
Yumna sudah kembali ke Indonesia dan mulai bekerja di perusahaan Bima. Di mulai dari karyawan biasa. Yumna tidak ingin hanya karena dirinya putri dari pemilik perusahaan dia bisa seenaknya mengambil alih pekerjaan papanya. Yumna ingin belajar dari nol untuk mengasah kemampuannya. Dan Yumna juga meminta Bima untuk tidak mengatakan pada karyawan yang lain kalau dirinya adalah Yumna Azzura Mahendra. Meski Bima merasa bingung dengan sikap putrinya tapi Bima tetap menghargai keinginan putri pertamanya.
Semua orang bahagia. Yumna juga sudah menemukan pilihan hatinya.
Lily menatap Yumna yang berdiri dengan balutan gaun pengantin. Yumna sangat mirip seperti dirinya saat masih muda dulu. Tidak di sangka, sepertinya baru kemarin Lily menggendong Yumna yang masih bayi, tapi sekarang Yumna sudah tumbuh dewasa dan akan menjadi istri orang lain.
Mata Lily berkaca-kaca. Yumna tidak pernah suka jika melihat Lily seperti ini.
"Ma, please jangan nangis!" pinta Yumna memaksakan tersenyum, padahal dalam hatinya dia juga sedih karena akan meninggalkan mamanya lagi karena dia telah di sunting oleh pujaan hatinya.
"Mama gak nyangka, kamu tumbuh secepat ini." Lily mengecup kening Yumna dengan sayang.
Akhirnya dengan segala bujukan Yumna, Lily pun berhenti menangis. Yumna janji setelah menikah pun Yumna akan sering berkunjung ke rumah sang mama.
Acara akad dan resepsi di gelar dengan meriah, di salah satu ballroom hotel milik Bima. Ruangan itu diubah dengan sangat indah. Hingga siapapun berdecak kagum saat menginjakkan kakinya disana.
Para tamu undangan membludak karena Bima adalah salah satu orang yang cukup berpengaruh di dalam dunia bisnis. Begitu juga tamu-tamu yang di undang oleh Ratih dan Adi. Mereka turut bahagia karena cucu pertama mereka menjadi pengantin yang sangat cantik. Begitu juga dengan pasangan Yumna yang sekarang berdiri dengan gagahnya di balut tuksedo berwarna putih. Mereka tak hentinya menyunggingkan senyum bahagia.
Hanya satu orang yang terlihat tak bahagia disana. Aldy menatap nanar pada sosok Yumna. Dia menyesal karena selama ini dia tidak peka dengan perasaannya. Aldy hanya menganggap Yumna sebagai adiknya, anak dari sahabat kedua orangtua. Dan baru ia sadari kalau hatinya merasa sakit saat Yumna bertunangan dengan pria yang kini berdiri dengan senyum bahagia di pelaminan. Apa artinya itu kalau bukan cinta namanya?
Apalagi saat seorang sahabat Yumna saat SMP, Tia, mengatakan kalau Yumna menyukai Aldy sedari dulu. Aldy merasa bodoh. Jika saja dulu Aldy bisa mengartikan senyum dan perhatian Yumna dengan pandangan lain mungkin dirinya yang akan ada di atas sana. Jika saja dia tidak bersikap dingin pada Yumna pastilah dia yang tersenyum Bahagia bersama Yumna.
Aldy pergi dari ruangan itu dengan rasa luka di hatinya.
Bima menatap kepergian Aldy dengan iba. Di sampingnya ada Yoga, Roman dan tentu saja Adit. Mereka tahu pasti dengan perasaan anak-anak mereka, tapi tidak ingin ikut campur dengan masalah percintaan keduanya.
__ADS_1
"Kalau aja anak gue gak punya sifat sedingin es batu, pastilah Yumna udah jadi menantu gue!" sesal Yoga. "Gue gak tahu, dia punya sifat dingin seperti itu dari siapa."
"Tapi seenggaknya gue gak khawatir karena dia bukan player kayak elo!" ucap Roman yang tahu pasti bagaimana kehidupan sahabatnya dulu sebelum bertemu dengan Wanda.
Pembicaraan mereka terhenti karena ada beberapa relasi yang datang dan memberi selamat pada Bima.
Sementara itu di tempat lain Lily, Wanda, Nila, dan Celia sedang bersama-sama. Mereka sedang bertukar cerita mengenai apapun. Pembicaraan khas emak-emak.
Arkhan dan Azkhan tersenyum melihat kedatangan pacar mereka. Ana dengan balutan dress ungu lembut, sedangkan Ameera dengan dress tosca. Mereka datang secara bersamaan.
Ameera dan Ana terdiam menatap kedua pria berwajah sama, dengan baju sama, dan rambut yang sama. Sempat bingung, hingga akhirnya Ameera tahu mana kekasihnya, sedangkan Ana dia masih saja bingung, masih belum bisa membedakan satu dan lainnya.
Ameera menahan tawanya melihat ekspresi lucu Ana. Dia masih diam, ingin tahu sejauh mana Ana mengenal Azkhan.
"Udah ah, nyerah deh!" sungut Ana kesal, karena sedari tadi si kembar hanya diam. Azkhan yang tidak tahan dengan wajah lucu Ana akhirnya meledakkan tawa dan menggamit lengan Ana.
Syifa yang melihat kedua adiknya menggandeng pasangannya hanya bisa menatap iba pada diri sendiri. Wajahnya ia tekuk dengan bibir mengerucut. Merasa sebal dengan kenyataan bahwa ia masih jomblo ia pun pergi keluar dimana ada sebuah taman kecil. Syifa duduk disana dan memakan camilan buah yang sudah ia bawa tadi.
"Kenapa dengan, nona?" tanya seorang pria membuat Syifa tersedak karena kaget. Pria itu menepuk punggung Syifa lembut, tidak menyangka Syifa akan tersedak karena dirinya. Syifa pun menatap pria di sampingnya. Memindainya dari atas sampai bawah. Lalu sebuah ide gila muncul di otak cantiknya.
"Maukah Om jadi pacarku untuk hari ini?!" pertanyaan Syifa sontak membuat pria itu tersedak oleh salivanya sendiri. Tidak mengerti dengan jalan pemikiran gadis belia di depannya ini.
Sebelum pria itu sadar dari keterkejutannya, dia sudah ditarik paksa oleh Syifa masuk kembali ke dalam balroom hotel tempat acara resepsi sang kakak di laksanakan.
"Tapi nona..."
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapi. Yang lain sudah ada pasangan malam ini dan aku gak ada, karena kita sama-sama sendiri jadi untuk malam ini om jadi pasangan aku. Dan tidak boleh menolak!" Syifa tetap menarik tangan pria itu.
"Huhhh dasar pemaksa! Dan tidak pernah berubah!" batin pria itu dengan senyuman.
Lily dan Bima menatap pada ke empat putra-putrinya bergantian dengan tatapan sendu. Yumna yang sedang tersenyum bahagia bersama pria yang kini menjadi suaminya. Si kembar bersama kekasihnya, dan Syifa...
Oh ya ampun, anak itu! Harusnya dia tidak perlu bersikap seperti itu kan? batin Lily menatap Syifa yang sedang memaksa seorang pria membuka mulutnya untuk di suapi. Bima yang tahu kemana arah pandang Lily hanya terkekeh melihat kelakuan putri keduanya.
Bima menggenggam tangan Lily, di kecupnya tangan itu dengan lembut. "Anak-anak kita sudah besar semua." ucap Bima sendu.
"Iya mas, gak terasa. Sepertinya kemarin, mereka baru di lahirkan dan sebentar lagi satu persatu dari mereka akan pergi dari kita." Mata Lily berkaca-kaca.
Bima menghela nafas berat. Dia mengalihkan tangannya ke pinggang sang istri. Dan membisikkan sesuatu di telinga Lily yang membuat Lily tersipu malu. Bima segera pergi menjauh sebelum istrinya berhasil mencubit perutnya.
"Dasar mesum!" gumam Lily sambil mengingat apa yang di bisikkan suaminya tadi.
'Setelah acara selesai, aku tunggu di kamar pengantin kita!'
.
.
.
.
__ADS_1
Benar-benar End.