
"Mas." lirih Lily saat tatapan Bima masih menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan Lily.
Bima memalingkan pandangannya ke arah lain. Satu tangannya menahan berat tubuhnya ke dinding.
"Kembali ke meja kamu."
"Mas. Ada apa?" Lily hendak melangkah mendekat.
"Keluar!" teriak Bima setengah membentak, Lily terkejut karena ia tidak tahu kenapa Bima sampai membentak nya, bahkan kali ini baru saja dia melihat seorang Bima Satria meneteskan air mata.
Lily segera keluar dari ruangan Bima dengan penuh tanda tanya di kepalanya.
Bima terduduk di lantai, dia memeluk lututnya lalu menelungkupkan kepalanya disana.
"Kenapa? kenapa bayangan itu terus mengganggu!" racau Bima. "Apa aku mulai gila?"
Lily duduk dengan gelisah di mejanya. Tidak biasanya melihat sikap Bima yang seperti itu. Jika Bima hanya marah-marah tidak jelas, itu sudah biasa tapi ini, Bima menangis?
Lily merasa tidak tahan, tangannya sudah mengambil hp dan melakukan panggilan. Dena. Pasti Dena tahu apa yang terjadi.
Setengah jam kemudian Dena datang dengan wajah panik, dia langsung masuk di temani Lily di belakangnya. Bima masih di tempat yang sama. Menelungkupkan kepalanya di atas kedua lututnya.
__ADS_1
"Kosongkan jadwal hari ini!" Lily melongo tidak mengerti.
"Lily!" seru Dena.
"Ah. Ya. Segera mbak." Lily pergi ke mejanya untuk melaksanakan apa yang Dena perintahkan.
Lily kembali ke ruangan Bima dengan membawa minuman hangat, tapi kedua orang itu tidak ada disana. Pintu kamar terbuka sedikit. Lily memberanikan diri mendekat. Dari celah pintu yang terbuka sedikit Lily bisa melihat kedua orang itu berpelukan dengan erat. Entah kenapa rasanya sakit sekali. Baru saja Lily di lambungkan, dan sekarang Lily kembali di hempaskan. Lily mengusap air matanya. 'Salahku karena sudah masuk ke dalam kehidupan mereka!' batin Lily. Lily segera pergi ke arah toilet untuk menenangkan diri.
"Ly!" panggil Dena. Lily baru saja selesai menghubungi pemilik hotel yang akan mengadakan pertemuan dengan Bima siang ini.
"Iya mbak?"
"Maaf karena kamu jadi terkejut tadi." Lily mencoba tersenyum dan menggeleng.
Bima di papah oleh Rian setelah Dena menelfonnya. Lily hanya menatap nanar kepergian ketiga orang di depannya dengan pandangan tidak mengerti.
***
"Kenapa sih Ly ngelamun aja?" Seru Yeni mencolek pipi Lily hingga Lily terkejut.
"Patah hati ya?" tebak Yeni yang menatap sayu temannya ini.
__ADS_1
"Eh, enggak. Cuma lagi mikirin sesuatu aja." ucap Lily sambil mengaduk jus alpukat di dalam gelasnya. Makan siang pun rasanya terasa hambar meskipun hidangan di depannya sangat menggoda.
"Mikirin mas Adit ya kenapa gak nembak juga." goda Yeni dengan cengiran khasnya.
"Ish, apa sih!"
"Trus apa dong! Bagi-bagi kalau punya masalah!" Yeni menyenggol lengan Lily yang duduk di sebelahnya.
Lily hanya mengangkat bahunya, Yeni faham kalau Lily sedang tidak ingin bercerita.
"Eh, nanti anter beli perlengkapan baby yuk!" ajak Yeni. Lily tersenyum lalu mengangguk. Mungkin berjalan-jalan sebentar bisa membuatnya sedikit melupakan kejadian tadi.
Sepulang bekerja Lily dan Yeni menyetop taksi lalu pergi ke mall terdekat.
"Kamu kenapa gak pake motor?" tanya Yeni setelah menyamankan dirinya di kursi penumpang.
"Lagi males. Sekarang hujan terus!" ucap Lily, Yeni manggut-manggut membenarkan.
"Eh denger kabar soal bos belum?" ucap Yeni tiba-tiba.
"Katanya istri kedua bos itu salah satu karyawan di kantor kita." Mata Lily membulat mendengar penuturan Yeni. Apakah mereka sudah tahu siapa orangnya? Bisa-bisa heboh kalau sampai mereka tahu, dan Lily juga tida mau harus menerima cemoohan dari karyawan lainnya.
__ADS_1
"Udah deh, lagi hamil juga ngomongin orang. Gak baik tahu!" Yeni tersadar dan segera mengelus perutnya yang membuncit dan menyebutkan 'amit-amit' beberapa kali. Lily menghembuskan nafas lega saat Yeni tidak lagi membicarakan soal gosip tentang ia dan suaminya.
Mereka sudah sampai di toko yang di tuju. Yeni dan Lily sama-sama sedang sibuk memilih baju bayi. Yeni dengan senyum bahagia, sedangkan Lily dengan senyum miris.