Istri Kedua Bima

Istri Kedua Bima
bab 239


__ADS_3

Bima segera membawa Lily ke rumah sakit. Yumna juga ikut kesana karena tidak mau jauh dari Lily.


Hampir satu jam di perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Segera mereka menuju meja resepsionis, dan mendaftarkan diri.


Mereka bertiga menunggu di deretan kursi. Tidak jauh dari sana terlihat ibu hamil bersama dengan suaminya. Perutnya sudah terlihat besar mungkin sekitar tujuh bulan. Bima juga melihat ke arah yang di tuju Lily. Bima semakin merasa bersalah, selama masa kehamilan Lily dirinya tidak pernah mendampingi.


Satu jam menunggu Lily di panggil ke salah satu ruangan. Linda, keponakan Hendra yang juga seorang dokter kandungan menyambut kedatangan keluarga kecil itu.


Linda meminta Lily berbaring di atas brankar. Dengan cekatan Linda memeriksa tekanan darah Lily, lalu memeriksa perutnya. Sedikit menekan di area bawah sana, lalu tersenyum. Kemudian mengambil jel dan mengusapnya di atas perut Lily setelah meminta ijin terlebih dahulu.


Bima dan Lily menahanan nafas saat Linda menggeserkan alat tersebut pada kulit perutnya. Linda kembali tersenyum melihat layar di depannya. Jantung Bima dan Lily sama berdetak dengan cepat.


Linda selesai memeriksa lalu duduk di kursinya.


"Bagaimana? Apa Lily hamil?" tanya Bima penasaran. Yumna menatap sang papa dan Linda bergantian.


"Selamat Mas Bima. Lily sedang mengandung dan sekarang kehamilannya berjalan lima minggu." Linda mengulurkan tangannya.


Bima menatap tidak percaya bergantian pada Linda dan Lily. Lily berjalan menghampiri suaminya dan duduk di depan Linda.


"Mas!" Lily menyenggol lengan Bima. Bima tersadar dari rasa tidak percayanya.


"Ini benar?!" Tanya Bima masih tidak percaya, tapi tangannya menyambut uluran tangan Linda.


"Awwwh." pekik Bima saat cubitan keras terasa panas di pipinya.


"Gak mimpi kan mas! Jadi ini benar!" ucap Lily. Linda terkikik melihat ekspresi terkejut dan bahagia Bima.

__ADS_1


"Yumna kamu mau jadi kakak, sayang!" teriak Bima pada Yumna kemudian menciumi kepala Yumna beberapa kali.


"Yuma jadi kakak? Jadi mama sama papa mau punya dedek bayi?" tanya Yumna. Bima, Lily dan Linda mengangguk senang. "Yeaaayy!!!" Yumna turun dari pangkuan Bima lalu melompat dan berjingkrak senang.


🎵"Yuma jadi kakak."🎵


🎵"Yuma jadi kakak."🎵 Yumna bernyanyi riang sambil menggoyangkan pinggulnya. Ketiga orang disana tersenyum melihat tingkah Yumna.


Selesai dari sana mereka langsung pulang. Mobil berjalan dengan pelan, membuat Lily merasa heran.


"Mas, kok pelan banget bawa mobilnya?" tanya Lily.


"Aku takut kamu kenapa-napa sayang!" ujar Bima membuat Lily menahan tawanya.


Sampai di rumah, Yumna lebih dulu berlari ke dalam untuk memberi tahu kabar bahagia tersebut pada Santi.


"Mas, kamu apa-apaan sih?" Lily menyingkirkan tangan Bima dari pinggangnya.


"Hati-hati sayang. Kamu gak boleh sembarangan melangkah!"


Ish apaan lagi ini mas Bima! Aku gak pa-pa juga!


"Mas! Aku gak pa-pa!" ucap Lily saat Bima lagi-lagi melingkarkan tangan di pinggangnya. "Aku ini hamil. Bukan stroke!" ucap Lily kesal, karena pergerakannya jadi terhambat akibat ulah lebay suaminya.


"Aku cuma gak mau kamu sama anak kita kenapa-napa. Tunggu disini aku buka kan pintu!" Bima sedikit berlari untuk membuka pintu. "Eits tunggu disitu." Bima melotot tangannya menunjuk ke arah Lily berdiri, saat Lily kembali akan melangkah. Lily memutar bola mata malas.


Ya ampun mas Bima ini...

__ADS_1


"Ayo kita masuk!" Bima kembali memapah Lily. Satu tangannya memegang tangan istrinya sedangkan satu tangan lagi memegangi pinggang Lily.


"Mas, aku ngerasa jadi nenek-nenek kalau kamu berbuat seperti ini sama aku."


"Aku cuma khawatir sayang!"


"Tapi khawatir kamu berlebihan!" Lily menghentakkan kakinya lalu berjalan dengan cepat meninggalkan suaminya di ambang pintu.


Dua detik Bima melongo di tempatnya lalu berlari menghampiri Lily.


"Sayang, kamu jangan cepat-cepat jalannya. Kasihan baby!"


"Ya ampun mas. Kamu lihat aku, aku ini sehat. Aku cuma hamil! Kalau cuma jalan saja aku gak perlu bantuan!" seru Lily semakin kesal dengan tingkah Bima.


"Kamu istirahat ke kamar ya sayang."


"Mas, aku mau..."


"Udah, kamu gak usah ngapa-ngapain. Biar aku aja. Kamu istirahat ke kamar. Oke?"


"Tapi aku..."


"Aku gak mau di bantah sayang. Kamu harus istirahat!" Bima menarik Lily ke dalam kamar, dan merebahkan Lily di atas kasur, melepas sepatu Lily dan menaikkan kakinya ke atas, lalu menyelimuti Lily hingga sebatas dada.


"Kamu mau apa? biar aku carikan! Kamu mau empek-empek dari Palembang? Rendang dari Padang? atau apel Malang? Asinan hemmmbb..." Lily menutup mulut Bima. Dia tidak ingin mendengar Bima menyebut satu persatu makanan dari setiap kota di seluruh negeri ini.


"Aku gak mau apa-apa. Aku cuma mau minum!" ucap Lily lalu melepaskan tangannya dari wajah Bima dan berlalu pergi meninggalkan suaminya.

__ADS_1


"Yang. Biar aku yang ambilkan!" Bima setengah berlari mengejar Lily yang sudah keluar dari kamar.


__ADS_2