panas dengan makan di kantin perusahaan.
Tapi berbeda dengan dua orang yang kini baru saja sampai di sebuah tempat dengan tenda berwarna kuning. Bakso pak Mad.
Seorang wanita bersungut-sungut dengan mulut yang masih mengerucut kesal. Pasalnya ia sedang malas untuk panas-panasan, sedangkan si wanita satu lagi hanya nyengir dengan rasa tak bersalah melihat temannya yang sedari tadi mengusap keringat yang mengucur dari keningnya.
Makanan mereka sudah datang, dua mangkuk bakso, satu teh manis hangat, dan satu lagi es jeruk. Pak Mad yang khusus membawakan untuk keduanya, khusus untuk pelanggan setia.
"Udah deh mbak. Jelek tau!"
"Lagian kamu ya, orang hamil itu gak boleh banyak-banyak makan bakso! Udah tiap hari. Mana tu sambel banyak banget lagi. Gak kasihan tuh sama baby dalam perut?" dengusnya kesal, lagi-lagi harus mengalah jika sudah menyangkut 'bawaan baby', 'keinginan baby', apalagi jika sudah melihat wajah wanita di sampingnya yang memelas memasang puppy eyes. Ughh, dasar!!
Lagi. Wanita yang tengah hamil tujuh bulan itu hanya nyengir lalu kembali menikmati makanannya. Menyeruput kuah bakso dengan tak mengindahkan tatapan orang lain yang mendengar suara dari mulutnya.
"Ahh, segar. Enak mbak! Mau coba punya Lily gak?"
"Ogah! Nano-nano gitu!"
"Ih, mbak Nila mah. Emang permen!" sungut Lily tak suka, tapi tetap saja menyodorkan satu sendok pada sosok yang ia anggap kakaknya itu. "Ayo mbak, aaa." seperti seorang ibu yang menyuapi anaknya. "Mbak! Ini karena Lily sama baby sayang mbak loh." maksa!
'Ya ampun dasar ibu hamil, gak bisa apa gak bawa-bawa nama baby sekali aja!' Nila membuka mulutnya menerima suapan yang di berikan Lily, membuat ibu hamil itu tersenyum puas. Sedangkan dirinya harus segera menelan semuanya dan meraih minuman karena rasa pedas yang luar biasa. Pedas, asam, manis, aneh menurutnya. Yaa tapi namanya ibu hamil lah, suka aneh-aneh!
__ADS_1