
"Ayo, aku antar kamu ke kamar." tawar Bima sambil mengulurkan tangan. Lily menggeleng, membuat kening Bina mengkerut.
"Aku lapar mas!"
Bima menghela nafas, ia lalu berjalan menuju meja dapur.
"Mau makan apa?" tanya Bima dingin.
"Terserah yang penting aku kenyang." ucap Lily, dia tersenyum saat melihat Bima menyalakan kompor dan mulai memasukan mie dan telur.
Masakan sudah siap, Bima menyimpan satu mangkok mie kuah plus telur di depan Lily, dan satu mangkuk yang sama di depannya. Bedanya mie kuah punya Lily di tambahkan dengan saus cabe.
"Aku gak pintar masak, jadi yang gampang saja." ucap Bima lalu dengan segera memakan mie instan miliknya. Begitu juga dengan Lily yang meniup mie nya yang panas dan setelah di rasa cukup dingin menyeruputnya hingga terdengar jelas di telinga Bima. Bima hanya menggelengkan kepala. Bagaimana bisa Dena menyebut gadis ini sopan jika etika di meja makan saja dia tidak tahu? Benar-benar payah!
"Apa Adit gak ajak kamu makan sebelum pulang tadi? Bener-bener keterlaluan dia jadi cowok!" ujar Bima.
__ADS_1
"Ngajakin sih mas, tapi aku tolak. Soalnya udah sore juga aku takut mas belum makan."
"Tahu belum makan kenapa gak masakin tadi!" ketus Bima.
"Mangkanya jagan bikin orang marah! Harusnya kan aku yang marah! Aku yang udah nunggu mas disana satu jam lebih, capek, pegel, bosen, nonton sendirian pula! Yang lain romantis sama pacarnya sedangkan aku cuma ngenes lihatin orang! Dan pas pulang bukannya minta maaf gak datang malah marah-marah! Masih untung juga disana ketemu sama Mas Adit." protes Lily panjang kali lebar.
Bima hanya terdiam tidak peduli dan asik melanjutkan acara makannya, membuat Lily rasanya ingin melempari Bima dengan sendoknya karena masih kesal.
Mereka selesai makan, Bima membantu Lily ke kamarnya dengan memapahnya. Lily berjalan tertatih dengan satu tangan yang ia tumpukan di pundak Bima. Kakinya masih terasa sakit saat ia menapakannya ke lantai.
Bima merasa tidak sabar karena tidak bisa berjalan cepat. Ia menggendong Lilly ala bridal style, membuat Lily terpekik kaget.
"Mas aku bisa jalan sendiri!" protes Lily.
"Iya tapi lama. Aku udah ngantuk!" Ucap Bima dengan raut wajah kesal. Dia pun dengan cepat melangkahkan kakinya ke arah kamar Lily dan membaringkan Lily di atas ranjang yang masih berantakan.
__ADS_1
"Ya ampun, kamar gadis tapi kayak kandang ayam!" ejek Bima sambil memutar pandangannya ke penjuru kamar. Lily hanya merengut malu. Karena siapa juga kamar Lily berantakan? Ya karena Bima lah!
Pandangan Bima terhenti saat ia melihat beberapa origami berbentuk burung atas nakas. Bima mengambil satu origami berwarna biru langit. Warna kesukaannya.
"Kamu yang bikin?" Lily mengangguk. "Tapi ini masih kurang rapi!"
"Aku udah lama gak bikin. Jadi agak lupa." ucap Lily dari atas kasurnya, Lily duduk dengan bersender di kepala ranjang.
"Jelek sekali." ucap Bima bibirnya tersenyum tipis seketika dia ingat dulu juga dia sering membuat origami bersama dengan temannya.
Bima kembali menyimpan origami tersebut ke atas nakas lalu keluar dari kamar Lily tanpa mengucapkan permisi.
Lily tertegun melihat punggung Bima yang menghilang dibalik pintu, lalu beralih menatap origami biru yang tadi di pegang Bima.
"Mas Bimbim. Kenapa aku jadi semakin suka sama mas Bima? Apa karena nama kalian hampir sama ya? Maaf ya mas, aku ingkar janji. Mas pasti bakal kecewa karena aku suka sama orang lain. Apa kalau kita ketemu, Mas Bimbim masih kenal sama aku? Mas Bimbim sekarang tambah gendut atau kurus ya?" Lily bertanya pada diri sendiri lalu tersenyum dan kemudian berbaring dengan nyaman di atas kasur. Sambil memegang origami ia menutup mata dan menjemput mimpinya.
__ADS_1