
Hari ini tepat ke dua minggu Dena di rawat. Belum ada perkembangan apapun, tapi selera makannya sudah lebih baik, hanya saja Dena sering protes karena makanan di rumah sakit yang menurutnya hambar, dia sering merengek meminta makanan yang lain dan kecewa karena Wina tidak pernah mengizinkannya makan sembarangan.
Hari ini terpaksa aku meninggalkan Dena walaupun rasanya berat. Dena terus memaksaku untuk pergi ke Jogja dan menanyakan kabar Una, siapa tahu ada secercah harapan yang bisa membuat ku tahu kabar terbaru tentang dia.
Kalau saja pekerjaan di kantor tidak terlalu sibuk pasti lah aku akan mengajak Lily untuk ke Jogja, kampung halamannya.
Semenjak pulang dari rumah mama terakhir kalinya dan dia menangis, aku mengijinkannya pulang tapi dia menolak, dia bilang pekerjaan di kantor sedang sibuk. Dan memang benar sih, sedang sangat sibuk-sibuknya mengingat aku sering ada meeting dan pekerjaan lainnya.
Dan sekarang Lily memilih tetap tinggal untuk bekerja dan menjaga Dena saat aku tidak ada. Aku terharu dengan ketulusannya.
Setelah kejadian perampokan itu aku memberikan Lily sebuah hp keluaran terbaru, Lily sampai terharu mendapatkan hadiah itu. Lebay. Padahal dia harusnya sudah terbiasa dengan fasilitas yang aku berikan padanya kan? Nomor lama ku hapus dari daftar kontak ku, dan berganti dengan nomor cantik yang gampang aku hafal dan aku ingat.
Sudahlah ceritanya selesai.
Hari ini aku menapakan kakiku di kota Jogja. Kota yang kental akan budaya. Dan juga kota tempat kenangan manisku bersama gadis kecil bernama Una, gadis kecil yang selama ini selalu ada di dalam bayanganku, dan tidak pernah mau pergi. Malah semakin lama semakin nyata terlihat dalam benak ku.
Aku menyewa sebuah mobil untuk memudahkan perjalananku. Mungkin dua hari saja aku disini, mengingat aku juga tidak bisa meninggalkan Dena lebih lama.
Ku parkirkan mobilku didepan sebuah rumah. Rumah Una yang sama sekali belum berubah bentuknya. Bayangan-bayangan masa lalu kembali muncul bagaimana seringnya kami tertawa dengan riang. Lalu banyak lagi bayangan lainnya melintas seiring lamanya aku memperhatikan keadaan rumah itu.
Aku benar-benar tidak tahan! Rasanya mataku ini di penuhi kabut. Dan sebelum titik bening turun dari kelopak mataku, aku mengambil tisu dan mengelap sudut mataku. Dasar cengeng!
"Mas cari siapa?" seorang gadis muda sedang memegang sapu lidi di tangannya mendekat ke arahku. Mungkin karena aku sudah hampir setengah jam memperhatikan rumah yang kini di huni gadis itu dan keluarganya.
"Enggak mbak. Cuma sekedar lewat." Ucapku bohong, lalu segera pamit dan melajukan mobilku ke arah rumah lain.
Hanya sekilas aku melihat rumah ku yang dulu. Kini telah menjadi milik orang lain, dan bangunannya juga sudah seratus persen berubah, tidak ada lagi taman dan pohon jambu, yang menjulang tinggi hingga ke jendela kamarku. Aku sering kabur lewat dahan pohon jika mama sedang marah!
__ADS_1
Kembali ku lajukan mobilku. Aku tidak mau terlalu lama disini. Ingin segera bertemu dengan keluarga yang dulu mengasuh Una setelah orangtuanya meninggal.
Tapi disana aku kecewa. Rasanya hati ini sakit sekali saat mendengar bahwa Una sudah menikah, enam bulan yang lalu. Harusnya aku bahagia kan jika dia sudah bahagia? Kenapa aku ini?
Aku juga mendapatkan sebuah nomor yang mungkin bisa membuat aku melupakan semua hal tentang Una. Setidaknya setelah kami bertemu dan bicara, mungkin.
Ku pandang nomor yang baru saja ku dapatkan, deretan angka itu seperti aku pernah melihatnya tapi entahlah! Aku juga tidak pernah mengingat-ingat nomor orang lain, bahkan nomor ku sendiri aku juga tidak hapal.
Dadaku berdebar saat menekan tombol panggilan di nomor itu, tapi sayang sudah tidak aktif. Dan saat aku tanya apakah Una punya medsos, pria paruh baya itu menjawab tidak tahu dan mungkin anak pertamanya tahu, tapi dia sedang tidak ada di rumah karena sedang mengikuti study tour ke luar kota bersama dengan guru sekolahnya. Dan sama saja, nomor anak gadisnya juga tidak bisa di hubungi!
Kecewa. Pasti! Aku menaruh harapan besar saat pertama kalinya menginjakkan kakiku kesini. Aku ingin terbebas dari bayang-bayang Una dan fokus dengan Dena. Dena pastilah sangat tersiksa karena aku masih saja dengan bayangan masa laluku.
Aku pamit dan meninggalkan nomorku jika sewaktu-waktu Una menelfon atau berkunjung mungkin. Tapi satu yang aku tahu. Una ada di Jakarta! Tapi dimana? Jakarta sangat luas dengan berjuta-juta orang dalam satu wilayah.
Oke! Setidaknya Una sudah memiliki suami dan harusnya itu membuat aku tenang bukan? Bukan hanya aku yang melanggar janjiku ternyata.
Aku duduk di taman rumah sakit. Semenjak siang tadi aku sampai di Jakarta aku belum ke ruangan Dena. Sedikit bingung dengan perasaanku sebenarnya. Sepanjang perjalanan Jogja- Jakarta aku menguatkan hatiku untuk melupakan Una tapi tetap tidak bisa!
"Bang disini juga? Hei bang?!" seorang gadis muda menggoyangkan lenganku dengan senyum yang lebar di bibirnya yang tebal. Seorang anak yang mungkin berumur tiga tahun duduk di kursi roda yang di dorongnya. Aku tertegun melihat orang asing ini, Siapa? Aku tidak kenal.
"Abang lupa sama aku?" keningku mengernyit hingga sepertinya kedua alisku hampir bertautan.
"Ini gue, bang. Yang bawa abang dari klub ke losmen malam itu!" dia mengingatkan sedikit berbisik di dekatku. Aku ingat sekarang! Tapi dia berbeda, tidak ada baju seksi melekat di tubuhnya, tidak ada make up tebal di wajahnya. Dia terlihat lebih muda, ya sepadan lah mungkin dengan umurnya yang belum genap dua puluh lima tahun. Dengan baju kaos putih pas dengan badannya, dan celana jeans biru dengan sedikit robekan di kedua pahanya. Tas selempang kecil di pinggang dengan sepatu flat shoes. Dan rambut di kuncir kuda yang membuatnya terlihat girly. Manis.
Seorang gadis kecil dengan rambut di kuncir dua dan poni yang menutupi alisnya, sedang duduk di kursi roda memainkan boneka yang ada di pangkuannya.
"Ini anak gue bang." terangnya saat melihat pandangan ku yang terarah pada gadis kecil itu. Dia duduk di sebelahku tanpa permisi, lalu mengarahkan sang putri yang kini berhadapan dengannya.
__ADS_1
"Sakit?" gadis di sebelahku mengangguk.
"Kelainan jantung. Harus di operasi."ucapnya. Matanya sayu memandang malaikat kecilnya ini. "Abang ngapain disini? Ada yang sakit juga?"
"Istri saya." dia membentuk bibirnya menjadi huruf 'o'. Kami saling bercerita, tepatnya dia karena aku lebih banyak diam dan mendengarkan, sesekali bertanya.
"Ya karena di sanalah bang yang bisa hasilin duit yang banyak, haram atau gaknya gue gak peduli yang penting anak gue sehat, bisa sembuh seperti anak-anak lainnya." senyumnya sangat tulus menatap sang buah hati.
"Bukannya gue gak mau keluar dari dunia itu. Tapi dunia memang kejam sama orang gak punya kayak gue."
"Ah ya. Gue pamit deh bang, udah kelamaan di luar. Hana juga kayaknya udah mulai ngantuk." pamitnya saat melihat sang putri yang terus menguap sedari tadi.
"Inget bang, gak perlu di cari cinta mah. Dia tahu kok kemana akan pulang." ucapnya. Tangan Hana kecil melambai ke arahku, yang ku sambut pula dengan kecupan ringan di telapak tangannya. Kemudian dia beranjak pergi meninggalkanku sendiri di taman seperti sebelumnya.
Teringat senyum Hana yang begitu menggemaskan. Aku setengah berlari menyusul mereka.
"Hei." panggilku karena aku tidak tahu namanya siapa. "Ini. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa hubungi aku. Kalau kamu butuh tambahan biaya atau apapun." Dia hanya menatap kartu nama yang aku sodorkan, lalu menggeleng.
"Maaf, bang. Aku gak minta di kasihani buat hidup aku." ucapnya sopan tidak lagi pake 'gue' seperti sebelumnya.
"Ini sebagai ucapan trimakasih karena kamu dah buat perasaanku lega. Maaf kalau kamu tersinggung. Kalau suatu saat kamu butuh pekerjaan datang saja ke alamat ini." Dia mengambil kartu namaku lalu tersenyum dan mengangguk.
Bukan hanya aku yang menderita disini. Bahkan wanita itu dan Hana anaknya. Mereka lebih menderita dengan kondisi ekonomi yang membuatnya bekerja di dunia malam yang kejam, hanya untuk mendapatkan biaya untuk pengobatan Hana.
Aku memutuskan untuk kekamar Dena, matanya berbinar saat melihat aku yang baru saja membuka pintu. Aku duduk di sampingnya, di atas tempat tidur. Sorot matanya seakan bertanya bagaimana pencarianku. Aku hanya menggeleng, lalu ku lihat sinar matanya meredup, bahunya merosot ke bawah. Kecewa.
Bima Pov end.
__ADS_1
***