
"Mas Bima udah bangun?!" Suara lembut yang aku kenal bertanya dari belakang. Adit tersenyum menyambut kedatangan Lily yang ternyata sudah siap dengan baju kerjanya.
"Kamu belum mandi mas?" tanya Lily saat melihat ku yang sedang duduk hanya memakai bokser.
"Mandi gih. Lily mau siapin sarapan dulu." Lalu beralih menatap Adit. "Mas Adit udah mandi?" Hei, kenapa nada suaranya melembut sama si kampret itu!
"Udah dong. Makasih udah perhatian." Cihh. Dasar!!
Aku segera berlalu dari hadapan mereka. Rasanya membuat moodku pagi ini makin berantakan. Apa sih ini, gagal kerjasama, Adit tahu soal aku, dan tadi... Apa itu! kenapa Lily sangat perhatian sama Adit?!
Hampir tiga puluh menit aku menikmati waktu mandiku. Segar rasanya. Kepalaku terasa ringan setelah terguyur air dingin.
Aku memakai kemejaku, dan celana kerja. Malas memang, tapi aku juga harus tetap pergi ke kantor.
Makanan sudah terhidang di atas meja. Nasi goreng dengan telur dadar, dan untuk aku telur ceplok setengah matang. Baunya enak sekali, tapi jujur aku malas satu meja dengan Adit disini.
"Kamu kebiasaan ya mas." Lily ke belakang tubuhku lalu mengambil handuk yang ada di pundakku, dan mulai mengeringkan rambutku yang masih basah. "Lihat kemeja kamu, basah kan! Kalau kamu masuk angin gimana?" ucap Lily dengan nada kesal masih mengelap rambut basahku dengan handuk. Aku tersenyum tipis dengan perlakuan Lily, dia hampir sama seperti Dena.
__ADS_1
"Cihh dia bukan anak kecil Ly." Adit berdecih tidak suka.
Lily kembali duduk setelah menyimpan handuk basah tadi di kursi yang lain. Kami mulai makan. Sesekali aku memandang kedua manusia di depanku ini. Rasanya menjengkelkan sekali. Kenapa Adit tidak pulang sih?
"Uhukk. Uhukk." Adit terbatuk. Mukanya memerah. Sesekali dia membuka mulutnya.
"Mas Adit kenapa?" tanya Lily dengan khawatir sambil membawakan minum untuk Adit dan di sambut Adit lalu meminumnya dengan kasar. Lily menepuk punggung belakang Adit dengan lembut. Dasar Adit MODUS!!
Muka Adit memerah. Mulutnya terbuka, satu tangannya mengipas-ngipasi pipinya.
"Mas Adit kenapa? Pedas ya?" Adit manggut-manggut lalu meraih air di dalam gelasku.
"Mas Bima tahu mas Adit gak suka pedas kok diem aja sih?! Lily kan gak tahu." protes Lily sambil melotot ke arahku.
What? Kok aku yang di salahkan? Lagian si Adit nih cemen banget, gak pedes juga. Dasar manja!
Acara makan selesai walaupun tidak terlalu berselera tapi aku bisa menghabiskannya juga, dengan rasa kesal sama Adit tentunya. Lily sangat perhatian sama Adit. Sebenarnya sejauh apa sih hubungan mereka sekarang? Lihat mereka bahkan mencuci piring dan tertawa bersama. Issshh!!
__ADS_1
Aku menunggu Lily di ruang tengah. Dia dan Adit berjalan melewatiku dengan santai,Lily sepertinya masih merasa bersalah karena Adit tahu kebenaran tentang kami, dia melewati ku sambil menunduk. Ya sudahlah. Udah ketahuan, ya mau bagaimana lagi?
"Mas Lily berangkat bareng mas Adit, ya. Jangan lupa nanti kalau berangkat semua pintu di kunci. Pintu gerbang juga soalnya pak Dani lagi pulang, anaknya sakit." ucapnya.
"Kok kamu gak telfon aku kalau pak Dani pulang. Terus yang jaga rumah ini siapa?" aku sedikit membentak.
"Ada satpam kompleks juga. Lily udah titipin buat beberapa hari." Lily berkata lirih masih menunduk.
"Gak usah bentak juga kali. Galak amat lo jadi suami!" bela Adit di depan Lily.
Aku mendengus kesal. Lily menunduk takut sepertinya karena melihatku marah. Sebenarnya bukan itu yang aku kesalkan. Aku menunggu dia disini karena aku akan ajak dia berangkat bersama, tapi sekarang dia malah akan berangkat sama Adit.
"Yuk, ah.." ku lihat Adit menarik tangan Lily.
"Tapi mas..."
"Udah ayo, biarin si Bima. Lebih baik kita berangkat. Keburu macet!" Lalu mereka berdua berlalu pergi keluar rumah.
__ADS_1
Bima pov end.
***